Merayakan Intoleransi

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , , on Januari 17, 2012 by alamsyahdjafar

Penulis : Alamsyah M Dja’far*

“Genosida tak dimulai dengan oven, ia dimulai dengan kata-kata,” ungkap Simon Wiesenthal suatu ketika. Simon, korban selamat Holocoust, yang kemudian menghabiskan hidupnya melacak penjahat perang Nazi.

Lelaki kelahiran Buczacz, Ukraina, 31 Desember 1908 ini berhasil menyeret lebih dari 1.000 penjahat perang Nazi ke pengadilan. Ia sendiri pernah menjadi tawanan di Kamp Mauthausen dan dibebaskan Mei 1945. Puluhan anggota keluarganya, termasuk ibu, ayah tiri, dan saudara tirinya meninggal dalam Holocoust.

Baca selebihnya »

Pancasila dan Islamisasi Regulasi

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , on Januari 3, 2012 by alamsyahdjafar

Alamsyah M. Dja’far *

Apa yang mengemuka dalam diskusi dan bedah buku “Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam” di Megawati Institute, Agustus silam menarik dicermati. Sekali lagi ini mengulang debat penting ihwal relasi agama-negara di Indonesia. Dalam diskusi, Sekretaris Majelis Syuro Front Pembela Islam (FPI) Muhsin Alatas yang menjadi salah seorang pembicara menegaskan, Pancasila dan UUD 1945 tak boleh dikultuskan. Karena produk manusia, Pancasila bahkan bisa ditinggalkan jika tak lagi relevan. Meski demikian diakuinya pula, Pancasila karya besar pendiri republik yang tetap relevan.

Baca selebihnya »

Penyesatan Keyakinan di Media

Posted in Artikel dengan kaitan (tags) , , , , , , on Januari 3, 2012 by alamsyahdjafar

Alamsyah M. Dja’far

“Masalah agama itu terlalu kompleks dan kontroversial ,” tulis Stewart M Hoover dalam Religion in the News: Faith and Journalism in American Public Discourse, tiga belas tahun silam.

Dalam karya berisi kajian dan analisisnya mengenai liputan-liputan agama di media massa di Amerika berikut respon para pembaca terhadap liputan tersebut, Hoover juga menyebut empat kesulitan lain. Pertama, tren sekularisasi yang membuat liputan agama di media-media massa susut. Kedua, agama seringkali dianggap urusan pribadi (private). Ketiga, perkara agama juga sering berada di luar wilayah data empiris. Keempat, prinsip pemisahan agama-negara di Amerika mendesak agama agar selalu dipisahkan dari kehidupan publik masyarakatnya.

Baca selebihnya »

MC Abdullah

Posted in Kisah dengan kaitan (tags) , , , , on Januari 3, 2012 by alamsyahdjafar

“Assalaamual’aikummmhhh Warrahmaatullaaaahih wabarakaaatuh…,” Lelaki Ceking itu melempar salam ke ratusan penonton yang berjubal-jubal hingga ke belakang panggung. Suaranya berat seperti tertahan, tapi berusaha menjaga intonasi. Senyumnya terus dikulum tak dilepas-lepas sejak ia duduk pada sebuah kursi lipat warna merah yang diletakan di bibir panggung.

Baca selebihnya »

Membela Umat

Posted in Artikel dengan kaitan (tags) , , , , , , on Januari 3, 2012 by alamsyahdjafar
Oleh Alamsyah M Dja’farTragedi Sape, Bima, dan Mesuji, Lampung, baru-baru ini sungguh mengoyak-ngoyak nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas kita. Kekerasan struktural yang mempertontonkan seolah-olah nyawa manusia tak ubahnya ayam potong itu semestinya menjadikan agamawan pihak yang paling tertohok. Bukankah sering didakwahkan, agama sumber nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas? “Satu nyawa dibunuh sama artinya membunuh manusia di seantero bumi”. Begitu doktrin Islam dalam SQ Al Maidah:32.

Baca selebihnya »

Cerita Menulis Lelaki Laut

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , , on November 11, 2011 by alamsyahdjafar

Alamsyah M. Dja’far

Novel setebal 194 halaman ini sengaja saya tulis untuk merekam ingatan dan kenangan tentang tokoh utamnya: Ahmad Jarkasyi. Apa yang tersaji di dalamnya diinspirasi oleh perjalanan hidup lelaki yang akrab dipanggil Bang Jar itu. Ia kakak lelaki saya. Karena serangan jantung akibat kelelahan menyelesaikan tugas kuliah, ia mati muda. Usianya baru 33 tahun. Meninggalkan seorang isteri dan dua anak yang masih kecil. Jarkasyi meninggal 30 oktober 2009. Saya mengirimkan naskah novel ini ke penerbit pada 9 Mei 2009. Selama rentang itu saya menulis.

Baca selebihnya »

Islam dan Ruang Publik

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , , , on November 11, 2011 by alamsyahdjafar

Oleh Alamsyah M Dja’far

Suatu ketika di sebuah media online lokal, saya baca pernyataan seorang pejabat pemerintah di Kepulauan Seribu –kampung halaman saya. Intinya menghimbau warga pulau pemilik penginapan menyediakan perlengkapan ibadah. Sang pejabat lalu merujuk dan mencontohkan mukena, sajadah, dan kain sarung bersih. Selain meningkatkan kualitas layanan, penyediaan perlengkapan ibadah ini menurutnya sekaligus sebagai cara halus mengingatkan para wisatawan muslim agar tak lupa beribadah meski sedang berwisata.

Baca selebihnya »

Memimpikan Pulau Seribu Masa Depan; Secuil Pengalaman*

Posted in Artikel dengan kaitan (tags) , , , , , on Agustus 3, 2011 by alamsyahdjafar

Alamsyah M. Dja’far**

Saya memang tak lagi menetap di Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Sejak lulus kuliah delapan tahun silam, saya tinggal di “darat”. Tapi, saat lebaran dan saat-saat libur panjang, saya masih sering pulang kampung. Tradisi ini masih saya lakukan hingga sekarang. Orang Pulau mungkin akan mengatakan saya sudah sudah jadi “orang kota”. Orang opulau menyebut demikian untuk lawan kata “orang pulau” –istilah yang sepertinya kurang tepat, sebab “kota” lawannya “desa”. Yang unik, mereka yang tinggal di sebuah desa di pulau Jawa ini, misalnya, kadang-kadang masih saja dibilang “orang kota”.

Baca selebihnya »

Wak Uyun

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , , on Juni 7, 2011 by alamsyahdjafar

Seorang kawan di Pulau pernah bercerita. Sekitar awal tahun 2010, sebut saja Wak Uyun, salah seorang warga Pulau Tidung yang tak setuju dengan aktivitas wisata. Saat itu tren wisata di pulau seluas 50-an hektar ini belum seramai sekarang ini yang setiap minggunya bisa dikunjungi rata-rata 2000 orang.
Baca selebihnya »

Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , , , , on Juni 7, 2011 by alamsyahdjafar
Ini yang saya kagumi dari Gus Dur. “Ia orang yang pandai menyenangkan kawan,” kenangnya.

 

Dua puluh tahunan silam.

“Gus, saya keluar dari Depag!”
“Kenapa?”
“Di sana saya dimusuhi banyak orang. Saat ulang tahun Kompas ke-40, saya dan Kunto ngomong jika Pancasila ideologi terbuka. Lalu saya ditegur. Lama-lama, kelihatannya mereka tak suka. Jadi, saya harus keluar. Harus!” Kunto, maksudnya budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia asal Bantul Yogyakarta, Kuntowijoyo.
“Sampeyan berarti satu di antara sekian juta orang Indonesia yang sudah gila”
“Gila?”
“Ya. Di republik ini tanda-tanda orang gila itu kalau orang keluar dari pegawai negeri dan tentara”

Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.