Memangkas Rantai Kekerasan atas Nama Agama

Alamsyah M Dja’far* | Sabtu, 16 Maret 2013 – 11:38:28 WIB

Kekerasan atas nama agama—semestinya selalu dipandang sebagai yang tak berwajah tunggal.

Omongan Mary McCarthy ada benarnya. “Dalam kekerasan, kita lupa siapa kita,” kata novelis perempuan Amerika ini. Jika ajaran dasar setiap agama dan keyakinan melarang, mengapa kekerasan justru dilakukan, bahkan dengan simbol-simbol keagamaan?

Jika ia identik dengan kebodohan, mengapa justru dilakukan oleh orang-orang terdidik dan terpelajar? Mungkin itu, dalam kekerasan kita memang betul-betul lupa siapa kita sesungguhnya. Kekerasan tak kenal latar belakang agama, pendidikan, etnis, dan lain-lain.

Continue reading “Memangkas Rantai Kekerasan atas Nama Agama”

The Wahid Insitute Nilai Bupati Bekasi Sengaja Langgar Hak Beragama

Jurnas.com | THE Wahid Institut menyatakan keprihatinannya atas pembongkaran gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Setu, Kabupaten Bekasi oleh pemerintah Kabupaten Bekasi.

“Pertama-tama kami menyatakan rasa prihatin yang mendalam atas dibongkarnya gereja HKBP di Setu. Pada malam Kamis, sebelum esok harinya di bongkar, mba Yeni Wahid sebagai direktur The Wahid Institute mengeluarkan sikap dengan tegas menyatakan jangan bongkar gereja HKBP Setu, karena itu jelas melanggar hak beragama,” kata peneliti The Wahid Institute, Alamsyah M. Djafar, saat konferensi pers di Wisma PGI, Jl. Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/3).

Continue reading “The Wahid Insitute Nilai Bupati Bekasi Sengaja Langgar Hak Beragama”

Misbahul Wathan

Misbahul Wathan, yang berarti Pelita Tanah Air, merupakan madrasah yang didirikan mantan ketua PBNU (1950-1954) dan Menteri Agama sejak Kabinet Hatta, KH. Masjkur, tahun 1923 di Singosari, Malang, Jawa Timur.

Mula-mula, sekolah ini hanya menerima beberapa siswa laki-laki.  Saat itu belajar bersama antara laki-laki dan perempuan bukan pemandangan lazim. Bau sekitar tahuna 1933an, siswa perempuan dibolehkan belajar bersama dengan laki-laki, dengan pemisah selembar papan, yang dikenal dengan nama satir.

Continue reading “Misbahul Wathan”

Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)

Lemahnya  penegakan hukum yang dilakukan Pemerintah terhadap pelaku radikalisme dan teririsme di tanah air, menjadikan aksi kekerasan ini merajalela. Ditambah kontrol sosial yang longgar menjadikan radikalisme dan terorisme tumbuh subur. Pengamat sosial keagamaan, Zuhairi Misrawi menyampaikan hal ini dalam seminar nasional Bertajuk “Menata Keragaman Keagamaan-Respon Terhadap Konflik Bernuansa Keagamaan di Indonesia,” bertempat di Convention Hall Kampus UIN Sunan Kalijaga, Rabu, 12 September kemarin.  Kegiatan ini dalam rangka mensyukuri kelahiran ke 61 tahun UIN Sunan Kalijaga.

Continue reading “Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)”

Book on protection of Vulnerable groups

The book Vulnerable Groups: Kajian & Mekanisme Perlindungannya was published  in September 2012

vulnerable_coverAs the title partially suggests, the book is written in Indonesian language. It covers the following vulnerable groups: children, women, disabled people, migrant workers, traditional communities (masyarakat adat, sometimes translated as indigenous people) as well as groups constituting a minority based on grounds of ethnicity, language, religion or belief, or others grounds (including, but not limited to, diseases and sexual orientation).

Melanjutkan Gagasan Kebudayaan Gus Dur (Mengenang 1000 Hari Gus Dur)

Oleh Alamsyah M. Dja’far*

Gus Dur memang pergi sejak 1000 hari lalu. Namun gema pikiran dan sejarah perjuangannya jelas masih terdengar kencang. Kisah keberaniannya memperjuangkan demokrasi dan toleransi menempel di dinding-dinding media jejaring sosial, diulas media-media umum, diomongkan di warung-warung kopi dan forum-forum diskusi. Perayaan 1000 hari meninggalnya presiden ke-4 itu bertebaran di sejumlah daerah. Digelar denan dengan beragam cara oleh orang-orang dari beragam agama dan keyakinan.

Continue reading “Melanjutkan Gagasan Kebudayaan Gus Dur (Mengenang 1000 Hari Gus Dur)”

RUU Ormas Ancam Kemerdekaan Beragama

Tak hanya kebebebasan berserikat dan berorganisasi, jaminan kebebasan beragama di Tanah Air juga bakal terancam jika RUU Ormas disahkan.

Jakarta-wahidinstitute.org. Tak hanya kebebebasan berserikat dan berorganisasi, jaminan kebebasan beragama di Tanah Air juga bakal terancam jika RUU Ormas disahkan. RUU di antaranya melarang organisasi, berbadan hukum maupun tidak, menerima sumbangan berupa uang, barang, ataupun jasa dari pihak mana pun tanpa mencantumkan identitas yang jelas.

Larangan ini dinilai mengancam organisasi-organisasi sosial keagamaan yang selama ini biasa menerima donasi tanpa identitas jelas seperti yang dilakukan di masjid atau gereja-gereja. “Di masjid tak boleh ada lagi sumbangan dengan menyebut ‘dari Hamba Allah’,” terang Alamsyah M. Dja’far peneliti The Wahid Institute (WI) dalam Siaran Pers Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) di  Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Senin (18/2).

Continue reading “RUU Ormas Ancam Kemerdekaan Beragama”