Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!

Einar_sitompul_gusdurian_jakartaJika Soeharto melihat Pancasila sebagai ideologi terutup, pada Gus Dur justru menjadi ideologi terbuka, pemikiran yang lestrasi, dan akan berguna membangun Indonesia. Gusdur melihat Pancasila dalam dimensi etis, sebagai nilai-niali kemaslahatan bersama

Wahidinstitute.org. Einar terperanjat sesaat ketika ditelpon seseorang. “Pak Einar Calon kita!,” kata suara di ujung telpon. Yang Einar tahu, calon Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sudah ditentukan sebelumnya. Dan itu bukan dia.

“Mengapa bisa saya?” tanya Einar

“Kau disebut Gus Dur dalam pidato. Kau harus datang ke forum,” jawab penelpon.

Einar lalu mengerti. Kepada penelpon, ia mengatakan. Karena rapat gereja sudah menominasikan calon, ia akan datang ke forum dan bersedia maju jika pimpinan Eporus setuju dan bersedia mengganti calonnya. Tak lama pimpinan eporus datang. Tapi tetap memilih calon awal dan tak ganti pilihan.

Continue reading “Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!”

RUU Ormas Ancam Kemerdekaan Beragama

Tak hanya kebebebasan berserikat dan berorganisasi, jaminan kebebasan beragama di Tanah Air juga bakal terancam jika RUU Ormas disahkan.

Jakarta-wahidinstitute.org. Tak hanya kebebebasan berserikat dan berorganisasi, jaminan kebebasan beragama di Tanah Air juga bakal terancam jika RUU Ormas disahkan. RUU di antaranya melarang organisasi, berbadan hukum maupun tidak, menerima sumbangan berupa uang, barang, ataupun jasa dari pihak mana pun tanpa mencantumkan identitas yang jelas.

Larangan ini dinilai mengancam organisasi-organisasi sosial keagamaan yang selama ini biasa menerima donasi tanpa identitas jelas seperti yang dilakukan di masjid atau gereja-gereja. “Di masjid tak boleh ada lagi sumbangan dengan menyebut ‘dari Hamba Allah’,” terang Alamsyah M. Dja’far peneliti The Wahid Institute (WI) dalam Siaran Pers Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) di  Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Senin (18/2).

Continue reading “RUU Ormas Ancam Kemerdekaan Beragama”

Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan

Ini yang saya kagumi dari Gus Dur. “Ia orang yang pandai menyenangkan kawan,” kenangnya.

 

Dua puluh tahunan silam.

“Gus, saya keluar dari Depag!”
“Kenapa?”
“Di sana saya dimusuhi banyak orang. Saat ulang tahun Kompas ke-40, saya dan Kunto ngomong jika Pancasila ideologi terbuka. Lalu saya ditegur. Lama-lama, kelihatannya mereka tak suka. Jadi, saya harus keluar. Harus!” Kunto, maksudnya budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia asal Bantul Yogyakarta, Kuntowijoyo.
“Sampeyan berarti satu di antara sekian juta orang Indonesia yang sudah gila”
“Gila?”
“Ya. Di republik ini tanda-tanda orang gila itu kalau orang keluar dari pegawai negeri dan tentara”

Continue reading “Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan”

Antara Penafsiran dan Penodaan

Oleh Alamsyah M Djafar*

HARUS segera ditandaskan di sini, judul di atas diletakan dalam konteks relasi negara-warga negara, bukan di luar itu. Karenanya boleh saja lembaga keagamaan tertentu, Majelis Ulama Indonesia umpamanya, memvonis seseorang atau kelompok tertentu sesat lantaran menafsirkan sesuatu yang berbeda dari mainstream. Sejauh tak terbukti melakukan tindakan menebar kebencian, pandangan MUI itu justru mendapat perlindungan negara sebagai jaminan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan atau kebebasan berekspresi setiap warganya. Tapi MUI tak bisa menggunakan tangan negara menghukum mereka yang dinilai sesat tadi. Negara tak dapat campur tangan di ranah ini. Mengapa? Berikut alasannya.

Continue reading “Antara Penafsiran dan Penodaan”

Merangkul Keragaman Bersama komunitas antar-Iman Jerman

Gus Dur berhasil menunjukkan pada dunia bahwa Islam Indonesia bisa dijadikan model bagi pola keberagamaan dunia

The Wahid Institute menerima kunjungan beberapa tokoh agama dan aktivis dari komunitas Evangelis Jerman, Kamis Siang (28/01). Kunjungan ke kantor WI ini merupakan salah satu rangkaian acara visiting-study mereka di Indonesia selam dua minggu. Mereka yang datang itu adalah Vanessa J. Vob Gliszczynski (Desk-Office Political Office dari kedutaan Jerman), Paul Oppenheim (Evangelische Kirche in Duetchland), Simon Sinn (Evangelisch-Theologische Fakultat), Dieter Bartsch (Priest in GPJ),  Bishop Martin (Evangelische Kirche Spokesman in Duetchland), dan Kentz (peneliti asal Jerman).

Continue reading “Merangkul Keragaman Bersama komunitas antar-Iman Jerman”