Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!

Einar_sitompul_gusdurian_jakartaJika Soeharto melihat Pancasila sebagai ideologi terutup, pada Gus Dur justru menjadi ideologi terbuka, pemikiran yang lestrasi, dan akan berguna membangun Indonesia. Gusdur melihat Pancasila dalam dimensi etis, sebagai nilai-niali kemaslahatan bersama

Wahidinstitute.org. Einar terperanjat sesaat ketika ditelpon seseorang. “Pak Einar Calon kita!,” kata suara di ujung telpon. Yang Einar tahu, calon Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sudah ditentukan sebelumnya. Dan itu bukan dia.

“Mengapa bisa saya?” tanya Einar

“Kau disebut Gus Dur dalam pidato. Kau harus datang ke forum,” jawab penelpon.

Einar lalu mengerti. Kepada penelpon, ia mengatakan. Karena rapat gereja sudah menominasikan calon, ia akan datang ke forum dan bersedia maju jika pimpinan Eporus setuju dan bersedia mengganti calonnya. Tak lama pimpinan eporus datang. Tapi tetap memilih calon awal dan tak ganti pilihan.

Continue reading “Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!”

Problematika peran FKUB dalam kerukunan beragama di Indonesia: Perspektif konstitusi dan HAM

Problematika peran FKUB dalam kerukunan beragama di Indonesia: Perspektif konstitusi dan HAM*

Oleh Alamsyah M. Dja’far**

Prinsip dan jaminan perlindungan kemerdekaan beragama memiliki pijakan yang kokoh dalam konstitusi Indonesia. Sebut saja Pasal 28E ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) di antaranya berisi penegasan kebebasan memeluk agama dan menyatakan pendapat, Pasal 28I ayat (1) dan ayat (2), di antarnya memberi jaminan mengenai hak hidup, hak tidak disiksa, hak kemerdekan pikiran, hak beragama, dan bebas dari tindakan diskriminati, atau Pasal 29 ayat (1) dan (2) yang menegaskan prinsip negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa dan kebebasan memeluk serta menjalankan agama dan keyakinannya.[1]

Continue reading “Problematika peran FKUB dalam kerukunan beragama di Indonesia: Perspektif konstitusi dan HAM”

Sekali Lagi Soal Islam dan Pancasila

Sekali Lagi Soal Islam dan Pancasila *

 Oleh Alamsyah M. Dja’far

 Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tak peduli apakah dia dikebiri angkatan bersenjata atau dimanipulasi umat Islam, disalahgunakan oleh keduanya.

(KH. Abdurrahman Wahid, 1992)[1]

Continue reading “Sekali Lagi Soal Islam dan Pancasila”

Pancasila dan Islamisasi Regulasi

Alamsyah M. Dja’far *

Apa yang mengemuka dalam diskusi dan bedah buku “Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam” di Megawati Institute, Agustus silam menarik dicermati. Sekali lagi ini mengulang debat penting ihwal relasi agama-negara di Indonesia. Dalam diskusi, Sekretaris Majelis Syuro Front Pembela Islam (FPI) Muhsin Alatas yang menjadi salah seorang pembicara menegaskan, Pancasila dan UUD 1945 tak boleh dikultuskan. Karena produk manusia, Pancasila bahkan bisa ditinggalkan jika tak lagi relevan. Meski demikian diakuinya pula, Pancasila karya besar pendiri republik yang tetap relevan.

Continue reading “Pancasila dan Islamisasi Regulasi”

Pancasila, Pesantren, dan Sejumlah Tantangannya

Alamsyah M. Dja’far

Tak habis pikir, mengapa “orang-orang terdidik” itu seperti mati akal ketika berhadapan dengan iming-iming sorga dan agama? Mau-maunya disuruh tutup mata dengan kain warna gelap, berpindah negara dari Indonesia ke negara Islam, mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah, hingga meninggalkan kuliah. Mereka yang mengaku “korban” gerakan Negara Islam Indonesia (NII) bukanlah orang awam. Umumnya berasal dari perguruan tinggi dari jurusan-jurusan umum yang mengedepankan rasionalitas alias akal pikiran. Meski mengaku awam agama, tidakkah mereka memiliki akal pikiran, rasionalitas, untuk menyatakan baik buruknya ajakan itu. Saya jadi ingat hadis Nabi yang populer itu, al-dîn `aqlun lâ dîna liman la `aqla lah. Terjemah bebasnya, “agama itu rasional. Bukanlah orang beragama orang yang tak bisa menggunakan akal secara optimal.

Continue reading “Pancasila, Pesantren, dan Sejumlah Tantangannya”