Meraba Konflik Umat Beragama

Meraba Konflik Umat Beragama*

Oleh Alamsyah M. Dja’far**

“Membicarakan agama, bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi juga cukup nyali.” Jacques Waardenburg

 Konflik memang tak sama dengan kekerasan. Tapi dari konflik yang tak terkelola, kekerasan bermula. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) elektronik, konflik diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, pertentangan. Konflik sosial maknanya, pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan.[1] Sementara kekerasan perihal yang bersifat, berciri keras; perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Kekerasan juga bisa bermakna paksaan.[2]

Continue reading “Meraba Konflik Umat Beragama”

Iklan

Minoritas dalam Ancaman

Oleh Alamsyah M. Dja’far*

Ada banyak fakta untuk mengatakan kelompok minoritas di negeri ini benar-benar berada dalam ancaman serius. Pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik, perusakan dan pembakaran beberapa gereja di Temanggung awal Februari lalu, adalah dua di antaranya. Hingga saat ini komunitas Ahmadiyah yang selalu jadi korban kekerasan, terus diburu di banyak tempat dan justru dianggap sebagai pelaku sekaligus pusat masalah.

Continue reading “Minoritas dalam Ancaman”

Minoritas dalam Ancaman

Oleh Alamsyah M. Dja’far*

Ada banyak fakta untuk mengatakan kelompok minoritas di negeri ini benar-benar berada dalam ancaman serius. Pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik, perusakan dan pembakaran beberapa gereja di Temanggung awal Februari lalu, adalah dua di antaranya. Hingga saat ini komunitas Ahmadiyah yang selalu jadi korban kekerasan, terus diburu di banyak tempat dan justru dianggap sebagai pelaku sekaligus pusat masalah.

Continue reading “Minoritas dalam Ancaman”

Pluralisme

Sebagai gerakan agaknya pluralisme masih akan menghadapi tantangan yang tak enteng di tahun mendatang. Seperti tahun lalu, fatwa ulama masih akan dipakai masyakarat untuk menyelesaikan kasus kebergamaan yang dianggap aneh, apalagi sesat. Kasus terbaru, Lia “Eden” Aminudin. Entah dengan kasus “sholat bersiul” ala Pak Tua yang terjadi baru-baru ini. Semoga ia tak mengalami nasib serupa.

 

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan keinginan ulama mengeluarkan fatwa atau rekomendasi (taushiyyah). Yang bermasalah justru lebih pada tak jelasnya batasan di mana peran dan wewenang ulama (agama) dan negara (hukum). Selama ini oleh masyarakat fatwa bisa dijadikan sebagai fakta hukum untuk memvonis seseorang atau sekelompok orang dengan pasal karet: menodai, menghina agama, atau meresahkan. Kadang atas dugaan itu pula, aparat keamanan dan pengadilan menghukumi mereka. Padahal, sesat tidaknya seseorang tak bisa dijadikan fakta hukum. Yang bisa adalah ketika seseorang atau sekelompok orang terkait perkara pidana: mengancam keselamatan orang, melakukan tindak kekerasan, melakukan kebohongan publik, mengambil paksa hak orang lain, membunuh, mencuri dan seterusnya.

 

Continue reading “Pluralisme”