Meraba Konflik Umat Beragama

Meraba Konflik Umat Beragama*

Oleh Alamsyah M. Dja’far**

“Membicarakan agama, bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi juga cukup nyali.” Jacques Waardenburg

 Konflik memang tak sama dengan kekerasan. Tapi dari konflik yang tak terkelola, kekerasan bermula. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) elektronik, konflik diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, pertentangan. Konflik sosial maknanya, pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan.[1] Sementara kekerasan perihal yang bersifat, berciri keras; perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Kekerasan juga bisa bermakna paksaan.[2]

Continue reading “Meraba Konflik Umat Beragama”

Iklan

Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)

Lemahnya  penegakan hukum yang dilakukan Pemerintah terhadap pelaku radikalisme dan teririsme di tanah air, menjadikan aksi kekerasan ini merajalela. Ditambah kontrol sosial yang longgar menjadikan radikalisme dan terorisme tumbuh subur. Pengamat sosial keagamaan, Zuhairi Misrawi menyampaikan hal ini dalam seminar nasional Bertajuk “Menata Keragaman Keagamaan-Respon Terhadap Konflik Bernuansa Keagamaan di Indonesia,” bertempat di Convention Hall Kampus UIN Sunan Kalijaga, Rabu, 12 September kemarin.  Kegiatan ini dalam rangka mensyukuri kelahiran ke 61 tahun UIN Sunan Kalijaga.

Continue reading “Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)”