Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!

Einar_sitompul_gusdurian_jakartaJika Soeharto melihat Pancasila sebagai ideologi terutup, pada Gus Dur justru menjadi ideologi terbuka, pemikiran yang lestrasi, dan akan berguna membangun Indonesia. Gusdur melihat Pancasila dalam dimensi etis, sebagai nilai-niali kemaslahatan bersama

Wahidinstitute.org. Einar terperanjat sesaat ketika ditelpon seseorang. “Pak Einar Calon kita!,” kata suara di ujung telpon. Yang Einar tahu, calon Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sudah ditentukan sebelumnya. Dan itu bukan dia.

“Mengapa bisa saya?” tanya Einar

“Kau disebut Gus Dur dalam pidato. Kau harus datang ke forum,” jawab penelpon.

Einar lalu mengerti. Kepada penelpon, ia mengatakan. Karena rapat gereja sudah menominasikan calon, ia akan datang ke forum dan bersedia maju jika pimpinan Eporus setuju dan bersedia mengganti calonnya. Tak lama pimpinan eporus datang. Tapi tetap memilih calon awal dan tak ganti pilihan.

Continue reading “Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar!”

Iklan

Melanjutkan Gagasan Kebudayaan Gus Dur (Mengenang 1000 Hari Gus Dur)

Oleh Alamsyah M. Dja’far*

Gus Dur memang pergi sejak 1000 hari lalu. Namun gema pikiran dan sejarah perjuangannya jelas masih terdengar kencang. Kisah keberaniannya memperjuangkan demokrasi dan toleransi menempel di dinding-dinding media jejaring sosial, diulas media-media umum, diomongkan di warung-warung kopi dan forum-forum diskusi. Perayaan 1000 hari meninggalnya presiden ke-4 itu bertebaran di sejumlah daerah. Digelar denan dengan beragam cara oleh orang-orang dari beragam agama dan keyakinan.

Continue reading “Melanjutkan Gagasan Kebudayaan Gus Dur (Mengenang 1000 Hari Gus Dur)”

Manusia Multi Dimensi Membaca Karya-Karya KH. Abdurrahman Wahid

Alamsyah M. Dja’far

Mengamati sepak terjang dan ragam pikiran KH. Abdurrahman Wahid sepertinya akan membawa kita pada sebuah kesimpulan: Gus Dur, manusia multidimensi. Pernyataan ini mengingatkan kita pada sebuah karya berpengaruh filsup Jerman-Yahudi anggota Frankfurt School, Herbert Marcuse: One-Dimensional Man.

Sebagai manusia era modern, Gus Dur berhasil membuktikan dirinya melintasi jebakan modernitas sebagaimana penggambaran kritis tokoh berpengaruh dalam gerakan Kiri Baru di buku yang terbit pada 1964 itu. Salah satu kritik Marcuse terhadap era yang disebut advanced industrial society ini adalah bahwa ia menghadirkan kebutuhan-kebutuhan palsu yang mengintegrasikan individu-individu ke dalam sistem produksi dan konsumsi melalui media massa, iklan, manajemen industri, dan mode pemikiran kontemporer.

Continue reading “Manusia Multi Dimensi Membaca Karya-Karya KH. Abdurrahman Wahid”

Membela Umat

Oleh Alamsyah M Dja’farTragedi Sape, Bima, dan Mesuji, Lampung, baru-baru ini sungguh mengoyak-ngoyak nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas kita. Kekerasan struktural yang mempertontonkan seolah-olah nyawa manusia tak ubahnya ayam potong itu semestinya menjadikan agamawan pihak yang paling tertohok. Bukankah sering didakwahkan, agama sumber nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas? “Satu nyawa dibunuh sama artinya membunuh manusia di seantero bumi”. Begitu doktrin Islam dalam SQ Al Maidah:32.

Continue reading “Membela Umat”

Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan

Ini yang saya kagumi dari Gus Dur. “Ia orang yang pandai menyenangkan kawan,” kenangnya.

 

Dua puluh tahunan silam.

“Gus, saya keluar dari Depag!”
“Kenapa?”
“Di sana saya dimusuhi banyak orang. Saat ulang tahun Kompas ke-40, saya dan Kunto ngomong jika Pancasila ideologi terbuka. Lalu saya ditegur. Lama-lama, kelihatannya mereka tak suka. Jadi, saya harus keluar. Harus!” Kunto, maksudnya budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia asal Bantul Yogyakarta, Kuntowijoyo.
“Sampeyan berarti satu di antara sekian juta orang Indonesia yang sudah gila”
“Gila?”
“Ya. Di republik ini tanda-tanda orang gila itu kalau orang keluar dari pegawai negeri dan tentara”

Continue reading “Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan”

Pancasila, Pesantren, dan Sejumlah Tantangannya

Alamsyah M. Dja’far

Tak habis pikir, mengapa “orang-orang terdidik” itu seperti mati akal ketika berhadapan dengan iming-iming sorga dan agama? Mau-maunya disuruh tutup mata dengan kain warna gelap, berpindah negara dari Indonesia ke negara Islam, mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah, hingga meninggalkan kuliah. Mereka yang mengaku “korban” gerakan Negara Islam Indonesia (NII) bukanlah orang awam. Umumnya berasal dari perguruan tinggi dari jurusan-jurusan umum yang mengedepankan rasionalitas alias akal pikiran. Meski mengaku awam agama, tidakkah mereka memiliki akal pikiran, rasionalitas, untuk menyatakan baik buruknya ajakan itu. Saya jadi ingat hadis Nabi yang populer itu, al-dîn `aqlun lâ dîna liman la `aqla lah. Terjemah bebasnya, “agama itu rasional. Bukanlah orang beragama orang yang tak bisa menggunakan akal secara optimal.

Continue reading “Pancasila, Pesantren, dan Sejumlah Tantangannya”

Bukber & Diskusi “Bersama” Gus Dur

Oleh : Alamsyah M. Dja’far

Diskusi itu dimulai sekitar 15 menit sebelum beduk Magrib dalam suasana santai. Kami bertujuh mengambil ruangan seluas 2X4 meter yang disekat pembatas dari bambu. Modelnya lesehan. Ruangan ini diisi meja berbalut warna cokelat setinggi 40 centimeter yang memanjang ke samping, yang di letakan dibagian tengah. Di atas meja sudah tersedia kendi-kendi berisi air putih, lengkap dengan gelas kaca kecil seperti yang biasa dipakai untuk minum air jahe atau jeruk nipis para penjual jamu. Beberapa kelompok lain berjumlah sekitar 5-10 orang sudah lebih dulu meriung di ruang utama dan beberapa ruangan, persis di samping ruangan kami. Mereka kebanyakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Continue reading “Bukber & Diskusi “Bersama” Gus Dur”