Menjelajah Tiga Pulau di Utara Jakarta

Alamsyah M. Dja’far

pulau tidung
Pulau Tidung. Sumber birotravelpulautidung.com

Ditemani gerimis Sabtu siang akhir Januari lalu, kapal cepat Kerapu yang saya tumpangi membelah laut menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Cuaca tak cukup bersahabat. Keluar dari mulut pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, gelombang setinggi setengah meter sudah menghadang kapal berpenumpang 20 orang milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta ini. Tubuh kamipun dibanting-banting. Tiap kali kapal dihajar gelombang, sebagian besar penumpang berteriak kegirangan. Kebanyakan mereka wisatawan asal Jakarta yang akan berlibur di Pulang Tidung.“Hajar terus bang!” teriak salah seorang dari mereka pada nahkoda yang terus tancap gas. Sang Nahkoda berkacamata hitam itu senyum-senyum terprovokasi.

Continue reading “Menjelajah Tiga Pulau di Utara Jakarta”

Menghidupkan Kata*

Menghidupkan Kata*

Alamsyah M. Dja’far**

Terus terang dunia sastra dunia yang betul-betul baru saya nikmati sejak beberapa tahun belakangan, terutama setelah menulis novel perdana saya pada 2010: Lelaki Laut. Saya sadar melahirkan karya sastra yang baik tak mudah. Butuh keuletan, kepekaan bahasa, kejelian membaca kenyataan sosial, keluasan bacaan, dan permenungan mendalam. Makanya saya menaruh hormat pada mereka-mereka yang mampu menyuguhkan keindahan bahasa dan kedalaman maknanya lewat kata. Mereka “tangan tuhan” yang menjawil hati manusia.

Continue reading “Menghidupkan Kata*”

Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan

Ini yang saya kagumi dari Gus Dur. “Ia orang yang pandai menyenangkan kawan,” kenangnya.

 

Dua puluh tahunan silam.

“Gus, saya keluar dari Depag!”
“Kenapa?”
“Di sana saya dimusuhi banyak orang. Saat ulang tahun Kompas ke-40, saya dan Kunto ngomong jika Pancasila ideologi terbuka. Lalu saya ditegur. Lama-lama, kelihatannya mereka tak suka. Jadi, saya harus keluar. Harus!” Kunto, maksudnya budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia asal Bantul Yogyakarta, Kuntowijoyo.
“Sampeyan berarti satu di antara sekian juta orang Indonesia yang sudah gila”
“Gila?”
“Ya. Di republik ini tanda-tanda orang gila itu kalau orang keluar dari pegawai negeri dan tentara”

Continue reading “Gus Dur Orang yang Pandai Menyenangkan Kawan”

Jembatan Cinta Tidung yang Babak Belur

Sudah sejak setahun belakangan, Jembatan Cinta Pulau Tidung Kepulauan Seribu “babak belur”.  Kondisinya kini makin memprihatinkan. Meski masih bisa dilalui pejalan yang melintas dari dan menuju Pulau Tidung kecil, sebagian kayu jembatan yang didominasi batang pohon kelapa keropos di sana-sini. Dua saung tempat biasa wisatawan melepas lelah, roboh.

Continue reading “Jembatan Cinta Tidung yang Babak Belur”

Haji Dja’far Arsy, “Ajimat” Pulau Tidung [Bagian Satu]

Panglima Hitam, Sultan Banten, dan Pulau Tidung

Alamsyah M. Dja’far

Di pertemuan terakhir kami, suatu malam menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun lalu, tepatnya 9 September 2010, usianya sudah 80 tahun. Kondisi tubuhnya tampak makin lemah dan sering sakit-sakitan digerogoti usia. Pendengarannya juga sudah sedikit berkurang. Namun, ingatannya tak bisa dibilang tumpul. Dalam obrolan santai kami malam itu di teras rumah salah seorang kemenakannya di Pulau Tidung yang diselingi suara takbiran dari pengeras suara masjid, jelas sekali ia masih mengingat baik waktu dan peristiwa penting dalam babak-babak sejarah hidupnya. Mendengar banyak kisah yang diceritakan, lelaki yang punya hobi musik gambus ini sungguh sumber sejarah penting melihat denyut perubahan di pulau seluas 50-an hektar ini, sejak era pendudukan Belanda hingga era dimana Pulau Tidung jadi tujuan wisata terfavorit di Jakarta. Bagi saya, ia “ajimat” Pulau seluas 50 hektar yang kini dihuni 4000 jiwa itu yang masih tersisa.

Nama lengkapnya Muhammad Dja’far Arsy. Orang Pulau Tidung biasa memanggilnya Haji Dja’far Arsy. Gelar haji yang disandang Dja’far Arsy disematkan usai menunaikan rukun kelima itu tahun 1987. “Ongkos haji saat itu Rp 5.7 juta,” kenangnya.

Continue reading “Haji Dja’far Arsy, “Ajimat” Pulau Tidung [Bagian Satu]”

Pernyataan Sikap Gerakan Peduli Jembatan Cinta Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Merespon kondisi Jembatan Cinta, jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar – Pulau Tidung Kecil—yang kian memprihatikan dan sudah menelan korban luka-luka, sebagian masyarakat di Pulau Tidung saat ini menginisiasi dan mulai melakukan kegiatan perbaikan ikon wisata Pulau Tidung itu lewat pengumpulan dana secara swadaya. Bagi sebagian masyarakat, pembiaran atas kondisi Jembatan Cinta dinilai bisa berdampak pada kunjungan wisatawan, dan ujungnya pada kesejahteraan masyarakat di Pulau Tidung. Dari hasil musyawarah bersama para pemangku kepentingan wisata (jasa travel, pemilik homestay, kapal tradisional, dan lain-lain) awal minggu lalu, donasi tersebut ditargetkan bisa mencapai Rp. 20 Juta Rupiah dari total anggaran sebesar Rp. 70-an juta –anggaran tersebut kemungkinan berubah berdasarkan pengecekan terakhir.

Continue reading “Pernyataan Sikap Gerakan Peduli Jembatan Cinta Pulau Tidung Kepulauan Seribu”

Wow, Kapal Ojek Dilengkapi Perpustakaan

Bagi penumpang kapal angkut tradisional Kepulauan Seribu (Ojek) rute Pulau Tidung-Muara Angke kini tak perlu jenuh saat perjalanan laut. Pasalnya, kapal penyeberangan masyarakat ini kini dilengkapi fasilitas perpustakaan sederhana dengan buku-buku berkualitas tentunya.

Continue reading “Wow, Kapal Ojek Dilengkapi Perpustakaan”