Menjelajah Tiga Pulau di Utara Jakarta

Alamsyah M. Dja’far

pulau tidung
Pulau Tidung. Sumber birotravelpulautidung.com

Ditemani gerimis Sabtu siang akhir Januari lalu, kapal cepat Kerapu yang saya tumpangi membelah laut menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Cuaca tak cukup bersahabat. Keluar dari mulut pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, gelombang setinggi setengah meter sudah menghadang kapal berpenumpang 20 orang milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta ini. Tubuh kamipun dibanting-banting. Tiap kali kapal dihajar gelombang, sebagian besar penumpang berteriak kegirangan. Kebanyakan mereka wisatawan asal Jakarta yang akan berlibur di Pulang Tidung.“Hajar terus bang!” teriak salah seorang dari mereka pada nahkoda yang terus tancap gas. Sang Nahkoda berkacamata hitam itu senyum-senyum terprovokasi.

Sebelum menyandar di pelabuhan Pulau Tidung, kapal bertarif Rp. 33 ribu per orang ini pertama kali transit di Pulau Untung Jawa. Pulau ini ditempuh sekitar 20 menit dari pelabuhan Muara Angke. Bertetangga dengan Pulau Rambut dan Onrust, Untung Jawa dihuni 2000-an jiwa. Luasnya 40-an hektar.

Sebelum pulau Tidung menjadi destinasi wisata primadona di Kepulauan Seribu, pulau ini sudah dicanangkan pemerintah setempat sebagai wisata andalan pemukiman sejak 2003. Setiap minggunya, Untung Jawa dikunjungi ratusan wisata asal Tangerang dan Jakarta. Ke sini biasanya mereka menikmati pantai, hutan mangrove di sebelah barat pulau, olahraga air seperti banana boat atau kano, juga makanan laut seperti ikan, kepiting, atau rajungan.

Wisatawan juga biasa menghabiskan masa wisata ke pulau ini dengan mengunjungi pulau-pulau terdekat seperti Kunjungan ke Cagar budaya Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Rambut yang merupakan pulau konservasi burung dunia, Pulau Kelor untuk melihat benteng peninggalan Belanda. Selain dari Pelbuhan Muara Angke, Untung Jawa bisa diakses melalui pelabuhan Tanjung Pasir, Tangerang. Biaya relatif murah. Hanya Rp 10 ribu per orang. Jarak tempuh, sekitar 20 menit.

Lepas dari Untung Jawa, Pulau Kedua dalam lintasan kapal ini adalah Pulau Lancang. Pulau seluas 15-an hektar ini juga salah satu pulau berpenduduk yang tengah berbenah untuk aktivis wisata. Salah satu yang sering dikunjungi wisatawan Jembatan Pelangi, jembatan terbuat dari papan kayu sepanjang 50-an meter. Jembatan itu dipeluk rerimbunan hutan bakau. Baru-baru ini, dibuka juga wisata mancing di kolam besar yang berisi beragam jenis ikan seperti kakap dan bandeng. Pulau berenduduk 1400-an jiwa ini dikenal dengan hasil laut berupa ikan teri dan rajungan.

Dari Pulau Lancang, Kerapu melanjutkan perjalanannya ke tujuan terakhir: Pulau Tidung. Dari Lancang Kerapu butuh sekitar 20-an lagi untuk tiba di pulau terluas se-Kepulauan Seribu ini. Selain dari Pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara, jalur menuju dari dan menuju pulau Tidung tersedia pula di Muara Angke, Jakarta Utara, dan Rawasaban, Tangerang dengan jenis angkutan kapal tradisional berkapasitas 60-90 penumpang. Di Muara Angke, jam keberangkatan pukul 07.00 pagi sedang Rawasaban pukul 10.00 WIB. Kapal cepat bertarif di atas Rp. 100 ribu juga ada di Muara Angke dan Marina Ancol yang berangkat pukul 08.00 pagi.

***

Minggu Pagi, 22 Januari. Ratusan wisatawan menyebar menghabiskan pagi menikmati matahari terbit di Tanjongan Timur. Begitu masyarakat menyebut lokasi favorit di ujung timur pulau seluas 50-an hektar ini. Ada yang mengabadikan gambar di Jembatan cinta dengan latar pulau Tidung Kecil, Payung atau Karang Beras. Ada yang bermain di pasir putih di bagian selatan dan utara. Dari kejauhan saya lihat sebagian lagi menikmati pasir Pulau Tidung kecil.

Di pulau ini, lokasi yang paling banyak diminati wisatawan yang datang adalah Jembatan Cinta. Jembatan sejauh 700-an kilometer yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil itu ikon pariwisata pulau ini.
Jembatan itu membelah laguna, daerah laut dalam berwarna biru, yang memisahkan “duo Tidung” itu. Di bagian laut dangkal di sisi kiri dan kanan jembatan, wisatawan bisa dengan jelas melihat dasar berpasir putih, ikan, dan padang lamun. Menjelang sunrise dan sunset, pemandangan di tempat ini amat eksotis dengan latar pulau-pulau terdekat.

Dari mulut dermaga yang menempel di ujung timur Pulau Tidung Besar, Jembatan Cinta dimulai dengan undak-undak ke atas disambung lengkungan lengkungan kayu lalu menurun dan mendatar hingga ujung satunya menyentuh pantai Pulau Tidung Kecil. Dari atas jembatan melengkung itulah, para wisatawan biasa memacu adrenalinnya dengan cara melompat ke laut biru.

Sementara itu, tak jauh dari pantai berpasir putih di bagian selatan dan utara Tanjongan Timor dihias saung-saung, tempat bercengkarama dan menikmati pemandangan. Jika cuaca sedang tenang, di sebelah selatan garis pulau Jawa terlihat jelas.

Tanjongan menyediakan sejumlah fasilitas olahraga air. Ada banana boat dan kano yang harga sewanya dipatok Rp. 35 ribu. Ada pula jetski. “Jetski kami lebih dari lima buah,” kata Mukti Ali, pemilik Tidung Banana yang menyewakan jestki dan banana yang saya temui pagi itu. Sayangnya, sepagi itu olahraga air di lokasi ini belum dibuka.
Di lokasi ini didirikan pusat jajanan yang menjual rupa makanan dan minuman seperti es kelapa muda, makanan laut, dan makanan ringan lainnya. Di belakang pusat jajanan berdiri mushalla dan kamar bilas. Tak jauh dari situ, di bagian selatan ada lahan parkir sepeda.

Untuk sampai ke Tanjongan Timur, biasanya para wisatawan bersepeda ria. Sepeda itu disewa seharga Rp. 15 ribu-Rp. 17 ribu perhari. Sayangnya sepanjang pantai menuju Tanjongan sering berhias pemandangan sampah kiriman asal Jakarta dan sekitarnya. Beberapa lahan tak jauh dari tempat ini juga terlihat kerontang.
***

Dalam dua tahun terakhir, pulau yang masuk Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan ini tumbuh pesat sebagai destinasi wisata berpenduduk paling diminati. Dari yang tadinya berjumlah puluhan, pengunjung yang datang ke pulau ini melesat hingga ribuan orang pada Sabtu-Minggu dan momen-momen libur panjang. “Tahun baru, wisatawan yang dateng sekitar 5000 orang. Lebih dari 2000 orang ndak bisa datang karena cuaca dan dilarang nyebrang,” kata Hirmawan, pengelola penyedia jasa Island Adventure.

Akhir Februari 2010, program Metro 10 yang ditayangkan stasiun Metro TV Minggu malam menempatkan pulau ini di urutan pertama 10 tempat terunik di wilayah Jakarta. Sembilan tempat terunik lainnya, Setu Babakan, Jakarta Selatan, Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat, Pasar Kue Subuh Senen, Jakarta Pusat, Angkringan Fatmawati, Jakarta Selatan, Theater 4D Ancol, Jakarta Utara, Salihara Pasar Minggu Jakarta Selatan, Taman Suropati, Jakarta Pusat, dan Stasiun Tanjungpriok, Jakarta Utara.

Di pulau yang dihuni 99,9 persen ini sebetulnya tak hanya lokasi Tanjongan Timor saja yang menarik dikunjungi. Suasana di wilayah ujung barat pulau juga menawan. Saat melintas di bagian selatan menuju Tanjongan Barat, begitu orang pulau memanggil, wisatawan disiguhi pemandangan berupa deretan saung-saung di bibir pantai. Di lokasi yang disebut Saung Bus itu, para wisatawan bisa leha-lehe sambil menikmati kelapa muda.

Sebelum sampai lokasi, wisatawan akan melewati taman mangrove tak jauh dari sekolah Madrasah Tsanawiyah. Berada di bibir pantai bagian utara, taman mangrove ini merupakan hasil kerja kreatif salah seorang guru bernama Bahroni dibantu siswa-siswi sekolah tersebut. Sering juga kegiatan ini bekerjasama dengan para wisatawan yang punya kepedulian terhadap penyelematan dan pelestarian lingkungan.

Bagi para pencinta kuliner, Tidung juga menyajikan pusat-pusat kuliner yang menyediakan makanan laut, makanan khas pulau, atau makanan dan minuman ringan. Di antaranya, Waroeng Tidoeng yang berlokasi tak jauh dari pelabuhan utama. Selain menyediakan makanan dan minuman yang umum dijumpai di Jakarta, warung dengan konsep khas berupa bangunan berbahan bambu beratap jerami itu menyediakan Krupuk Cue, Apem Moher, Janda Mengandang, atau Pastel Ikan, yang menjadi makanan khas pulau.

Tak jauh dari Waroeng Tidoeng terdapat juga penjual rupa-rupa souvenir seperti kaos dan pernak-pernik berbahan hewan laut dan penjual krupuk ikan mentah dan kripik sukun. Wisatawan juga bisa langsung menemukan kuliner itu di penjual keliling yang ada.

Aktivitas “wajib” saat berlibur ke Tidung tentu saja senam dangkal (snorkeling). Kegiatan ini bisa dilakukan di seputar Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil, atau di pulau-pulau terdekat seperti Pulau Payung, Air, dan Semak Daun. Diantar kapal tradisional berukuran kecil, mereka biasa melakukannya selepas zuhur dan kembali sore untuk mengejar suasana sunset di Jembatan Cinta. Bagi yang tak bisa berenang, tak perlu khawatir. Sebab dengan bantuan pelampung, snorkel, dan kaki katak mereka masih menikmati keindahan alam bawah laut. Apalagi didampingi para pemandu wisata.

Seiring dengan pertumbuhan wisata, penduduk pulau ini telah memiliki ratusan penginapan, mulai di tempat-tempat favorit seperti pinggir pantai dan pelabuhan, hingga ke bagian barat atau timur pulau. Harganya sewa, mulai Rp. 150 ribu hingga Rp. 500 ribu tergantung luas dan strategisnya lokasi penginapan. Saat wisatawan membludak, tak sedikit rumah penduduk yang dimanfaatkan untuk penginapan.
Bagi yang tak mau ribet dengan urusan tetek bengek acara berlibur, mereka bisa mempercayakannya kepada penyedia paket wisata yang sebagian besar juga dikelola orang-orang pulau. Paket biasanya terdiri dari biaya penginapan, makan, guide, dan fasilitas lain seperti sepeda, sewa alat snorkeling, dan snorkeling ke pulau-pulau terdekat. Tarifnya bervariasi, dari Rp. 250 ribu hingga Rp. 600 ribu rupiah perorang untuk paket dua hari satu malam.

Matahari mulai naik sepenggala dan saya sudah harus siap-siap kembali ke Jakarta. Menggunakan sepeda motor saya tinggalkan Tanjongan Timor menuju barat. Jauh sebelum pulau ini dibanjiri wisatawan, tempat ini bagi saya memendam banyak kenangan.

Tulisan pernah dimuat edisi perdana Voiceplus 2012

2 thoughts on “Menjelajah Tiga Pulau di Utara Jakarta

  1. Pulau Tidung ku kini dibanjiri pengunjung, meskipun cuaca sedang mendung.
    Disatu sisi menaiki ekonomi penduduk, disisi lain banyak timbul dampak buruk.
    Pembangunan semakin sesak, keadaan alam pun bisa rusak.
    Masyarakat dan wisatawan harus junjung tinggi rasa tanggungjawab, agar pariwisata terus berkelanjutan dan terawat.

  2. Andi. Betul. Saat pulau ini mulai merangkak jadi primadona, bayangan dampak kerusakan sudah terpampang, besar maupun kecil. Sebelumnya, kerusakan akibat manusia juga terjadi. Yang perlu didorong memang gerakan massif menekan kerusakan. Ini PR besar masyarakat pulau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s