Melanjutkan Gagasan Kebudayaan Gus Dur (Mengenang 1000 Hari Gus Dur)

Oleh Alamsyah M. Dja’far*

Gus Dur memang pergi sejak 1000 hari lalu. Namun gema pikiran dan sejarah perjuangannya jelas masih terdengar kencang. Kisah keberaniannya memperjuangkan demokrasi dan toleransi menempel di dinding-dinding media jejaring sosial, diulas media-media umum, diomongkan di warung-warung kopi dan forum-forum diskusi. Perayaan 1000 hari meninggalnya presiden ke-4 itu bertebaran di sejumlah daerah. Digelar denan dengan beragam cara oleh orang-orang dari beragam agama dan keyakinan.

Apa yang membuat Gus Dur masih “hidup”? Tak lain lantaran pikiran dan perjuangannya adalah pesan sejarah dan pantulan harapan publik yang relevan dengan tantangan yang tengah dihadapi sekarang ini. Hanya dengan alasan itu, beragam gagasan dan perjuangannya patut diperdalam dan diteruskan. Salah satunya ihwal kebudayaan.

Dalam pandangan mantan Ketua Umum PBNU ini, kebudayaan tak ubahnya darah untuk perubahan ideal masyarakat. Dengan begitu ia seyogyanya dikembangkan demi merespon dan menjawab berbagai tantangan kehidupan manusia di segala dimensinya.

Pembiaran kekerasan dan intoleransi terhadap minoritas, kasat matanya eksploitasi sumber daya alam, akutnya praktik korupsi hingga level terbawah di negeri ini, jika merujuk pandangan ini jelas berhubungan dengan kebudayaan. Tapi, apakah masalah-masalah pelik itu bisa dianggap hasil kultur masyarakat atau bahkan bentuk kepribadian bangsa? “Bukan,” katanya.

Yang terjadi, menurut Gus Dur, justru karena tak adanya kesadaran dan aksi yang sungguh-sungguh dari masyarakat mengatasi problem tersebut. Fenomena itu bekerja di luar kontrol masyarakat. Pada saat yang sama -melalui bentukan sistem akultural yang dibuat– tak tampak keberanian dan kemerdekaan dalam mempersoalkan fenomena yang jelas-jelas berseberangan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan ini.

Ada dua pijakan penting melihat posisi Gus Dur dan kebudayaan ini. Pertama, kebudayaan harus dilihat sebagai sesuatu yang luas dan mencakup inti-inti kehidupan. Kebudayaan tak lain kehidupan sosial manusiawi (human social life) itu sendiri. “Kebudayaan adalah seni hidup itu sendiri (the art of living) yang mengatur kelangsungan hidup yang menghasilkan pilar-pilar untuk menjaga tatanan sosial. Hanya dalam arti itu tradisi dan adat istiadat menjadi nilai yang pantas dipertahankan.”

Gus Dur mencontohkan. Jika makan kebutuhan alam, maka seluruh jenis usaha memenuhi kebutuhan dasar manusiawi dan sistem sosial yang lahir dari sana adalah kebudayaan. Maka seluruh perangkat ekonomi juga dipandangnya sebagai kebudayaan. Begitupun pula ranah kehidupan manusia lainya. Maka kritik atas kekuasaan negara dan pemerintah dipandang sebagai aksi kebudayaan pula.

Kedua,kebudayaan bukanlah benda mati yang dapat bisa diwariskan. “Kebudayaan hanya menjadi kebudayaan kalau ia hidup dan mengacu kehidupan”. Sikap ini berseberangan dengan cara pandang negara atau sebagian kalangan yang mengganggap kebudayaan tak ubahnya souvenir dari masyarakat lokal tertentu yang bisa dipertontonkan dan diperjualbelikan dalam event-eventpariwisata. Imajinasi kebudayaan maka lebih sering disederhanakan dengan gambaran Taman Mini dimana Indonesia dipersonifikasi dengan ciri-ciri etnis atau baju adat tertentu.

Karena kebudayaan dapat berubah – dan sebaliknya dapat pula dipertahankan– maka ia memberi kemungkinan baru diarahkan untuk menopang kehidupan masyarakat yang lebih baik dan ideal. Dengan kesadaran semacam itu kebudayaan sepatutnya tak bisa merasa “menang sendiri”, eksklusif, dan kedap perubahan. Jika terjadi, saat itu pula kebudayaan “almarhum”.

Pendiriannya semacam ini segendang sepenarian dengan gagasan Gus Dur mengenai bentuk-bentuk kebudayaan. Misalnya, sastra Islam dan pribumisasi Islam. Pertama-pertama yang ditegaskan dari sastra Islam adalah bahwa ia bagian dari peradaban Islam yang pada dasarnya eklektis yang menyerap dari mana saja. Gus Dur lalu mencontohkan profil Imam Abu Hanifah yang selain ahli fikih juga seorang arsitek. Abu Hanifah sempat menjadi pemborong pembuatan pagar kota Baghdad. Saat membuat lengkung gapura (arcade)  mengambil arsitektur dari Asia Tengah, bukan Arab. Begitupun dengan Abu Amrin Ibu Alla ahli qiraat yang juga musikolog. Ia mengambil musik India dalam ciptaan musiknya. Dengan menyuguhkan fakta-fakta itu, sastra dan peradaban Islam itu sesungguhnya bersifat universal pula.

Ide pribumisasi yang digagas Gus Dur juga menarik. Dengan tegas dikatakan, “pribumisasi Islam bukanlah jawanisasi atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri”. Contohnya atap berlapis pada masjid Demak yang diambil dari konsep “Meru” dari masa pra-Isla (Hindu-Budha), terdiri sembilan susun.  Sunan Kalijaga memotongnya jadi tiga, melambangkan iman, islam, ihsan. Belakangan masjid-masjid di Indonesia lebih banyak menggunakan model kubah seiring proses arabisasi . Dengan semangat pribumisasi, kedua proses itu harusnya dianggap sama saja.

Pikiran dan gagasan-gagasan semacam di atas jelas masih kontekstual dengan situasi kontemporer yang kita hadapi. Kebudayaan bangsa ini masih terus digerus komersialisasi, indivualisasi, penyeragaman, bahkan dengan jalan kekerasan. Gus Dur memang “pergi” hampir dua tahun silam. Namun karena pikiran dan perjuangannya adalah pesan sejarah dan pantulan harapan publik, Gus Dur sesungguhnya “hidup”. “Orang berilmu hidup abadi dalam kematian meski jasadnya hancur dipendam tanah” (akhu al-`ilmi hayyun khalidun ba’da mautihi, wa aushaluhu tahta turabi ramim), begitu bunyi salah satu syair dalam Ta’lim Muta’allimyang jadi bacaan wajib pesantren-pesantren NU.

*Penulis peneliti the Wahid Institute Jakarta dan anggota Jaringan Gusdurian Jakarta

Sumber : wahidinstitute.org | Rabu, 3 Oktober 2012 07:20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s