Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)

Lemahnya  penegakan hukum yang dilakukan Pemerintah terhadap pelaku radikalisme dan teririsme di tanah air, menjadikan aksi kekerasan ini merajalela. Ditambah kontrol sosial yang longgar menjadikan radikalisme dan terorisme tumbuh subur. Pengamat sosial keagamaan, Zuhairi Misrawi menyampaikan hal ini dalam seminar nasional Bertajuk “Menata Keragaman Keagamaan-Respon Terhadap Konflik Bernuansa Keagamaan di Indonesia,” bertempat di Convention Hall Kampus UIN Sunan Kalijaga, Rabu, 12 September kemarin.  Kegiatan ini dalam rangka mensyukuri kelahiran ke 61 tahun UIN Sunan Kalijaga.

Selain Zuhairi Misrawi, seminar juga menghadirkan nara sumber antara lain : Noorhaidi Hasan (Pakar Radikalisme dan Terorisme – Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga), I Ketut Widya (Tokoh Hindu), Martin Lukito Sinaga DTh (Tokoh Kristen), Alamsyah M. Djafar (Peneliti), Rizal Panggabean (Dosen UGM), dengan moderator Moh. Sodik (Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga).

Dalam pengamatan Zuhairi Misrawi, makin bermunculannya sejumlah kasus kekerasan di tanah air disebabkan banyak faktor. Mulai dari minimnya pemahaman nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan sampai rendahnya akses ekonomi. Kondisi ini mempermudah terjadinya gesekan dan friksi-friksi di masyarakat. Di  sisi lain, demikian Zuhairi Misrawi, penanganan aksi kekerasan yang dilakukan pemerintah sangat lemah. Sehingga pelaku radikalisme dan terorisme merasa aksinya bisa leluasa. Masyarakat mudah bergejolak, sementara pemerintah dan oknum partai sering mempolitisasi terorisme. Harusnya pemerintah, penegak hukum  dan para tokoh agama-agama, duduk bersama untuk menetapkan sikap yang adil, jujur dan bijak, tidak sekedar mengedepankan pencitraan, yang membuat masyarakat semakin tidak puas.

Hal senada disampaikan Noorhaidi Hasan, yang mengatakan, sejak reformasi aksi terorisme justru menjadi-jadi.  Kebebasan yang berlebihan telah menjadikan hak-hak warga sipil banyak yang terampas. Tidak jarang sejumlah oknum menggunakan kebenaran atas nama agama guna melancarkan aksinya. Menurut Noorhaidi Hasan, untuk meminimalisir kasus konflik, aksi kekerasan,  radikalisme  sampai pada gerakan  terorisme yang mengatasnamakan kebenaran agama,   harus ditingkatkan pemahaman nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan. Tak kalah penting, meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia secara adil dan merata.

Sementara, Alamsyah M. Dja’far mengungkapkan, kelompok minoritas  paling rentan mengalami tindak intoleransi dan kekerasan. Minoritas bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga minoritas dari relasi kedekatan dengan penguasa. Hal ini perlu disadari oleh para penguasa di  negri ini. Di sisi lain, Solusi untuk mencegah tindakan intoleransi dan kekerasan, melalui strategi pendidikan sudah sangat mendesak dilakukan. Lembaga pendidikan, baik formal maupun informal harus didesain untuk bisa mencetak  generasi yang toleran.  Karenanya, perbaikan kurikulum dan pengembangan kapasitas semua guru agama, jelas, menjadi agenda mendesak juga. Alamsyah menambahkan, pengembangan pendidikan alternatif yang mengajarkan semangat toleransi dan perdamaian di lembaga pesantren, biara, seminari atau komunitas tertentu lainnya, juga perlu dilakukan, sehinmgga kasus intoleransi bisa diatasi sejak dini melalui pendidikan.

I Ketut Widya menambahkan, sesungguhnya keberagaman agama merupakan berkah paling besar bagi Indonesia yang tak dimiliki negara-negara lain. Seharusnya menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang unik. Apalagi tradisi perayaan hari besar semua agama di Indonesia selalu dirayakan oleh bangsa ini, dirajud dengan perpaduan budaya nusantara nan elok, ini membuktikan keunikan tersebut.  Hal ini hendaknya menggugah seluruh kalangan di negri ini untuk terus mencari solusi yang bijak, adil dan obyektif agar pluralisme agama-agama yang sering memicu konflik sosial, bahkan kekerasan, radikalisme dan terorisme, justru bisa menjadi kekayakan  yang patut disyukuri dan dikembangkan.  (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).

Sumber: http://www.uin-suka.ac.id/berita/dberita/634 | Kamis, 13 September 2012 11:15 WIB

2 thoughts on “Dari Seminar Menata Keragaman Keagamaan -Mensyukuri Kelahiran Ke 61 UIN Sunan Kalijaga (Penegakan Hukum Lemah, Radikalisme-Terorisme Marak)

    1. Kalau pertanyaan itu, jawabannya tentu tidak selalu demikian. Hanya pernyataan di atas harus dilihat sebagai respons atas keragaman dan keberbedaan kita sebagai bangsa dari beragam suku, agama, dan etnis. Ini sunnatullah, keputusan tuhan. Dan kalau bisa dikelola dengan baik, justru unik, saling melengkapi, dan memperkuat bukan memperlemah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s