MC Abdullah

“Assalaamual’aikummmhhh Warrahmaatullaaaahih wabarakaaatuh…,” Lelaki Ceking itu melempar salam ke ratusan penonton yang berjubal-jubal hingga ke belakang panggung. Suaranya berat seperti tertahan, tapi berusaha menjaga intonasi. Senyumnya terus dikulum tak dilepas-lepas sejak ia duduk pada sebuah kursi lipat warna merah yang diletakan di bibir panggung.

Kurang puas. “Khurangg khomphakk!!! Sekali lagi…. assalaamual’aikummmhhh Warrahmaatullaaaahih wabarakaaatuh…” Jika salam pertama hanya separuh penonton yang menjawab, kini hampir semua penonton. Aku yang berdiri menyandar ke dinding rumah tempat resepsi pernikah digelar, jelas sekali mendengar sebagian orang yang ada di dalam juga ikut menjawab salam.

Innallah al-witru, yuhibu al-witra, Allah itu ghanjill dan shenanggg dengannn yang ghanjill. Jadi, sekali lagiiii…. assalaamual’aikummmhhh Warrahmaatullaaaahih wabarakaaatuh…,” penontonpun menjawab kompak mencipatakan gemuruh di langit dan pelan-pelan hilang dibawa angin. Aku lihat Wak Mirah pedagang es sirop kali ini bersemangat menjawab salam sembari melayani pembeli, memukul mukul batu es lalu memasukannya ke plastik. Dua salam sebelumnya tak ia jawab. Cuek saja dan asyik dengan pekerjaanya.

Lelaki Ceking tampak puas. Puas sekali. Merasa berhasil menghidupkan suasana dan membuat mata penonton hanya tertuju padanya. Untung saja tak ada yang teriak-teriak histeris, menangis sesenggukan, minta tanda tangan, atau sekedar bisa diterima bersalaman dari bawah panggung. Seperti sebelumnya, senyum Lelaki Ceking tetap dikulum.

 

Penampilan Lelaki Ceking malam ini juga mengesankan. Rambutnya klimis, berminyak, mengkilap-kilap diterpa lampo neon. Aku duga ia menggunakan minyak urang-aring dalam kemasan botol silinder bergelombang bergambar perempuan berambut panjang. Kalau tidak, mungkin minyak rambut Lavender dalam kaleng silinder berwarna merah muda di tepiannya. Meski angin yang bergerak dari pantai sebelah utara lumayan kuat, rambut itu bergeming. Mengesankan! Jangan-jangan itu sudah diperhitungkannnya dengan cermat supaya tak merusak penampilan.

Lelaki Ceking bercelak mata, berkemeja putih dibalut jas hitam tanpa lengan. Celannya berwarna senada berbentuk cutbray. Sepatunya juga hitam mengkilat berujung lancip. Ia lebih mirip pegawai kafe atau restoran yang tengah membawa baki berisi minuman yang dipesan.

“Apha kabaaarrrr, semuanyahh?” tak lama mik yang dipegangnya disorongkan ke muka panggung.

“Bae!!!!!!” teriak penonton. Langit kembali bergemuruh.

“Yang di pojok shanaa!!!” mik itu disorongkan ke pojok kiri.

“Alhamdullillah…sehaaatttt……!!!!!” bergemuruh lagi.

“Sekarang yang di sini” Lelaki Ceking berjalan ke arah pojok kanan panggung. “Bagaimana?”

“Waras…sehaaatttt……!!!!!”

“Therimaa khasihh”

Gerakan Lelaki Ceking tampak sangat terencana, cermat, dan terarah seperti sudah melakukan gladi resik 30 kali saja.

“Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu Watala yang mana dengan karunia-Nyalah kita bisa berkumpul lagi di sini dalam hiburan bersamaaa kamiiii…. Grup Orkes Dangdut … Harapan Jaya Grup….”

Penonton bertepuk tangan.

“Shalawat serta salam marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Sallallahualaihi Wassalam, juga untuk para sahabatnya, sekaligusnya kita umatnya. Pertama sekali kami inginnn menghucapkan selamatttt untuk pasangan Bang Hamidun-Mbok Maemunah yang hari ini melangsungkan pernikahan. Semoga langgeng sampai kakek-nenek. Amin, amin, ya rabbal alamin. Saranh kamihh untuk kedua mempelai: Cukuppp dua anak sajahhh!” penonton tertawa

Setelah itu Lelaki Ceking langsung saja nyerocos menyebut satu persatu orang-orang yang dianggap penting disebut. Dari Lurah Pulau Tidung, RW dan RT setempat, dan beberapa orang berduit di sana, juga anak-anak nelayan muroami yang biasa meramaikan orkes dangdut, terutama mereka yang royal menyawer.

Sejujurnya aku ingin dia berhenti bicara saat itu juga dan acara langsung menampilkan tiga biduanita yang duduk manis berjejer di kursi lipat warna merah itu. Jika boleh usul, yang tampil pertama kali biduanita berkulit putih, bergincu merah, berambut sebahu, berbaju merah, bersepatu merah hak tinggi itu. Ia mengenakan celananya pendek di atas lutut. Setelah itu biduanita bergincu hitam, berbaju hitam, bersepatu warna hitam, bercelana ketat, berkulit gelap. Terakhir, baru perempuan bergaun putih, bergincu tipis.

Tapi lelaki ceking itu penguasanya malam ini. Di tangannya, jalan acara orkes dangdut ditentukan. Siapa biduanita yang maju pertama kali, kapan pemain mesti istirahat, kapan lagu dibuat berpanjang-panjang, diulang-ulang, mesti dipercepat, dan setelah itu ditutup. Semua itu harus bernilai seni. Dia itu MC! Master of ceremony! Bapaknya acara!

“Sebelumnyahh, dengan gembirahh perlu kami perkenalkan personil Harapan Jaya Grup yang akan menghibur anda malam inih. Aris pada gitar, Wawan pada melodi, Rahman pada bass, Darmawan pada keyboard, Jayadi pada suling, Muntaha pada gendang. Dan anda akan dihibur oleh tiga biduanita yang cantik-cantik bersuara emas. Siapa merekaaaa…?”

Penonton di depan panggung kalap, merangsek ke depan, bertubrukan dengan mereka yang yang ada di shaf paling depan. Penonton bertepuk tangan, sebagian bersiul-siul keras. Swiiittt..switttt..

“Misssss Anaaaa!!!! Biduanita bergincu hitam, berbaju hitam, dan bersepatu warna hitam berdiri, melambaikan tangan dengan senyum yang merekah.

“Misssss Ria….!!!! Biduanita bergaun putih bergincu tipis berdiri, melakukan serupa

“Satu lagi, biduanita kita asal Jakarta…. Misss Niaaa…” giliran biduanita bergincu merah, berambut sebahu, berbaju merah, bersepatu merah hak tinggi berdiri. Sambutan penonton jauh lebih meriah.

“Mbok, besok maen ke rumah saya. Ada oleh-oleh Krupuk Cuwe,” celetuk salah seoarang penonton.

Miss Ana dan Miss Ria aku kenal. Keduanya asal Pulau tetangga. Tapi, Miss Nia aku tak kenal. Sepertinya asal Jakarta dan dipersiapkan sebagai bintang utama malam itu.

“dannn sayaaa sendiri sebagai pembawa acara, Abdullah…” sambutan penonton menurun drastis.

Di mana-mana, acara utama memang disajikan kalau tak di tengah acara ya di akhir. Aku menyimpulkannya dari tayangan tinju kelas berat yang biasa kutonton dengan teman-teman sekolah di kantor kelurahan. Di awal, selalu saja ditampilkan petinju-petinju yang kurang terkenal. Baru setelah itu, setelah penontong jengkel, petinju terkenal yang ditayangkan. Di kelurahan kami tak harus bayar uang saweran biaya cash aki atau air aki. Pak Lurah yang menanggung.

Aku tak tahu, apakah Bang Abdullah belajar tekhnik itu dari tayangan tinju yang biasa diputar hari minggu itu. Maka sebagai lagu pembuka dia sendiri yang membawakan. Dan sebetulnya aku kecewa. Kukira sebagian penonton itu.

Mereka yang berjoget di depan panggung tak banyak. Sebagian masih berdiri di beberapa meter dari depan panggung. Sebagian lagi di sebelah panggung. Aku lihat malah ada yang duduk melantai sambil menghisap rokok atau minum es.

Suara Bang Abdullah memang tak jelek-jelek amat. Pastilah ia punya bakat dasar. Karena itu berani menjadi MC. Tapi, yang membuat konsentrasiku terganggu, suaranya tak jelas, seringkali timbul tenggelam diterpa angin dan deru mesin disel pengalir arus listrik di samping panggung. Saat nada meninggi, terutama di bagian refrain, wajah Bang Abdullah mendongak-dongak ke atas persis orang akan kelelep. Mungkin nadanya terlalu tinggi dan vokal suaranya tak cukup mengejar. Iba sekali. Dan saat membuat cengkok dalam nada-nada tertentu, jakunnya turun naik. Entah apa maksudnya. Mungkin agar cengkok terdengar lebih indah dan berseni. Tapi yang perlu diapresiasi, ia membawakannya dengan penuh kepercayaan diri dan penghayatan. Gayanya mengesankan seolah-olah suaranya sungguh merdu dan penonton akan senang menikmati. Sering kali ku lihat matanya merem-melek.

Lagu “Sekuntum Mawar Merah” yang dibawakannya akhirnya selesai. Aku gembira. “Setelah ini pastilah Bang Abdullah akan mengundang salah satu dari tiga biduanita itu unjuk kebolehan,” pikirku. Tapi, aku tak berani menebak-nebak siapa persisnya. Bang Abdullah paling pintar mengaduk-mengaduk emosi penonton dan rencana yang tak terduga-duga.

“Sebelum masuk ke lagu berikutnya, sekarang kita dengarkan musik berjudul ‘Gadis atau Janda’”. Setelah itu musik dipertontonkan tanpa penyanyi. Hanya melodi. Sial dangkalan!!!

Setelah mengantarkan, Bang Abdullah kembali ke ke kursi kosong di jejeran tiga para biduanita itu. Ku lihat ia merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyulutnya. Asap putih mengepul bergelung-gelung, melewati hidung tiga biduanita. Ia tak peduli, matanya khusyuk menyaksikan pemain orkes bekerja tanpa biduanita.

Aku kira, setelah sesi musik tanpa penyanyi itu selesai sudah betul-betul giliran salah satu dari tiga biduanita maju ke depan. Nyatanya, Bang Abdullah lagi yang bernyanyi. Lagunya, “Judi” karya Rhoma Irama.

Penonton lain kulihat makin gelisah. “Mana biduanitanya? Kelamaannn!!!!” teriak beberapa orang. “Iya neh, kapan giliran biduanitanya?” Puluhan lainnya menguatkan mirip teriakan peserta aksi demo bayaran. “gerah nih… panas!!!!” teriak yang lain lagi. Bang Abdullah tampak tak peduli. Jangan-jangan dia senang, strateginya berhasil. Ia terus menyanyi dengan gayanya yang mendongak-dongak atau jakunnya bergerak-gerak. Please, Bang!!!

Pinggir Kali Ciliwung, Depok, 24 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s