Wak Uyun

Seorang kawan di Pulau pernah bercerita. Sekitar awal tahun 2010, sebut saja Wak Uyun, salah seorang warga Pulau Tidung yang tak setuju dengan aktivitas wisata. Saat itu tren wisata di pulau seluas 50-an hektar ini belum seramai sekarang ini yang setiap minggunya bisa dikunjungi rata-rata 2000 orang.

Wak Uyun dikenal orang yang taat beribadah. Jarang absen salat lima waktu. Kemana-mana biasa mengenakan kopiah hitam atau haji. Seperti umumnya warga pulau, alasan yang dikemukannya, kegiatan wisata itu identik dengan maksiat. Pikirannya lalu membayangkan Bali dengan segala kehidupan hedonisnya.

Untuk menafkahi keluarga selama ini, Wak Uyun mengandalkan perahu tradisionalnya yang biasa dipakai memancing ikan di pulau-pulau sekitar. Ketika itu, sebagian masyarakat nelayan, teman-teman Wak Amir, banyak yang menyewakan kapal-kapal mereka untuk mengantar wisatawan bersnorkeling ke pulau-pulau terdekat. Lumayan, seharian mereka bisa mengantongi Rp. 200 hingga Rp. 300 ribu. Ini tentu jauh melampaui penghasilan mereka dari menjual ikan setiap harinya. Penghasilan segitu, mungkin perlu waktu seminggu. Itupun kalau mujur. Kalau apes, tak jarang harus nombok lantaran buruan yang dicari tak didapat, tapi bahan bakar minyak yang harganya melambung keluar untuk operasional. Untuk itu mereka biasa berhutang.

Tapi, itu tadi, karena alasan maksiat, Wak Uyun tak mau menyewakan kapalnya. Anda tahu kan, perempuan-perempuan muda yang bersnorkeling tentu saja menggunakan bikini dan baju renang yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh mereka. “Itu kan maksiat,” Wak Uyun berpandangan. Ia tentu mengerti ada ayat al-Quran yang bilang, lâ taqrabû zinâ, janganlah kamu mendekati zina. Ada juga bunyi hadis: “jangan kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya), pandangan pertama untukmu, dan tidak untuk yang pandangan kedua.” Itu hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi dan Abu Daud.

Tapi seiring perjalanan waktu, masih menurut cerita kawan saya, akhirnya Wak Uyun sudah berubah sikap dan mulai menyewakan kapal tradisionalnya untuk wisatawan yang akan bersnorkeling ke pulau-pulau terdekat. Seringpula, ia mengemudikan sendiri, bercampur dengan penyewa perempuan yang mengenakan baju renang yang menunjukan lekuk-lekuk tubuh mereka. Pemasukan keluarga tentu lebih baik dari sebelumnya.

Mendengar ini saya mesam-mesem. Mungkin anda akan berpikir, Wak Uyun sungguh pragmatis alias aji mumpung. Demi mengejar rupiah, ia mengabaikan ajaran agama sebagaimana keyakinan sebelumnya. Cara berpikir ini terkesan simple, sederhana, dan kadang-kadang hanya melihat sisi kulitnya saja.

Di balik pandangan yang simple itu rasanya perlu diselami lebih dalam perubahan sikapnya itu. Bagi saya, perubahan sikap itu bisa saja diputuskan setelah Wak Uyun “berijtihad” dan menimbang-nimbang antara dampak negatif dan positifnya.

Jika misalnya ia bertahan dengan sikap semula, boleh jadi ia akan terus menghadapi problem ekonomi keluarga yang tak bisa ditutupi dari pekerjaannya sebagai nelayan yang terus merugi. Apalagi, mencari ikan di laut pulau seribu sekarang ini bukan perkara gampang. Sebagian laut sudah tercemar akibat kiriman ribuan ton dari Jakarta dan sekitarnya. Jika ia bertahan dengan sikapnya itu, mungkin ia akan jauh merasa berdosa karena tak bisa memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anaknya, perkara yang lebih berat bobot kewajibannya.

Dalam dilema semacam ini, mungkin pula ia berpandangan sejauh ia tak tergelincir pada aksi perzinahan, masih bisa menjaga birahinya, menyewakan kapal untuk bersnorkeling masih dibolehkan demi tujuan yang lebih utama: menafkahi anak isteri. Betulkah jika ia menyewakan dan mengantarkan para perempuan berbikini dianggap mendekati zina? Bukankah kegiatan menyewakan dan mengantar itu tak ditujukan untuk berbuat yang mendekati zina, apalagi berzina? Niat utamanya mencari pengahsilan dan menafkahi anak-isteri, yang ia tahu juga ibadah.

Jika dikembalikan pada ushul fiqh, dasar-dasar hukum Islam, pertimbangan Wak Uyun itu memperoleh dasarnya. Ushul Fikih sendiri merupakan sebuah metode dalam memproduksi hukum Islam yang tersusun di masa pendiri Mazhab Syafi’i, Imam Syafi’i, di abad ke-9 Masehi.

Di antara kaidah yang ada, salah satu kaidah yang relevan dengan perkara Wak Uyun tadi adalah kaidah berikut: adh-dhararu al-asysyad yuzâlu bi adh-dharar al-akhaf, kesusahan yang lebih besar bisa dihilangkan dengan kesusahan yang lebih ringan. Menerima kegiatan snorkeling yang dianggapnya bisa menggelincirkan kepada perkara maksiat, perkara lebih ringan ketimbang menelentarkan kewajiban menafkahi keluarga. Atau kaidah lainnya: idzâ ta`âradha mafsadatâni ru’iya a’zhâmuhâ dhararan birtikabi akhâffihîmâ, apabila dua kerusakan bertabrakan maka dilihat dipilih yang lebih ringan. Perkara niat baik Wak Uyun itu juga penting yang juga mendapat landasan fikihnya dalam kaidah berikut : al-umûru bimaqâsidiha, setiap perkara bergantung pada tujuannya.

Jika demikian, bukankah Wak Uyun juga sedang menjalankan perintah agamanya dan tetap konsisten pada ajaran Islam?

Wallahua’lam Bishawwab

Depok, 27 Mei 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s