Haji Dja’far Arsy, “Ajimat” Pulau Tidung [Bagian Satu]

Panglima Hitam, Sultan Banten, dan Pulau Tidung

Alamsyah M. Dja’far

Di pertemuan terakhir kami, suatu malam menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun lalu, tepatnya 9 September 2010, usianya sudah 80 tahun. Kondisi tubuhnya tampak makin lemah dan sering sakit-sakitan digerogoti usia. Pendengarannya juga sudah sedikit berkurang. Namun, ingatannya tak bisa dibilang tumpul. Dalam obrolan santai kami malam itu di teras rumah salah seorang kemenakannya di Pulau Tidung yang diselingi suara takbiran dari pengeras suara masjid, jelas sekali ia masih mengingat baik waktu dan peristiwa penting dalam babak-babak sejarah hidupnya. Mendengar banyak kisah yang diceritakan, lelaki yang punya hobi musik gambus ini sungguh sumber sejarah penting melihat denyut perubahan di pulau seluas 50-an hektar ini, sejak era pendudukan Belanda hingga era dimana Pulau Tidung jadi tujuan wisata terfavorit di Jakarta. Bagi saya, ia “ajimat” Pulau seluas 50 hektar yang kini dihuni 4000 jiwa itu yang masih tersisa.

Nama lengkapnya Muhammad Dja’far Arsy. Orang Pulau Tidung biasa memanggilnya Haji Dja’far Arsy. Gelar haji yang disandang Dja’far Arsy disematkan usai menunaikan rukun kelima itu tahun 1987. “Ongkos haji saat itu Rp 5.7 juta,” kenangnya.

Saat saya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, orang Pulau memang memanggilnya  dengan lengkap: “Haji Dja’far Arsy”. Sebab jika hanya “Dja’far”, bisa bikin bingung. Dja’far mana? Di Pulau ada dua nama “Dja’far”. Selain Haji Dja’far Arsy, ada Muhammad Dja’far HF, yang tak lain Bapak saya. “HF” akronim dari Haji Fathullah, kakek saya. Dari segi usia, keduanya masih sezaman. Bapak saya lahir pada 1934, selisih tiga tahun dengan Haji Dja’far Arsy. Pada tahun 40-an, kedunya sama-sama mengenyam pendidikan pesantren yang sama di Jakarta. Bapak sayaa meninggal tahun 1997 di Mekkah saat pergi haji.

Haji Dja’far Arsy lahir pada tahun 1930. Arsy, nama bapaknya. Ibunya bernama Fatimah. Kakek dari jalur bapak bernama Haji Hamidun asal Banjar Kalimantan. Dari jalur ibu, kakeknya bernama Zaidan dari suku Mandar Pambusuang, sebuah desa yang sekarang ini masuk Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Desa itu dikenal sebagai salah satu sentra produksi perahu sandeq yang terkenal, perahu bercadik dengan model yang ujungnya lancip dan biasanya dicat warna putih.

Bagi “orang-orang dulu”, Haji Midun dan Zaidan dikenal sebagai saudagar sukses baik hati yang memiliki banyak tanah. Tak heran Haji Djafar Arsy seringkali menjadi sumber rujukan untuk melihat asal-asal sebagian tanah di kampung kami. Sebab tanah-tanah itu umumnya milik keluarganya yang lalu berpindah tangan karena jual beli atau hibah.

Jika ditarik ke atas, asal-usul kakek Haji Dja’far Arsy dari jalur bapak berasal dari Malaysia. Salah satunya yang dipanggil “Panglima Hitam”. Menurut cerita yang didengar dari bapak dan kakeknya, tokoh legendaris itu datang ke Pulau ini menggondol tujuan menumpas para lamun alias bajak laut yang biasa beroperasi di Selat Malaka. Panglima Hitam adalah sebuah sebutan untuk jabatan atau posisi semacam panggilan jenderal saat ini yang memiliki anak buah atau prajut. Karenanya Panglima Hitam ini sesungguhnya tak hanya seorang.

Kisah itu masuk akal. Sebab dalam The Malay art of self-defense : silat seni gayong yang ditulis Sheikh Shamsudddin tahun 2005, dijelaskan jika Panglima Hitam juga merupakan panggilan untuk Daeng Kuning, seorang Raja Bugis tersohor di Sulawesi. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu keturunan dari Keluarga yang sebut “Pahlawan Gayong”, keluarga pendekar ternama di kalangan masyarakat Makassar, Siak, dan Riau. Gayong sendiri tradisi pencak silat yang konon diwariskan oleh legenda Hang Tuah.

Pada 1800-an, Daeng Kuning pergi ke Malaysia demi mendapatkan penghidupan yang layak bersama beberapa saudaranya: Daeng Jalak,Daeng Celak, Daeng Merawak, Daeng Mempawah, Daeng Telani, dan Daeng Pelonggi. Setelah itu mereka berpisah.

Daeng Kuning akhirnya menetap di Kuala Larut, kini dikenal sebagai Air Kuning, Taiping, Perak, Malaysia. Pada 17 Agustus 1875 ia meninggal dan dikubur di sana. Datuk Meor Abdul Rahman, mahaguru Silat Seni Gayong Malaysia, salah seorang keturunan Daeng Kuning ini.

Sumber lain menyebutkan. Selain Daeng Kuning, nama Panglima Hitam juga disematkan di antaranya kepada Daeng Ali yang dikenal sebagai pengawal pribadi Sultan Abdul Samad, Sultan Selangor keempat. Di Muar ada orang yang sebut juga Panglima Hitam. Namanya, Zahiruddin asal Padang Pariaman, Sumatera. Zahirudin dikenal sebagai pendiri Silat Lintau di  abad ke-16.

Singkatnya, Panglima Hitam merupakan sebutan untuk mereka yang dianggap sebagai pendekar dan memiliki sifat berani dan setia kepada raja dan negara. Di Malaysia, Panglima Hitam diabadikan menjadi nama Pasukan Khas Laut (Paskal)Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), yaitu Kapal Diraja (KD) Panglima Hitam.

Nah, salah satu keturunan Haji Dja’far Arsy yang disebut sebagai Panglima Hitam itu bernama Turu asal Sulawesi. Entah dari jalur Panglima Hitam yang mana. Sebagai bentuk penghormatan, orang pulau biasanya menambahkan panggilan “Nek” di depannya: Nek Turu. Nek Turu beristerikan perempuan bernama Arma. Mereka memiliki anak di antaranya bernama Raisah dan Hamidun. Nama terakhir adalah kakek Haji Dja’far Arsy dari jalur Bapak.

Sementara itu, dari jalur ibu, silsilah Haji Dja’far Arsy konon sampai pada Sultan Abdul Kahar, seorang raja Banten. Dari silsilah penguasa Banten yang tercantum di berbagai sumber yang ada –salah satunya karya indonesianis asal Monash University, Australia, Merle Calvin Ricklefs: Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 —nama Abdul Kahar tercatat sebagai penguasa Banten pada tahun 1682-1687, putera Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa pada 1651-1680. Nama lengkap penguasa yang juga disebut Sultan Haji ini: Abu Nasr Abdul Kahhar. Pergantian kekuasaan di masanya diwarnai perang anak-bapak.

Penyebabnya, kebijakan Sultan Haji yang berusaha menjalin kerjasama dengan perusahan dagang Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ditentangnya sang ayah, Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng yang disebut juga sebagai “Sultan Tua” itu dikenal sebagai musuh tangguh Belanda. Pertentangan itu memuncak dalam konflik berkepanjangan. Untuk melawan sang ayah, “Sultan Muda” meminta dukungan VOC. VOC mau membantu dengan syarat. Di antaranya, para budak pelarian dan para desertir yang ada di Banten dan dilindungi di sana dikembalikan ke Batavia meski sebagian mereka sudah masuk Islam. Syarat lainnya, para lanun harus dihukum; Eropa saingan VOC seperti Inggris harus diusir dari Pelabuhan Banten; termasuk syarat adanya jaminan tak ada gangguan hubungan Batavia dan Mataram. Meski berpotensi menimbulkan masalah baru, syarat itu akhirnya ditandatangani pada 1682. Posisi Sultan Haji saat itu memang lemah karena tak didukung elis muslim yang masih loyal dengan sang ayah.

Dengan kekuatan VOC yang dipimpin François Tack and Isaac de Saint-Martin, Sultan Haji berhasil diselamatkan saat ia tengah dikepung di istananya oleh para pendukung ayahnya. VOC kemudian mengakuinya sebagai sultan. Sultan Ageng lantas diusir VOC dari kediamannya ke pedesaan dan pada akhirnya menyerah pada 1683.

Berdasarkan sejarah ini, rasanya masuk akal pula jika anak keturunan Abdul Kahar “mampir” atau menetap di Pulau Tidung. Alasannya, VOC yang memiliki kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Jakarta dan pulau-pulau terdekat memungkinkan adanya “orang-orang” Sultan Haji ke Pulau Tidung. Bagaimana kisah rincinya sampai saat ini masih gelap.

Di antara keturanan Abdul Kahar yang tinggal di Pulau Tiudng adalah Lidin dan Jamad. Jamad sendiri memiliki anak bernama Kamis yang lalu punya anak bernama Karim. Kari m ini lalu memiliki anak bernama Zaidan, kakek Haji Dja’far Arsy dari jalur ibu.

Kembali ke Nek Turu. Tokoh legendaries itu menurut Haji Dja’far Arsy meninggal sebelum Gunung Krakatau meletus pada 1883. Itu berarti sebelum bencana yang mengakibatkan 36.417 orang tewas, menimbulkan gelombang pasang setinggi lebih dari 30 meter dan merusak pulau-pulau di Selat Sunda serta sepanjang pantai Lampung Selatan dan Jawa Barat itu, Pulau Tidung sudah dihuni manusia.

“Ada yang selamat dari bencana letusan Krakatau?,” tanya saya penasaran. Menurut Haji Dja’far Arsy, sebagian penduduk pulau ada yang selamat. Di antara mereka selamat dengan cara naik ke atas pohon kelapa. Tapi, saya masih bertanya-tanya, dengan ketinggian gelombang lebih dari 30 meter dan dahsyatnya daya rusak letusan Krakatau, mungkinkah mereka masih bisa menyelematkan diri? Menurut ahli, ledakan Krakatau kala itu 21.574 kali lipat lebih dahsyat dari bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945.

Nek Turu sendiri dimakamkan di ujung Pulau Tidung Kecil, pulau seluas 20 hektar. Sekarang makam itu sudah dipugar plus dengan bangunan komplek pemakamannya. Lokasi ini ramai dikunjungi para wisatawan yang datang berlibur ke Pulau Tidung.

Kisah penemuan makam itu unik. Mulanya ada sepasang suami isteri asal Jakarta yang berdinas di Pulau Tidung suatu ketika tengah mandi laut di bagian timur ujung Pulau Tidung kecil. Usai mandi mereka naik ke daratan, lantas menyusuri pantai. Saat itu salah seorang di antara mereka melihat laki-laki tua, yang tiba-tiba menghilang ke dalam hutan. Padahal seperti biasanya pulau tak berpenghuni itu sedari tadi sepi.

Dari mulut ke mulut kisah itu kemudian sampai ke telinga Haji Ja’far Arsy. Iapun sempat bercerita kepada orang dari Jakarta itu jika di sana memang ada makam nenek moyangnya. Informasi inilah yang kemudian mendorong muncul ide pemugaran. Orang Jakarta itu lantas meminta bantuan “orang pintar” yang didatangkan dari Banten agar menemukan lokasi pekuburan yang sudah puluhan tahun “menghilang”.

Dalam proses pencarian itu, Haji Dja’far juga terlibat. “Tapi, tak ketemu di mana letak persisnya,” katanya. Posisi kuburan yang sekarang adalah hasil “terawangan” orang pintar asal Banten tadi. Haji Dja’far sendiri tak yakin kalau posisi itu lokasi yang benar. Ketika ia masih beberapa tahun, ia mengaku sempat melihat makam nenek moyangnya itu.[]

Bersambung


* Penulis Kelahiran Pulau Tidung, Kepuluan Seribu. Kini bergiat di the Wahid Institute, organisasi nirlaba yang didirikan KH. Abdurrahman Wahid. Terkait kisah berlatar Pulau Seribu, ia menerbitkan novel Lelaki Laut terbitan Gramedia Pustaka Utama Desember 2010

Foto: Abdullah Alawi/Istimewa

12 thoughts on “Haji Dja’far Arsy, “Ajimat” Pulau Tidung [Bagian Satu]

  1. Mohon infonya, kepada siapa saya harus mencari narasumber tentang keilmuan pencak silat di Pulau Tidung, apakah masih ada aliran silat yang tersisa disana (pewarisnya)…?

    1. Terima kasih komentarnya. Sejak beberapa tahun lalu, di Pulau Tidung berdiri Sanggar Ceria. Sanggar ini didirikan beberapa warga Pulau Tidung untuk mengembangkan tradisi, kebudayaan dan keagamaan. Salah seorang pendirinya bernama Bang Sofi. Sejauh ini sanggar ini melatih anak-anak remaja pencak silat, di antaranya pencak silat mandar. Beberapa kesempatan anak-anak ini juga mengikuti perlombaan di Jakarta. Untuk lebih jelasnya, sila menghubungi Bang Sofi. Kontak saya kirim via email. Salam

  2. assalamualaikum…maaf sebelumnya…saya lagi mau skripsi tapi saya pengen sekali ngangkat novel ini dalam penelitian… novel ini penuh inspiratif…apa saya bisa ketemu dengan bapa alamsyahdjafar

  3. Assalamualaikum,
    Maaf pak Alamsyah, boleh saya tahu kontak Bang Sofi, guna penelitian tentang pencak silat yang ada di Kep. Seribu, khususnya P. Tidung dan P. Panggang? terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s