Hah! Sudah Tujuh Tahun!

Aduh! Hampir saja terlewat. Hari ini tepat ulang tahun pernikahan kami. Sungguh tak terasa. Usia pernikahanku sudah masuk tahun kedelapan. Padahal, sepertinya baru kemarin kami berdua duduk manis di pelaminan sambil menyungging senyum bahagia tak henti-henti. Ratusan tamu menyalami. Sebagian membisik “Selamat ya. Semoga langgeng dan cepat punya momongan!”

Jelas sekali, aku masih mengingat peristiwa paling membahagiakan itu. Aku masih ingat, bagaimana kami mempersiapan akad di depan penghulu plus pilihan bajunya, menggelar sesi foto keluarga, ganti kostum pengantin, dan merencakan berapa sebaiknya kami punya anak. “Dua saja,” kataku. “Bagaimana kalau empat?,” kata suami. “Makin banyak, makin ramai kan?,” tambahnya lagi. Ah, benar juga!

Bisikan doa agar cepat punya momongan itu juga tak pernah aku lupa. Dan sekarang ini, setiap kali mengingat dan mendengar kata “momongan” maka hari-hari ku terasa sangat panjang, lama, dan kadang-kadang mengiris-iris.

Mengiris-iris karena “momongan” selalu berulang-ulang aku dengar saat bertemu teman-teman lama umpanya, atau para tetangga di kampung halaman saat kami pulang kampung. “Sudah punya momongan berapa?” Ketika kami jawab belum, mereka biasanya membesarkan hati.  “Mungkin belum waktunya”. Duh tuhan…

Terasa panjang, sebab setiap kali pergantian tahun kami selalu saja menunggu datangnya keajaiban yang entah kapan? Dan memang terasa sangat lama, karena usia aku rasakan berlalu cepat.

Setiap kujumpai pasangan muda berbelanja di supermarket sambil menggendong bocah kecil lucu mereka, secara tak sadar aku berkata pada suami. “Kapan ya kita bisa seperti mereka”. “Pada saatnya nanti, kita mengalaminya,” kata suami membesarkan hati. Dan itu selalu yang ia jawab setiap kali aku bertanya“Kapan ya kita bisa seperti mereka”.

Tak jarang pertanyaan-pertanyaan buruk meloncat-loncat di kepala. “Bagaimana kalau betul-betul kami tak pernah dikarunia anak? Lantas nasib kami jika sudah tua renta, siapa yang merawat? Tidakkah ini berarti garis keturunan berakhir pada kami?

Maka, kutulis ini buat suami tercinta di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh. Kukirim melalui surat elektronik yang kuberi judul “Our Wedding Anniversary”. Tak lupa, ku lampirkan gambar bayi mungil yang tengah tertawa. Lucu sekali! Terus terang saat menulis, aku menangis …

Monday, May 9, 2011 12:09 AM
From: Ellen
To: Erik

Tak terasa hari ini tepat 7 tahun usia pernikahan kita. Suka duka sudah kita lalui dengan baik. Terima kasih selama 7 tahun ini sudah menjadi suami yang baik. Dan Semoga tetap begitu sampai akhir hayat kita. Aku mohon maaf, kalau selama ini belum bisa jadi istri yang baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Tapi percaya deh, aku selalu berusaha, kalau belum juga berarti masih proses…

Memasuki usia ke 8 tahun pernikahan kita, semoga tuhan selalu menjaga rumah tangga kita dari segala godaan dan dimudahkan dalam semua urusan. Dan harapan yang paling utamanya semoga, di tahun ini kita mendapatkan kepercayaan untuk segera menimang generasi penerus kita. Terus berusaha dan jangan menyerah ya kak, dan semoga kita bisa kompak selalu.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan

Istrimu

Aku berharap, surat itu membesarkan hatinya, juga aku, agar tak bosan-bosan berusaha dan berdoa menunggu keajaiban itu datang. Sebab beberapa kali kulihat tampaknya ia sudah mulai putus asa.

Beberapa menit kemudian, surat elektronik itu berbalas. Di layar komputer muncul tulisan:

Re: our wedding anniversary
Monday, May 9, 2011 12:54 AM
From: Erik
To: Ellen

Sedih sekali membaca ini. Saya mengerti, menjalani masa delapan tahun bukan waktu yang pendek, apalagi tanpa kehadiran anak. Jika ditanya seberapa serius saya menggapai harapan itu, jawabannya adalah seserius saya menyelesaikan hidup bersama kamu… Jika saya ditanya, seberapa penting arti penting kamu bagi saya, jawabannya adalah sepenting kehadiran saya buat kamu.

Untuk bisa seimbang, hidup ini kadang-kadang harus timpang. Untuk mengerti betapa menariknya punya buah hati, kita mungkin harus mengalami betapa tak menarik dan berwarnanya hidup hanya dengan berdua.

Semoga saja ada keajaiban ….

Salam
Dari suamimu

Aku menangis lagi ….

Jakarta, 9 Mei 2011

2 thoughts on “Hah! Sudah Tujuh Tahun!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s