YPHI Menyelenggarakan Diskusi Terfokus terkait Penelitian Pengaturan Produk Halal

Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia (YPHI), pada hari Selasa, 29 Maret 2011 menyelenggarakan Focus Group Discusiion terkait Penelitian Pengaturan Produk Halal dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia yang Majemuk Berdasarkan Konstitusi. Hadir pada acara tersebut Alamsyah (The Wahid Institute), Uli Parulian (Direktur The Indonesian Legal Resource Centre), Sudaryatno (Ketua Pengurus Harian YLKI serta Ema Mukaromah (Internasional Commision on Radiological Protection). Diskusi ini dimulai dari pembahasan latar belakang penelitian yang mencakup perdebatan tentang relasi hubungan agama-negara selalu menjadi bahan perbincangan menarik, dasar undang-undang yang digunakan dalam penelitian Jaminan Produk Halal ini, serta pembahasan naskah akademik RUU JPH itu sendiri.

RUU JPH ini menimbulkan pro-kontra, Meski sebagian besar mendukung, tapi ada pula yang menolak dengan alasan bertentangan dengan Pancasila, melanggar UUD 1945, dan bertentangan dengan syarat-syarat pembentukan peraturan perundang-undangan. Mereka yang mendukung juga terbelah, terutama menyangkut kewenangan dan lembaga yang mengeluarkan sertifikat halal . Sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan, apakah pengaturan produk halal melalui sejumlah peraturan dan perundangan-perundangan sejauh ini telah menciptakan rasa keadilan tanpa diskriminasi? dan Bagaimana sebaiknya negara membuat peraturan perundang-undangan tentang pengaturan produk halal yang sesuai konstitusi?

Perdebatan RUU JPH ini setidaknya melahirkan tiga kelompok, yang pertama adalah kelompok pendukung, kelompok yang tidak menerima, dan kelompok yang menerima dengan catatan. Dari ketiga kelompok tersebut terdapat beberapa pandangan dari masing-masing kelompok mengenai hal tersebut. Pandangan dan alasan kelompok pendukung diantaranya sebagai berikut: Konstitusi wajib menjamin umat Islam untuk memperoleh produk halal, peraturan perundang-undangan yang ada belum memberi kepastian hukum dan jaminan hukum bagi umat Islam terhadap pangan dan produk lainnya, produksi dan peredaran produk sulit dikontrol sebagai akibat meningkatnya teknologi pangan, rekayasa genetik, iradiasi, dan bioteknologi, sistem produk halal Indonesia belum memiliki standar dan label halal resmi (standar halal nasional) yang ditetapkan pemerintah seperti halnya sistem yang dipraktekkan di sejumlah negara. Akibatnya, pelaku usaha menetapkan label sendiri sesuai selera masing-masing sehingga terjadilah berbagai pemalsuan label halal.

Pandangan kelompok yang tidak menerima memiliki alasan sebagai berikut: Bertentangan dengan Pancasila, melanggar Undang-Undang Dasar 1945, bertentangan dengan syarat-syarat pembentukan peraturan perundang-undangan, melebihi kewenangan, sertifikasi produk halal akan mempersulit usaha masyarakat kecil, dampak segregasi serta yang terakhir adalah sudah banyak peraturan yang mengatur.

Kelompok yang menerima dengan catatan beralasan sebagai berikut: Dukungan terhadap RUU ini sangat kuat sehingga jika berusaha menolak RUU ini akan dengan mudah dituduh sebagai anti Islam. Beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih jauh dalam RUU itu adalah: paradigma voluntary (sukarela) dan mandatory (kewajiban), Perlunya lembaga independen setingkat kementerian yang secara khusus bertugas melakukan sertifikasi di mana lembaga fatwa dan pengawasan juga merupakan bagian dari lembaga ini. Lembaga tersebut harus dikelola secara transparan dan akuntabel. Seluruh hasil keuangan dari lembaga ini menjadi pemasukan negara nonpajak yang pengelolaan keuangannya menggunakan prinsip-prinsip pengelolaan uang negara, Bias pengusaha besar. Bagi usaha-usaha kecil dan menengah, sertifikasi akan membebani dan memberatkan.

Sudaryatno (ketua harian YLKI) menambahkan bahwa terdapat 4 (empat) isu krusial yang perlu dibahas, yaitu ruang lingkup, kelemabagaan, fundging surces, voluntary dan mandatory. (nda)

Sumber: http://www.yphindonesia.org | 30 March 2011 | 07:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s