“Bedah Novel Lelaki Laut”

Oleh Abdullah Alawi


“Novel Lelaki Laut ini enak dibaca,” ungkap kritikus sastera yang mengumumkan karyanya sejak SMA. “Saya membutuhkan waktu tiga jam melahapnya,” sambungnya.

Bedah novel Lelaki Laut ini dimulai pukul 14.00, pada kamis 20 Januari. Acara dilaksanakan atas kerja sama Piramida Circle, Senjakala, Ersous, dan PMII fakultas Dakwah. Mulanya, bedah novel ini akan dilaksanakan di gedung teater Fakultas Syariah, UIN Ciputat, tapi sehari sebelum hari H pengelola gedung membatalkan dengan alasan digunakan acara lain. Demikian ungkap Zakki, ketua panitia, pentolan tongkrongan sastera Senjakala pada sambutannya.

Rencananya bedah novel ini menghadirkan pembedah lain, yaitu Radhar Panca Dahana dan Yanusa Nugroho, tapi keduanya berhalangan. Panitia bersyukur karena A S Laksana dan Faizah Aly Sybromalisi bisa hadir. Tampak pula sang penulis novel dan salah seorang perwakilan penerbit Gramedia.

“Novel Lelaki Laut ini enak dibaca,” ungkap kritikus sastera yang mengumumkan karyanya sejak SMA. “Saya membutuhkan waktu tiga jam melahapnya,” sambungnya.

Sasterawan yang biasa disapa Bang Sula ini kemudian menggeledah hal-hal teknis novel ini. Dia pun memberi catatan. Pertama, yaitu diksi dan ungkapan. Dia tidak kerasan dengan bahasa asing yang muncul, semisal care, inisiatif , dll. “Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja? Apa ada padanannya dalam bahasa Indonesia?” tegasnya.” Dalam hal ini, kita mesti berkaca pada kreativitas Chairil Anwar yang mencari padanan kata “marah”. Dia meminta berbagai keterangan teman-temannya hingga berhari-hari.”

“Saya punya pengalaman dalam hal ini, Tufik Ismail pernah bertanya tentang kenapa saya tidak menggunakan bahasa lain, semisal bahasa daerah saya di Semarang. Saya ingin menggunakan bahasa Indonesia sebaik-baiknya karena bahasa Indonesia sudah digunakan sewenang-wenang oleh penuturnya. Bahasa Indonesia justeru digunakan dengan baik sama demit. Misalnya Suzana yang berperan sebagai hantu selalu menggunakan kalimat lengkap.”Wahai manusia, akulah penunggu pohon ini.” Selorohnya sontak disambut tawa peserta.

Beberapa nama Latin pepohonan dan ikan juga mendapat catatan dari lulusan FISIP UGM ini. Menurutnya, orang yang mau mencari bahasa Latin, dia akan mencarinya dalam ilmu hayat. Hal itu pula yang dilakukan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. “Seandainya saya ketemu pengarangnya, saya juga akan menanyakan hal yang sama.” Ungkapnya. Di beberapa bagaian juga ada kata-kata yang sering digunakan para politisi, sebaiknya tak usah dipakai. Malah itu akan mengganggu rasa bahasa yang sudah dibangun dengan liris.

Kedua, karakter tokoh utama novel ini, Bang Jar, tidak dieksplor lebih jauh. Pembaca tidak diberi keterangan memuaskan kenapa ia terseret ke dunia gelap. Padahal ia berasal dari keluarga bai-baik. Sebuah cerita, demikian kata penikmat rokok kretek Gudang Garam Merah ini menegaskan, “sesurelis apa pun, akan dibenarkan pembaca sebagai cerita jika ditopang alasan kokoh. Misalnya “Adam Makrifat” karya Danarto.

Kemudian, Faizah Ali Sybromalisi didaulat jadi pembedah kedua. Dia merupakan dosen fakultas Usuludin dan Filsafat yang juga penikmat sastera. Sejak SD, ia telah melahap karya-karya Balai Pustaka; Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dll. Karena kecintaannya terhadap sastera, meski kakinya sedang bermasalah, dan bentrok dengan rapat dekanat, dia tetap hadir dalam bedah novel yang dihadiri sekira 30 peserta. Menururt lulusan S1 hingga S3 al-Azhar, Mesir, novel Lelaki Laut ini sangat inspiratif dan menggugah.

Kemudian, meski novel ini bercerita tentang pulau kecil di kepulauan seribu, dia mengaitkan novel ini dengan kebetawaiannya. Misalnya, Bang Jar harus pulang sebelum maghrib, itu aturan yang diberlakukan dalam keluarga-keluarga Betawi. Juga ada beberapa kata khas Betawi yang ber-elu gua. Dan novel ini memunculkan kata masa kanak-kanaknya yang hilang dari pandangan mata selama bertahun-tahun, yaitu belarak, pelepah kelapa yang kering. Juga dalam novel ini memperlihatkan Bang Jar yang kembali sadar. Ini sesuai dengan ungkapan; Sejahat apa pun orang Betawi, pada akhirnya akan kembali.

“Yang jelas, novel Lelaki laut” ini inspiratif, dan bernilai sedekah bagi penulisnya,” simpulnya disambut tepuk tangan peserta. Dia tidak ikut berdiskusi lebih lanjut bersama peserta karena ada kesibukan lain yang menunggunya.

Acara yang dipandu Ahmad Makki, penikmat sastera, semakin hangat ketika Alamsyah M. Djafar, sang penulis, menjelaskan proses kreatifnya. Kemudian, dia mengungkapkan rasa senang novel perdananya diterbitkan Gramedia dan diapresiasi sahabat-sahabatnya. Dia menutup dengan ungkapan tak terduga, “Kalau Saudara ingin gaul, ubahlah nama Saudara dengan nama yang diambil dari layar tancap.” Sebuah penutup yang menggelitik. Mengubah nama merupakan salah satu fragmen Lelaki Laut. Penulis menahbiskan diri Sona, nama yang terinspirasi film Pancasona, dan Refil, nama lain Bang Jar.

Kemudian peserta dipersilahkan menguliti lebih mendalam Lelaki Laut dan teknik penulisan dengan bertanya langsung kepada penulis dan pembedah.

Menurut Mas Sula, Bang Jar, adalah tokoh darah daging. Artinya, dia memilki sisi baik dan buruk. Tidak seperti film Ayat-ayat Cinta yang tokohnya seperti malaikat, dan Sang Pencerah, yang tak memiliki cedera sama sekali. Apakah ada manusia seperti itu? Kenapa kisah Mahabarata menjadi klasik dan selalu digemari sepanjang waktu? Karena ceritanya berisi manusia yang manusiawi, punya kesalahan, rakus, di samping memiliki kebaikan. Dia pun memberi resep supaya cerita berlangsung apik. Penulis bisa menggunakan teknik deskripsi jika cerita berlangsung cepat. Sebaliknya, jika mandek, dialog bisa digunakan untuk mempercepatnya. Dia juga memberikan tips tentang karakterisasi. Menurutnya karakter tokoh yang baik takarannya, 2 sifat baik, satu negatif. Tokoh antagonis, 2 buruk 1 baik dan tokoh netral 1 baik, 1 buruk.

“Siapa pun bisa komentar apa aja tentang Lelaki Laut ini, tapi Saudara Alamsyah sudah menerbitkannya,” demikian pengarang antologi cerpen “Bidadari yang Mengembara” mengakhiri paparannya.

Ciputat, Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s