Lelaki Laut; Kisah Inspiratif dari Pulau Seribu

KABARHAJI–Tak ada firasat apapun saat Alam kembali mengujungi rumah kakeknya di Tengerang untuk menemui emak-bapak yang baru pulang haji.

Pak Husyein, pamannya yang menjemputnya ke pesantren Ashidiqiyyah dengan sepeda motor juga bersikap seperti tak ada apa-apa. Selama di perjalanan, terlintas setumpuk pertanyaan yang akan ia ajukan pada Bapak. Bagaimana suasana thawaf, sai, dan melempar jumrah? Apakah emak-bapak berhasil mencium Hajarul Aswad si batu hitam? Apakah emak-bapak mengalami hal-hal aneh seperti banyak diceritakan para hujjaj?

Selama ini Bapak memang menjadi tempatnya bertanya. Dari Bapak, ia belajar ilmu agama sejak bangku madrasah ibtidaiyah. Saat-saat liburan pesantren, ia juga sering mendiskusikan beberapa materi dalam kitab Alfiyah Ibn Malik, berisi materi tata bahasa arab, atau Ta’lim Muta’allim, berisi materi rambu-rambu bagi para pencari ilmu. Itu dua kitab berbahasa Arab gundul yang biasa dipelajari di pesantren.

Tapi, sebetulnya ia juga tak hanya belajar tentang ilmu-ilmu itu. Lebih dari itu ia belajar banyak tentang kehidupan dan sikap hidup dari Bapak. Ia belajar dari Bapak tentang sikap untuk selalu bersahaja, berpikir positif, berdedikasi dan selalu berkomitmen terhadap profesi. Juga prinsip bahwa belajar tak pernah mengenal usia.

Semuanya baru terasa saat tiba di rumah kakek, tempat berkumpulnya rombongan haji emak-bapak.  Orang-orang di pelataran rumah itu lebih banyak diam. Begitu juga yang ada di dalam. Emak yang duduk di sana matanya merah dan sembab. Tak ditemukan bapaknya di sana. Saat ia cium tangan emak, emaknya berkata lirih. “Bapak lu sudah ndak ada lam!!!!” Tangis emak tumpah. Tentu sajasi anak, Alam.

Dunianya seperti di goncang tsunami. Hatinya ngilu. Badannya seperti tak dialiri darah lagi! Bapaknya meninggal pada Senin 28 April 1997 bertepatan dengan 20 zulhijjah 1417 H pukul 12.00 waktu Arab Saudi. Usianya 63 tahun. Menurut emaknya, bapaknya dimakamkan di kota Ma’la.

Yang lebih terguncang lagi sebetulnya Bang Jar, abang lelakinya. Bang Jar adalah tokoh utama novel yang ditulis Alamsyah M. Dja’far, lelaki kelahiran Pulau Tidung Kepulauan Seribu ini. Bang Jar tak akan pernah lupa bahwa ia pernah membuat Bapak amat marah hingga harus menampar pipinya. Saat bapak menasihati Bang Jar baik-baik agar mau kuliah dan mengurungkanya niatnya menjadi nelayan muroami pencari ikan ekor kuning, ia beberapa kali membantah dengan nada tinggi. Kesabaran Bapak habis, dan menamparnya sekali. Setelah itu bapak diam seribu bahasa.

Meski begitu, langkah Bang Jar tak surut. Ia tetap bersikukuh pada visi besarnya menjadi nelayan muroami yang mencari ikan hingga ke Belitung untuk empat bulan lamanya. Bang Jar saat itu tak pernah tertarik untuk duduk manis di bangku kuliah. Dalam pengalaman barunya itulah ia pernah hampir tenggelam lantaran udara dalam selang kompresor yang menjadi alat pernafasan mengecil. Melihat ikan sebesar sampan!

Kepergian Bapak dan rasa bersalah itulah yang lantas membuat Bang Jar dininabobokan minum-minuman keras hingga ia benar-benar terpuruk sampai-sampai harus direhabilitasi selama dua minggu di rumah sakit.

Beruntung atas dorongan kuat Emak dan keluarga,Bang Jar berhasil melewati tahap-tahap sulit hidupnya dan kemudian menjelma menjadi sosok-sosok yang benar-benar baru. Setelah menikah dan dikaruniai satu anak Bang Jar bekerja pada majalah Jalan. Dari sini motivasi untuk melanjutkan pendidikan kembali berkobar. Apalagi motivasi Alam, sang adik, tak pernah henti disampaikan.

Dengan tekad baja, ia berhasil merampungkan pendidikan D3-nya pada sebuah perguruan tinggi di Tangerang. Ia juga sempat beberapa lama menjadi asisten dosen di kampusnya itu. Tragisnya, karena terlalu serius menggarap tugas akhir hingga harus begadang selama  dua minggu, pada suatu pagi ia ditemukan meninggal di dalam rumahnya. Yang mengetahui pertama kali justru anak lelaki pertamanya:Afa.

Bagi Alam, Bang Jar adalah idolanya sejak kecil. Ia abang kakak yang menyayangi adik-adiknya. Sayangnya pergaulan remaja yang menjangkiti anak-anak pulau Tidung membuatnya berubah liar. Penyebaran virus pergaulan itu cukup apik digambarkan di novel ini. Salah satunya tradisi merubah nama asli dengan nama samaran.

Novel ini sesungguhnya bercerita mengenai perjalanan hidup orang biasa, sederhana, namun berliku-liku, dan inspiratif. Pesannya jelas: belajar tak pernah mengenal kata akhir dan tak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik.

Settingkehidupan Pulau Tidung, mengajak pembaca memahami sedikit karakter kehidupan masyarakat Pulau Seribu. Novel ini juga dibumbui hubungan yang tulus antara kakak-adik dan konflik batin lantaran gap pendidikan. Novel ini juga tampaknya berusaha menyindir bagi mereka yang hanya ingin mengejar sederet titel tapi tak pernah serius untuk belajar sepenuh hati.

Selamat membaca karya inspiratif ini. Faktanya, banyak karya yang berasal dari sebuah daerah pinggiran dengan segala keterbatasan, namun begitu menggugah dan menegaskan bahwa kreatifitas tak hanya bagi yang berlimpah materi dan modal.[Imam/KH]

Judul : Lelaki Laut (Mengayuh Semangat dan Cita-cita dari Pulau Seribu)
Penulis: Alamsyah M. Dja’far
Tebal :204 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2010
Harga : Rp. 42.000,-

Editor : Imam maruf

One thought on “Lelaki Laut; Kisah Inspiratif dari Pulau Seribu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s