Review Buku Gerakan Keislaman Pasca Orde Baru

Judul         : Gerakan Keislaman Pasca Orde Baru; Gerakan Merambah Dimensi Baru Islam
Penerbit    : Badang Litbang Agama dan Diklat keagamaan Departemen Agama RI, 2005
Hal            : 593 hal
Editor        : Dr. Imam Tolkhah, MA. Drs. Neng Dara Affiah, M.Si

Buku yang merupakan kumpulan tulisan dari makalah-makalah seminar atau pernah dimuat di jurnal Litbang dan Diklat Depag RI ini berusaha memotret beragam varian gerakan Islam paska reformasi. Di buku ini, setidaknya terdapat tiga varian gerakan keislaman yang menonjol, dan dalam banyak hal saling berseberangan: Islam radikal, Islam sufistik, dan Islam kritis. Ketiga corak gerakan tersebut menurut kedua editor buku ini, Imam Tolkhah dan Neng Dara Affiah, bisa pula dilihat dalam tipologi dan karakteritik yang dikembangkan pada beberapa sample pesantren –dibicarakan khusus pada bab keempat buku ini. Imam Tolkhah adalah Direktur Pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI (2006), dan Neng Dara menjabat Pemimpin Redaksi Jurnal Dialog Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI.

Organisasi-organisasi keagamaan seperti Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Hibuz Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam dan Laskar Jihad dimasukan dalam kategori Islam radikal. Di level ideologi, ciri khas gerakan ini adalah perjuangan mereka menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Usaha kelompok ini terbilang gigih dan mensasar hingga kalangan akar rumput. Cukup mendapat respon di lingkungan kampus-kampus umum. Mereka memanfaatkan momentum kebijakan otonomi daerah dalam mendesakan agenda islamisasi mereka. Tulisan-tulisan menyangkut keempat ormas ini cukup lengkap, mengulas mulai dari sejarah kelahiran, aktor, hingga ideologi yang diusung.

Untuk kategori kedua, buku ini menurunkan dua tulisan yang disebut sebagai “Islam sufistik”: Majelis Az-zikra pimpinan Muhammad Arifin Ilham dan Kelompok Salamullah pimpinan Lia Eden. Kelompok ini lebih berorientasi pada pergulatan batin, pembersihan diri dan menghindar dari keterlibatan di dunia politik praktis.

Kelompok terakhir, Islam kritis, diwakili Jaringan Islam Liberal (JIL), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dan Islam Emansipatoris P3M. Gerakan ini didominasi generasi muda yang hendak “menyegarkan” kembali nilai-nilai keislaman yang lebih kontekstual, sesuai semangat zaman, tentu saja dengan beragam aksentuasinya. JIL misalnya, dengan tegas mengikrarkan diri sebagai gerakan keagamaan yang berusaha menampilkan nilai-nilai substansial Islam ketimbang teks yang tersurat; mengusung ide-ide kebebasan beragama; dan pemisahan otoritas duniawi dan ukhrowi atau otoritas keagamaan dan politik.

Sementara itu Islam Emansiptoris, meski punya kesamaan pada nilai-nilai yang diperjuangkan JIL seperti pluralisme dan demokrasi, kelompok yang dimotori Masdar Farid dan Zuhairi Misrawi ini memilih menitikberatkan pola perjuangannya pada: pertama, sudut pandang terhadap teks-teks keagamaan; kedua, sikap terhadap modernitas; ketiga, apresiasi terhadap budaya lokal; dan keempat, menekankan aspek partisipasi dan aksi

Gerakan serupa muncul di lingkungan generasi muda Muhammadiyah. Oleh sebagian pendirinya, selain karena keprihatinan atas mandegnya usaha tajdid di Muhammadiyah, kemunculan JIMM juga muncul sebagai respon atas perkembangan progesif teman-teman muda di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kelompok yang dimentori Muslim Abdurrahman ini menandaskan tiga pilar gerakannya: hermeuntik, teori sosial, dan new social movement.

Menariknya, buku ini pun berusaha memotret tiga varian gerakan keislaman itu lewat pemetaan beberapa pesantren. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren adalah –editor menyebutnya—“ laboratorium” untuk menggodok visi keislaman sekaligus medium mendistribusikan gagasan dan pemikiran “mazhab-mazhab” ini kepada para santri. Pesantren seperti az-Zaitun, Hidayatullah, dan Ngruki dikategorikan sebagai pesanten bercorak “radikal”. Pesantren Daarut-Tauhid pimpinan Abdullah Gymnastiar dikategorikan bercorak sufistik. Sedang pesantern Nurul Islam Jember, Pesantren Aqidah Asymuni Madura, dan Perantren Daruttauhid, Cirebon, dikategrikan bercorak kritis lantaran usaha mereka dalam mensosialisikan kesadaran kritis dalam isu ketimpangan laki-laki-perempuan []

2 thoughts on “Review Buku Gerakan Keislaman Pasca Orde Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s