Daeng JK

Oleh: Alamsyah M. Dja’far

Di mata saya, juga di mata banyak orang saya kira, yang membuat JK menjadi tokoh besar hingga sekarang adalah lantaran kelugasan, ketegasan, dan spontanitasnya. Dalam hal ini “maqamnya”  sama dengan almarhum Gus Dur, mantan bos ketika menjadi Menteri Perdagangan dan Industri. Lihat saja pernyataan-pernyataannya ketika dipanggil Pansus Century DPR baru-baru ini. Jika sebagian pejabat negeri ini merasa risih dengan kata intervensi, maka tidak bagi JK. Dalam soal Robert Tantular, ia merasa tak sekadar “mengintervensi”, tapi “memerintahkan”. Mengubah kata “memerintahkan” menjadi “mengintervensi” justru membuatnya turun satu peringkat. Yang menarik lagi, saat orang berdebat apakah bailout uang negara atau bukan, JK bilang dengan tegas: ini soal perampokan!

Tapi kelugasan –apa adanya dan bukan ada apanya—tak selalu sejalan dengan “nalar umum”. Seringkali kelugasan menabrak pakem tradisi ketimuran, tegasnya tradisi Jawa yang penuh eweh pakeweuh –sebuah tradisi yang dilanggengkan sema era Orde Baru. Maka para pejabat kitapun terbiasa “memperhalus” kata untuk mengatakan yang sesungguhnya. Untuk mengatakan “bejat”, kita terbiasa mencari istilah lain yang lebih “sopan”. “Tidak etis” umpamanya atau “kurang elok” misalnya. Intinya sih “bejat”! Memilih kata “prihatin” untuk maksud “kecewa berat”. Maka barulah saya paham ketika Gus Dur melontarkan kata “gombal” buat para pejabat yang kata-katanya lain di podium lain di kebijakan. Diksi yang menurut saya tandas.

Sebagai masyarakat pesisir saya agak heran. Perilaku JK mengambil sepatu dari kaki lalu mengacungkannya ke atas untuk menunjukan bahwa sepatunya merk dalam negeri di masa kampanye tahun lalu bagi sebagian masyarakat umum bukanlah tindakan etis bagi seorang calon presiden. Padahal tindakan itu sesuatu yang wajar saja. Maka dengan sikapnya yang lugas dan apaadanya itulah JK tak disukai sebagian masyarakat umum.  Dan JK tahu itu.

Sebagai tokoh, JK juga memiliki modal sosial (social capital) yang memadai. Ia muncul sebagai tokoh etnis Bugis –jumlahnya mencapai 6 juta jiwa (tahun 2000)—yang disegani. JK dianggap sebagai representasi masyakat Bugis di pentas nasional.

Dalam teori sosial, modal sosial akan memberikan kemudahan untuk menggapai tujuan bersama. Modal sosial adalah semacam jejaring dan kepercayaan yang memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama mencapai tujuan bersama; kemampuan yang timbul dari kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas. Kepercayaan semacam itu tentu tak bisa dilahirkan dan direkayasa sedemikian rupa. Modal sosial ini bersumber pada kepercayaan (trust), norma-norma (norms), dan jaringan sosial (networks) yang hidup pada komunitas tertentu sejak lama. Maka tak heran, panggilan “Daeng” oleh Ruhut Sitompul dalam sidang pansus menyulut reaksi masyarakat Bugis lainnya. “Daeng” bagi masyarakat Bugis dianggap kehormatan. Padahal tak ada SK yang menyebut JK adalah perwakilan masyarakat Bugis di level nasional.

Dan sebagai seorang tokoh ia sangat “menghayati” kebugisannya. Dalam tulisannya bertajuk “Diplomasi ala Bugis…” Agustus 2009 silam di sebuah media online, sikapnya yang blak-blakan dan apa adanya banyak disumbang dari kultur Bugis. Dan sikap itu dalam banyak hal dinilai berguna untuk mengelola negara. Di tulisan itu ia bercerita. Saat menyelesaikan kasus Ambalat, JK berkata blak-blakan kepada Perdana Menteri, Najib Rajak. “Najib…Ambalat itu masalah sensitive, itu bisa membuat kita perang. Kalau kita perang, belum tentu siapa yang menang. Tapi satu hal yang mesti you ingat, di Malaysia ini ada 1 juta orang Indonesia, 1000 orang saja saya ajari Bom, dan mereka Bom ini gedung-gedung di Malaysia maka habislah kalian”. Najib bilang, “Pak Jusuf, tidak bisa begitu”.

Untuk menunjukan ketaksukaannya dengan Malaysia, Ia menolak menginap di Kuala Lumpur. Ia memilih menginap di kampung Bugis di Johor. Najib ikut. Malamnya digelar acara santai makan malam dan nyanyi bersama di sana. Diplomasi berhasil. “Saya menggunakan gaya diplomasi ala Bugis yang anda tidak dapatkan dalam literature strategi diplomasi,” tulisnya. Sikap blak-blakan itu ia tunjukan pula ketika menangani kasus Blok Natuna.

Modal jejaring politik JK juga kuat. Ia mantan Ketua Umum Golkar. Dengan jaringan politik itu ia bisa memainkan peran penting untuk memengaruhi keputusan politik di negeri ini. Sebagai mantan Wapres sampai sekarang ia masih menunjukan pengaruhnya. Lihat saja acara “rapat kabinet” yang diisi banyak para mantan menteri di Wisma Kalla, Senin (media Indonesia.com, 18/01/2009). Meski tak lagi menjabat Wapres, ia tetap dianggap tokoh yang berpengaruh.

Modal lain yang dimiliki JK adalah kedekatannya dengan media. Di kalangan media, ia dianggap narasumber penting yang komentarnya ditunggu-tunggu, bahkan hingga sekarang. Tak pelit bicara, dan sekali lagi, blak-blakan.

Satu lagi, JK juga jenaka. Strategi untuk membuat hal rumit jadi mudah. Dan politik menjadi sederhana.  Mengomentari pelemparan sepatu wartawan Irak ke Presiden AS George Bush, JK berseloroh.  “Jadi saya tahu caranya, nanti kalau ada keterangan pers, sepatu wartawan harus ditali,” kata Jusuf Kalla sambil memeragakan kedua tangannya mengikat sepatu. Soal pelemparan sepatu itu, JK melanjutkan, juga akan menjadi bahan pidatonya pada konferensi regional Asia Pasifik perlindungan jurnalis internasional. Dan kalau bisa, katanya lagi, tema yang tadinya “Keselamatan Wartawan” sebaiknya diubah jadi “Keselamatan Presiden dari wartawan”. Lalu disambut gerr para wartawan.

Maka dengan modal semacam ini saya merasa JK memiliki peran penting untuk menjadi tokoh kritis di luar pemerintah yang mampu mengontrol, meluruskan, sekaligus menyuarakan kepentingan masyakat. Dengan konsentrasi kekuasaan politik seperti sekarang ini selalu dibutuhkan figur-figur berpengaruh untuk menyeimbangkan kekuasan.

Tapi, JK adalah seorang saudagar. Dan sebagian orang pesimis jika JK memiliki keberanian untuk memerankan peran di atas secara maksimal. Inilah tantangannya! []

Depok, Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s