Padepokan Pengajian Dibakar Massa

Noor Rohman & Alamsyah M. Dja’far

Sebuah padepokan pengajian di Desa Sekong RT 01 RW 01, Kecamatan Ci­­­ma­­nuk, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (8/9) malam, ludes dibakar massa yang jumlahnya puluhan orang. Beruntung  tak ada korban jiwa dalam aksi tersebut. Pimpinan padepokan beserta pengikutnya kebetulan tak ada di tempat. Sejumlah media menyebut nama padepokan yang berdiri sejak lima tahun silam itu berbeda-beda. Ada yang menyebut Padepokan Zikir Qodariyah-Naqsabandiyah, Kelompok Islam Hakekok atau Wali Gaib.

Peristiwa pembakaran sendiri konon dipicu oleh dugaan Syahrudin, pimpinan pengajian, mempraktikan ajaran menyim­pang berupa praktik pernikahan gaib, ritu­al pernikahan tanpa saksi, wali dan penghulu, cukup dengan kehadiran mempelai laki-laki dan perempuan.

Selain itu, menurut salah seorang warga, Ustadz Syah, demikian panggilan akrab Sahrudin, juga melakukan aktivitas ibadah dengan cara aneh. “Puluhan penga­nutnya dikumpulkan di padepokan dan hanya mengucap bacaan zikir saja tanpa melakukan salat, jadi kami terpaksa membakar tempat ini,” katanya seperti dikutip okezone.com (10/09).

Kepada media, Jupran bin Satra (44 ta­hun), Sekretaris Desa Sekong, menjelaskan. Sehari sebelumnya, Senin (7/09), Istri Syahrudin bernama Ririn membuat pengakuan heboh di hadapan sekitar 300-an warga desa. Ririn sendiri sudah sekian lama meninggalkan Syahrudin untuk sebuah alasan. “Dalam pengakuan Ririn itu, diperoleh keterangan bahwa saat dikawini Sahrudin, Ririn berstatus janda beranak tiga, yang di antara anaknya bernama Sri Sumarwanti dan Intan. Dari penikahan dengan Ririn, Sahrudin memiliki seorang anak,” katanya seperti dikutup Media Indonesia (09/09).

Masih menurut Jupran, menginjak usia kesekian perkawinan kedua, Syahrudin meminta Ririn menjadi wali atas per­nikahannya dengan Sri. Caranya dengan me­ni­kah secara gaib. “Permintaan itu son­tak membuat Ririn terkejut, namun ia sendiri tak kuasa menolaknya,” katanya. Ririn kecewa, lalu meninggalkan Syahrudin, meski tanpa surat cerai karena mereka menikah dengan cara kawin gaib.

Kepada pihak kepolisian yang mengon­frontirnya dengan perempuan yang diduga dicabuli, Ririn dan anaknya SW, Syahrudin membantah tudingan ini. “Dia (Syahrudin-red) tetap tak mengakui per­buatannya itu. Bahkan ia mengucapkan lafadz istighfar ketika dikonfrontasi. Nah makanya kami masih harus melakukan pendalaman lagi,” ungkap Wakapolres Pandeglang Kompol Deni Okvianto seperti dikutip radarbanten.com (11/09). Sayangnya hingga berita ini diturunkan Syahrudin belum bisa dimintai komentarnya.

Melalui proses pemeriksaan, Polres Pandeglang akhirnya menetapkan empat warga Ac, Ag, Dn, dan Ar sebagai tersangka yang diduga kuat menjadi pelaku perusakan gedung pengajian yang agak terpisah dari rumah penduduk sekitar ini. Keempatnya merupakan warga Desa ­Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, dan kini mendekam di sel Mapolres Pandeglang karena melanggar pa­sal 170 KUHP, dengan ancaman 5 tahun penjara.  “Titik terang soal kasus ini mulai ter­ungkap. Kami sudah menetapkan empat tersangka,” ujar AKP Idra Hermawan, Kasat Reskrim Polres Pandeglang, kepada Radar Banten, Jumat (11/9).

Sementara itu demi mengetahui apakah Sahrudin melakukan penistaan agama, menurut Wakapolres pihaknya akan berko­ordinasi dengan MUI dan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem). “Ini penting dilakukan. Nan­tinya baik MUI maupun Bakorpakem melakukan sidang terhadap Ustadz Syahrudin untuk mengetahui ajaran apa yang selama ini disebarkan. Setelah ada keterangan dari MUI dan Bakorpakem, maka polisi bisa menentukan penggunaan pasal-pasal dalam KUHP,” ujarnya.

Namun beberapa hari setelah itu pihak Majlis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Ban­ten langsung menyatakan jika aliran Hakekok menyimpang. ”Oleh karena itu MUI Banten mendesak Badan Koordinasi Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) segera bertindak tegas,” kata Ketua MUI Banten KH Aminudin Ibrohim di Serang (republika, 10/09).”Yang dimaksud menyimpang itu, beribadah cukup ­dengan niat dan dilakukan di tempat gelap. Selain itu laku-laki dan wanita yang bukan muhrimnya diperbolehkan bercampur (berhubungan badan-red),” kata Aminudin.

 

Dimuat di Montly Report on religious Issues The Wahid Institute Edisi 23 [Oktober 2009]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s