Delik Penghujatan di Penjuru Negara

Oleh: Alamsyah M. Dja’far

Sekitar 200 orang berkumpul di depan pengadilan Amsterdam, Belanda pada Rabu (20/1/2010). Orang-orang itu membawa poster berisi dukungan terhadap Geert Wilders yang tengah diadili atas dakwaan menyebar kebencian dan diskriminasi terhadap komunitas muslim. Sebuah poster memperlihatkan wajah politisi flamboyan dari sayap kanan Belanda itu dengan tanda silang merah di mulut. “Hentikan islamisasi Eropa,” teriak salah seorang dari mereka. Sejumlah petugas tampak berjaga-jaga.

“Ada banyak dan sangat banyak dari mereka (umat Islam) yang baik, sopan, dan pekerja keras- ini bukan tentang itu,” kata Jeroen Korthuis, yang datang dari provinsi utara Friesland untuk terlibat dalam protes hari itu. “Ini tentang jumlah mereka,” katanya.

Di dalam pengadilan, jaksa menuntut Wilders si pembuat film pendek ‘Fitna’ ini dengan hukuman penjara 15 bulan atau denda hingga 18,500 euro atas sejumlah pernyataannya tentang komunitas muslim. Ini adalah hearing pertama di pengadilan yang akan menentukan apakah kasus yang dilakukan ketua Partai Kebebasan Belanda (Partij voor de Vrijheid) ini dilanjutkan atau tidak.

Dalam pandangan pengadilan Amsterdam, pengadilan Wilders itu tak melanggar Piagam Eropa tentang Hak-hak Asasi Manusia. “Pengadilan mengatakan berbeda dari kejaksaan, di sini ada cukup dugaan bahwa telah terjadi pelanggaran hukum. Bahwa ia patut didakwa. Tetapi juga banyak alasan untuk berpendapat bahwa Wilders sudah terlalu jauh,” kata Van Asperen de Boer jurubicara pengadilan Amsterdam.

Oleh jaksa Wilders dianggap menyebarkan kebencian yang dampaknya melintasi Eropa. Wilders juga pernah menyerukan agar pemerintah membebani pajak untuk pakaian yang biasa digunakan umat Islam seperti jilbab karena dianggapnya “mencemari” lanskap Belanda.

Filmnya berjudul ‘Fitna pada 2008 silam telah memicu amarah warga Islam seluruh dunia. Film tersebut memaparkan persamaan Islam dengan fasisme serta al-Quran dengan buku tulisan Adolf Hitler, Mein Kampf.

Film ini mendapat protes di berbagai negara seperti Pakistan, Iran, Indonesia, dan Afganistan. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon bahkan menganggap film ini sebagai bentuk “penyerangan anti-Islam.”

Wilder menolak menolak tuduhan itu. Sekali lagi ia beralasan pembuatan film ‘Fitna’ merupakan bentuk perwujudan hak kebebasan berbicara. “Saya juga tidak bermaksud menyakiti perasaan masyarakat. Saya tidak memusuhi kaum Muslim. Saya hanya punya masalah dengan Islam dan Islamisasi terhadap negeri kami sebab Islam bertentangan dengan kebebasan,” ujarnya.

Wilder sendiri memang tak dijerat dengan UU antipenghujatan.  Tahun 2008 UU yang menghalalkan sesorang diadili atas tuduhan menghujat tuhan itu dicabut pemerintah Belanda.

Mayoritas partai-partai di parlemen menyatakan, menawarkan perlindungan hukum ekstra terhadap kelompok-kelompok agama sudah ketinggalan jaman. Mereka mengatakan, orang-orang religius tidak berhak atas perlindungan yang lebih besar dibanding orang-orang yang kurang beragama.

“…pada dasarnya salah kalau orang-orang yang lebih percaya pada agama mendapatkan perlindungan lebih dibanding orang-orang yang tidak percaya. Terima kasih Tuhan bahwa itu sekarang berakhir. Dan lagipula siapa yang memutuskan apakah Tuhan merasa disinggung atau tidak?” kata Jan de Wit dari partai oposisi Partai Sosialis.

UU penghujatan artikel 147 ini memakan korban pada tahun 1960. Penulis ternama Belanda Gerard Reve diseret ke pengadilan. Reve menulis Tuhan turun ke bumi sebagai keledai. Ia lantas menggambarkan dirinya dengan sangat detil jika ia melakukan hubungan seks dengan keledai itu. Tulisan tersebut menyulut kemarahan partai-partai politik Kristen. Mereka mempertanyakan perkara ini ke parlemen. Reve akhirnya dituntut, tapi setelah naik banding dinyatakan tak bersalah.

Sebagai gantinya, kabinet Belanda berupaya memperkuat UU antidiskriminasi yang melindungi kelompok-kelompok manapun dengan latar belakang berbeda. Dalam UU itu hal religius dihapus. Menteri kehakiman Ernst Hirsch Ballin mengatakan, UU ini menawarkan perlindungan sama terhadap seluruh kelompok masyarakat.

Vonis menyebar kebencian dan diskriminasi ini pernah dialami Politikus Belanda Hans Janmaat dari Centrumpartij, bahlan hingga tiga kali vonis dan hukuman penjara bersyarat antara 1995 dan 1997. Ia pernah mengatakan multikultural sebaiknya dihapus saja.

Ketua RPF Leendert van Dijke dan Imam Khalil El Moumni dituntut tapi tidak dihukum karena menyamakan homoseksualitas dengan pencurian dan penggelapan (van Dijke) dan penyakit (El Moumni). Argumentasi untuk membebaskan mereka adalah karena ucapan-ucapan itu berkaitan dengan kepercayaan mereka.

Melalui prosedur sipil tahun 1991 seniman kesohor Theo Van Gogh divonis hukuman denda 1000 gulden terkait ucapannya yang anti semitis. Tapi dalam perkara pidana, hakim membebaskannya.

Di negara-negara Barat, undang-undang terkait blasphemy ini sebagian besar sudah ditinggalkan demi menghormati kebebasan beragama, berkeyakinan, dan berekspresi sebagai prinsip universal. Meski tak sedikit negara yang masih memiliki undang-undangnya semacam ini, tapi kebanyakan sudah tak memakainya.

Misalnya Amerika. Pasal tentang blasphemy atau penghujatan ini masih bertahan di UU beberapa negara bagian seperti negara bagian Massachusetts. Pasal ini dipakai terakhir kali di Massachusetts pada 1838 dalam kasus Commonwealth versus Kneeland. Kasus serupa muncul terakhir kali di level pengadilan federal tahun 1952 dalam kasus Joseph Burstyn, Inc. versus Wilson. Dalam kasus itu, Mahkamah Agung menolak memakai pasal blasphemy karena melanggar prinsip kebebasan berpendapat.

Namun demikian ada sejumlah kasus yang muncul di negara-negara Eropa di mana negera mengambil sikap atas kasus yang mirip dengan penghujatan. Alasan yang digunakan demi melindungi kebebasan beragama warga negara lain.

Pada 1994 pengadilan Dewan Hak Asasi Manusia Eropa menyita film Das Liebeskonzil yang dibuat Otto Preminger Institute karena dianggap barang yang menyebarkan penghujatan. Dan keputusan yang diambil dengan pengambilan suara enam banding tiga itu dianggap tak melanggar hak kebebasan berekspresi yang dilindungi oleh Pasal 10 Konvensi Eropa.

Film yang dirilis pada 1895 ini menggambarkan tuhan atau nabi dari agama Yahudi, Kristen dan Islam sebagai orang tua pikun yang bersujud di depan iblis, menciumnya, dan menyebut iblis itu sebagai teman. Film ini juga dinilai menghina Bunda Maria dengan adegan erotis Bunda Maria bersama iblis dan menggambarkan Jesus Kristus sebagai orang keterbelakangan mental.

Film ini menyindir kepercayaan Kristen dan hubungannya dengan agama lain. Pengadilan Negeri Innsbruck kemudian memerintahkan menyita dan memberikan denda pada film karena melanggar hukum dengan menghina suatu ajaran agama berdasarkan Bagian 188 Hukum Pidana di negeri yang 87 persennya beragama Katolik Roma itu. Keputusan ini juga dianggap sebagai tindakan melindungi hak kebebasan beragama warga lain yang dilindungi Pasal 9 Konvensi Eropa tentang Perlindungan Hak Asasi Kebebasan Fundamental Manusia.

Dewan Komisi Eropa juga pernah menolak memberi izin distribusi film Visions of Ecstasy yang disutradarai Wingrove. Atas tindakan tersebut, Mangrove melaporkan kepada Komisi Eropa bahwa Inggris (UK) telah melanggar Pasal 10 dengan ikut campur dalam hak kebebasan berekspresi. Film ini memperlihatkan secara erotis impian atau khayalan seorang biarawati terahadap Yesus Kristus yang tergantung di salib. Badan klasifikasi Film Inggris menolak permohonan untuk memperoleh sertifikat klasifikasi, yang berarti film itu tak boleh didistribusikan, dijual, dan disewasakan atau diedarkan kemasyarakat umum.  Tindakan ini dianggap tak melanggar demi melindungi hak yang lain dan terutama melindungi hal-hal yang dianggap suci oleh umat Kristen.

Kasus ini berbeda dengan yang dialami Anjem Choudary muslim kelahiran Inggris yang juga mantan pengacara. Komisi Ham Eropa menolak gugatanya bahwa penolakan pejabat berwenang Inggris untuk memproses secara pidana Salman Rushdie dan penerbit buknya Satanic Verses melanggar perasaan keagamaan dan hak atas kebebasan beragama. Alasannya memang agak membingungkan, hukum yang tersedia hanya melindungi perasaan keagamaan orang-orang Kristen, Islam

Terkait isu islamofobia dan penghinaan terhadap Islam, beberapa tahun lalu Organisasi Konferensi Islam (OKI) bekerja sama Dewan HAM PBB meninjau ulang standar hak asasi manusia internasional untuk membatasi kebebasan berekspresi apapun yang mengancam kebebasan beragama anggota mereka.

Terkait kasus kartun di Jyllands-Posten, negara-negara OKI berpandangan bahwa pencemaran nama baik dan nabi dinilai tak konsisten dengan kebebasan berekpresi. Sikap itu disampaikan dalam pertemuan OKI pada awal Februari 2006 yang dihadiri 57 anggotanya.

Seperti diketahui, sikap negara-negara Eropa terkait kasus Jyllands-Posten beragam. Umumnya menilai jika isu itu masih ada dalam koridor kebebasan berekpresi. Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen misalnya menolak bertemu dengan 11 duta besar dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim terkait kasus itu. Ia menilai pemerintah tak punya instumen untuk mengambil tindakan terhadap media. Hal senada juga dilakukan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg. Pihaknya tak bisa meminta maaf atas kasus yang dilakukan media cetak itu. []

Dari berbagai sumber
AP/RANESI.NL/TEMPO INTERAKTIF

2 thoughts on “Delik Penghujatan di Penjuru Negara

  1. Assalamualaikum salam kenal bang, kami tunggu y kehadirannya tgl 20 maret 2011 di masjid miftahul huda, mudah-mudahan tidak ada halangan, kami sangat menunggu kehadiran abang, ( santri Ustd. masta hermansyah)

    1. Mas Try Prasetyo. Salam kenal, kalau tak ada halangan insyaallah kami hadir dan berdiskusi dengan teman-teman soal novel Lelaki Laut dan Sastra Pesantre. Beberapa teman di Jakarta juga menitipkan beberapa buku untuk bahan bacaan teman-teman di pesantren. Sampai ketemu nanti. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s