DISKUSI KAMISAN (2): Tantangan Media Islam, Kompromi Ideologi dan Pasar

Jakarta, NU Online Pasca reformasi, media bertumbuhan dengan cepat setelah dicabutnya Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP) sehingga masyarakat bisa menerbitkan media tanpa perlu mendapat izin. Pada saat eforia, dalam satu hari bisa muncul lima penerbitan baru, tetapi pada hari yang sama, jumlah yang sama mengalami keruntuhan.

Persoalan utama yang dihadapi media Islam adalah besarnya modal yang dibutuhkan dalam bisnis media dan persoalan manajerial. Untuk bisa bertahan dan berkembang dengan baik, diperlukan pula kompromi antara ideologi dengan permintaan pasar.

Hal ini disampaikan oleh Alamsyah M Jakfar, mantan Pimred Syir’ah dalam Diskusi Kamisan dengan tema Media Islam Kini yang diselenggarakan di kantor redaksi NU Online (21/10).

“Disitulah tantangan paling penting dari media Islam kalau dia mau tetap bertahan dan bisa menyapa pembaca,” katanya.

Ia memperkirakan, saat ini terdapat sekitar 830 media cetak yang ada di Indonesia, tetapi yang bisa dikatakan sehat tak lebih dari 30 persen, termasuk didalamnya media Islam.

Strategi pasar yang salah, meskipun dimodali dengan dana besar terbukti gagal meraih simpati dari pasar. Ia mencontohkan penerbitan majalah Madina, yang dibuat dengan kertas yang mewah dan tampilan yang bagus ternyata tak cukup diserap oleh pasar sehingga harus tutup.

“Kita bisa menciptakan kebutuhan pasar. dalam banyak aspek, pasar tak hanya menerima, kita bisa menciptakan kebutuhan. Media massa Islam belum mampu membangun kebutuhan pasar sehingga mendapat captive market,” terangnya.

Ia mencontohkan, beberapa tahun lalu, masyarakat masih asing dengan bank syariah, tetapi berkat edukasi yang terus-meneruts, akhirnya menjadi kebutuhan masyarakat perkotaan.

Secara global, ia mengelompokkan media Islam dalam dua ketegori, pertama, mereka yang mengusung isu penegakan syariah, jihad dan menginginkan berdirinya negara Islam.

Dalam konteks itu, ia memasukkan majalah Sabili dan Hidayatullah dalam kelompok media massa Islam. Sabili pernah menjadi ikon penting kelompok ini dan secara fenomenal berhasil mengembangkan oplahnya dari 17 ribu sampai puncaknya menjadi 120 ribu sebelum akhirnya kembali menurun.

Besarnya oplah yang dicapai oleh Sabili salah satunya liputan-liputannya terkait dengan konflik di Ambon dan Poso serta isu-isu keislaman lainnya.

Majalah Hidayatullah, yang berkembang dari pesantren Hidayatullah, memiliki pasar yang cukup stabil hingga saat ini, yang mencapai sekitar 40 ribu eksemplar dengan segmen para santri dan alumninya. Beberapa majalah lain yang dikategorikan Islamis adalah majalah Ummi dan Annida dengan segmen ibu-ibu muslimat, annida, remaja muslim.

Kategori kedua adalah media Islam popular yang bisa dibagi lagi menjadi mistik Islam dan lifestyle. Yang mewakili mistik Islam adalah Hidayah, yang merupakan paling fenomenal di Indonesia karena oplahnya pernah mencapai 400 ribu eksemplar per bulan yang sampai akhirnya berpengaruh terhadap munculnya trend tayangan mistik di TV yang merupakan visualisasi dari tulisan di majalah tersebut.   Selanjutnya, untuk kategori lifestyle adalah majalah Paras, yang mengambil segmen ibu-ibu muslimah dengan mengeksplorasi trend fashion, majalah Muslimah dan majalah Anggun, yang merupakan majalah pernikahan. Terdapat pula majalah Alia dan Nur. Dalam kategori majalah berita Islam adalah Panji Masyarakat.

Ia menjelaskan, media yang sehat adalah media yang hidup dari penjualan majalah dan iklan, pencarian dana dalam bentuk lain seperti penyelenggaraan berbagai pelatihan yang bersifat komersial yang menjadi pemasukan bagi perusahaan.

“Hidayah, sampai tahun 2007, sangat mengandalkan penjualan majalah sementara saat ini hampir tidak mungkin hanya semata-mata mempertimbangkan penjualan majalah, kalau tidak ditopang lain, yaitu iklan, baru belakangan Hidayah berusaha mengejar pendapatan iklan,” paparnya. (mkf) 

Sumber: nu.or.id | Jumat, 22 Oktober 2010 15:04

http://www.nu.or.id/page.php

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s