Politik dan Perkawinan: Catatan Lepas untuk Sang Guru

Oleh Alamsyah M. Dja’far

Mendekati pintu gerbang setinggi satu setengah meter berwarna hijau, mobil yang kami tumpangi berjalan pelan lalu berhenti. Setelah beberapa kali klakson menyalak, seorang anak muda berkopiah putih membuka gerbang dan mempersilakan kami ramah memarkir mobil di bawah kanopi di halaman sebuah rumah yang menghadap selatan. Saat kami datang pada Senin malam 27 September 2010 lalu, jarum jam menunjukkan sekitar pukul 19.45. Suasana di luar rumah dingin. Belum lama hujan yang mengguyur Jakarta sejak pukul  lima sore reda.

Rumah ini berhimpitan dengan gedung berlantai empat yang menghadap utara. Ada beberapa pohon yang tumbuh di halaman rumah dan kolam ikan. tak jauh dari situ, berdiri bangunan berlantai tiga. Lantai dasar berfungsi sebagai masjid. Dua lantai lagi berfungsi sebagai perkantoran dan ruang kelas. Di bagian selatan ada sebuah gedung lagi berlantai empat, sebagai kamar-kamar santri dan ruang-ruang kelas. Komplek pesantren ini luasnya lebih darai 2 hektar.

Bertetangga dengan Jalan Raya Surya Sarana, kedoya, Jakarta Barat, rumah itu bukanlah tempat yang asing buat saya. Memasuki ruang tamu rumah, langsung membetot kenangan saya pada sebuah peristiwa penting empat belas tahun silam.

***

Tahun 1996. Sebuah liputan investigasi yang dibuat majalah mingguan Gatra menyengat sang pemilik rumah: KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Liputan itu ikut juga membuat seisi keluarga besar Pondok Pesantren Ashidiqiyyah yang dipimpinnya sejak tahun 80-an heboh dan sedikit terganggu. Paling tidak menjawab pertanyaan orang mengenai kebenaran isi berita. Kalau tak salah ingat, saat itu Ashidiqiyyah sudah memiliki beberapa cabang. Di antaranya di Batu Ceper Tangerang, dan Majalengka, Jawa Barat.

Majalah yang didirikan pengusaha yang dikenal dekat dengan rezim Orde Baru, Bob Hasan, itu menurunkan laporan utama mengenai “Heboh Perkawinan Seorang Kiai”. Kisahnya bermula dari surat yang dilayangkan Dewi Wardah, janda almarhum tokoh masyarakat Jakarta Utara Amir Biki, ke sejumlah tokoh masyarakat. Bersama surat berisi kisah pernikahannya dengan seorang Kiai itu, dilampirkan pula bukti surat cerai di atas segel bermaterai Rp 2000. Surat itu belakangan tersebar dari tangan ke tangan, juga nemplok di dunia maya.

Peristiwa ini membuat geger ulama di lingkungan NU, organisasi dimana KH. Noer berkecimpng. Termasuk juga kalangan MUI. Sebuah tayangan “Hikmah Fajar” yang diasuh KH Noer M. Iskandar di stasiun teve RCTI distop lantaran kasus ini. Pihak stasiun tak ingin kasus KH Noer berujung protes pemirsa yang 80 persennya umat Islam. “Noer Iskandar memahami keputusan direksi RCTI itu,” ujar Presiden Komisaris RCTI Eddy Nalapraya seperti dikutip Republika (9/4/1996).

Dewi Wardah, di laporan Gatra, dikisahkan sempat dinikahi seorang kiai kondang sebagai istri ketiga. Gatra menyamarkan nama kiai itu dengan menyebut “Kiai Fulan”. Prosesi itu dilakukan tanpa wali, tanpa mahar, tanpa saksi. Pernikahan super kilat tersebut berlangsung semalam di hotel Grand Metro Equatorial, 19 April 1995.

Laporan media yang berdiri sejak 1994 di edisi itu juga memuat wawancara tertulis dengan KH Noer terkait status perkawinan Dewi Wardah dengan “Kiai Fulan”, yang belakangan diketahui tak lain KH. Noer Iskandar. Dalam penjelasannya, KH Noer menjelaskan bahwa pernikahan tanpa saksi sah, asal tak dirahasiakan. Rujukannya, Imam Maliki, salah satu imam dalam tradisi Sunni; termaktub dalam Kitab Rahmatul Ummah (rahmat umat), Juz 2 halaman 33 dan Kitab Mizanul Kubro (mega timbangan) halaman 111. Meski begitu KH. Noer mengakui, dalam pandangan Imam  Syafi’i, hukum pernikahan semacam ini tak sah.

Masalah ini pula yang menjadi sabab-musabab KH. Noer sempat mengumpulkan santri Aliyah kelas 4-6 (1-3 Aliyah) di rumahnya suata malam selepas magrib. Satu di antara ratusan santri itu adalah saya yang saat itu masih duduk dibangku kelas 5.  Di hadapan para santri KH. Noer mengatakan, apa yang dialaminya sebuah cobaan dari Allah SWT. Untuk menjalaninya keluarga besar Ashidiqiyyah harus banyak bertawakal dan berdoa. Ia juga meminta kami para santrinya untuk mendoakannya agar masalah ini bisa dilalui.

Saya masih ingat, selama hampir seminggu berturut-turut kami membaca yasin dan Hizib Nasr di rumah KH. Noer. Hizib Nasr, sebuah zikir dan amalan yang dibaca saat menghadapi masalah-masalah pelik dan berharap mendapat pertolongan dari Allah. Dari beberapa santri saat itu, saya mendengar amalam hizib Nasr ini amalan “kelas berat” dan tak boleh sembarang orang mengamalkannya.

“Belakangan baru saya tahu, di balik semua ini ternyata ada kerja politik yang sistematis,” Kata KH. Noer suatu ketika. Problem yang diakuinya sebagai problem terpelik sepanjang hidupnya itu dikemukakannya panjang lebar dalam buku Pergulatan Membanguan Pondok Pesantren edisi revisi yang ditulis Amin Idris pada 2009. Isinya perjalanan hidup kiai kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Juli 1955 ini.

Di buku setebal 294 halaman itu ia berterus terang. Isu ini amat terkait erat dengan sikapnya yang tak mau masuk dan mendukung pemenangan Golkar pada pemilu 1997. Pada pemilihan sebelumnya, fakta menunjukan suara Golkar di kantong-kantong NU memang merosot. Dan demi mendongkraknya tokoh golkar butuh tokoh kiai berpengaruh.

Dari media, KH. Noer juga menyimpulkan ada keinginan seorang tokoh Golkar akan mengambil alih Ashidiqiyyah. Sekali lagi KH. Noer bergeming. Ia tak ingin menerima tawaran bergabung dengan Golkar, tak ingin juga Ashidiqiyyah diambil alih. Penolakan ini kemudian juga berbuntut teror dan ancaman pembunuhan. Saat itu saya juga mendengar isu, mobil Pajero yang ditumpangi KH. Noer ditembak orang tak dikenal. Beruntung, ia selamat.

Saya sendiri belakangan masih berpandangan jika pernikahan tersebut memang agak “bermasalah”. Meski saya juga dapat memahami, KH. Noer pasti memiliki alasan tersendiri mengapa memilih melakukannya. Saya berandai-andai, jika saja KH. Noer tak melakukannya pasti ceritanya akan berbeda.

***

Rumah itu tak banyak berubah sejak pertama kali saya pernah masuk ke dalamnya. Ruang tamunya luas, sama seperti dulu. Diberi karpet lembut berwarna cokelat. Di sinilah waktu itu kami santri-santrinya dikumpulkan ketika isu Dewi Wardah mencuat. Tak jauh dari tangga ke lantai atas, terdapat beberapa kursi dan sebuah meja. Di dindingnya ada foto besar KH Noer. Pada dinding sebelah barat, terpampang pula foto KH. Noer bersama Menteri Agama Suryadharma Ali, yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan.

Di bagian timur, masih ada ruang tamu dengan kursi-kursi dan meja-meja memanjang ke sebalah selatan. Saat kami tiba, sekitar enam orang tengah mengobrol dengan KH Noer yang mengenakan kopiah dan gamis putih. Yang jelas berubah dari wajah KH. Noer adalah gurat ketuaan. Usianya sudah lebih dari setengah abad.

Di ruangan berkarpet cokelat itu kami menunggu giliran bertemu di temani secangkir teh dan beberapa panganan.

Taman Amir Hamzah, 2 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s