Bukber & Diskusi “Bersama” Gus Dur

Oleh : Alamsyah M. Dja’far

Diskusi itu dimulai sekitar 15 menit sebelum beduk Magrib dalam suasana santai. Kami bertujuh mengambil ruangan seluas 2X4 meter yang disekat pembatas dari bambu. Modelnya lesehan. Ruangan ini diisi meja berbalut warna cokelat setinggi 40 centimeter yang memanjang ke samping, yang di letakan dibagian tengah. Di atas meja sudah tersedia kendi-kendi berisi air putih, lengkap dengan gelas kaca kecil seperti yang biasa dipakai untuk minum air jahe atau jeruk nipis para penjual jamu. Beberapa kelompok lain berjumlah sekitar 5-10 orang sudah lebih dulu meriung di ruang utama dan beberapa ruangan, persis di samping ruangan kami. Mereka kebanyakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tempat diskusi kami ini memang didominasi bahan dari bambu, mulai dari pembatas ruangan, tiang-tiang penyangga, hingga lantai. Sepertinya disesuaikan dengan konsep rumah makan yang diberi nama Saung Bambooina. Rumah makan panggung itu letaknya tak jauh dari tembok yang mengeliling gedung UIN di jalan Pesanggrahan Ciputat, dekat aula Insan Cita milik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat.

Hawa masih terasa dingin, maklum beberapa puluh menit lalu hujan baru saja mengguyur. Saya yang meluncur dari Wahid Institute pukul 14.30 WIB juga diguyur hujan mulai dari Jalan Kebayoran lama hingga Ciputat. Sepatu, sarung tangan, dan sebagian lengan jaket basah. Yang lain tidak, berkat jaket penyelamat.

Semula kegiatan diskusi yang digarap para alumni kelas Tadarus Kolom-Kolom Gus Dur (TKGD) ini direncanakan di asrama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jalan Ibnu Taimia, Ciputat. Pesertanya diprediksi sekitar 15 orang. Sayang, karena sebagian mahasiswa sudah pulang kampung karena kampus libur, peserta yang hadir hanya sekitar lima orang. Mereka yang masih bertahan di kos-kosan, hari itu juga punya agenda lain. Ada yang hendak buka puasa bersama, ada pula yang menjadi pendamping dalam kegiatan pesantren Ramadhan di jam yang sama. Supaya lebih private dan nyaman, akhirnya ruang diskusi dipindah sambil menyantap buka puasa.

Diskusi dipandu Abdullah Alawi, salah seorang panitia sekaligus fasilitator yang selalu mendampingi kelas-kelas TKGD pada periode Mei silam. Hari itu, putera sunda ini pula yang mengelola pertemuan di Ciputat. Setelah berbasa-basa sedikit, waktu selanjutnya diberikan Arlian Buana Chrissandi, biasa akrab disapa Bana, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah.

Ketika mendaftar sebagai salah satu peserta TKGD, aktivis PMII ini mengirim artikel bertajuk “Memahami Komunisme Bersama (a la) Gus Dur”. Isu ini dianggapnya menjadi salah satu isu paling menarik dari beragam gagasan besar Gus Dur. Bukan hanya karena senstitif, apalagi dibicarakan pada peiode 80-an ketika cengkeraman kekuasaan Orde Baru begitu kuat, tapi persis di situlah menurutnya Gus Dur hendak mendudukan wacana ini lebih utuh yang pada ujung kesimpulannya berusaha melawan arus pemikiran umum.

Meski sebagian besar kalangan muslim di banyak negara menolak konsep komunisme, tapi Gus Dur, jelas Bana, sangat fasih menyuguhkan fakta sebaliknya. Pada praktiknya, tak sedikit kalangan muslim justru bersinggungan dan melakukan “perselingkuhan” dengan ide-ide ini. Kata Gus Dur, di sinilah letak masalahnya: kita sering dangkal melihat hubungan Islam dan komunisme dalam ranah sikap “resmi” Islam dan “sikap Islam yang hidup dalam praktik”.

Dalam kolomnya “Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme”, Gus Dur kemudian mengutip banyak fakta perselingkuhan dan persinggungan itu. Di Libya, di masa Muammar Khadafi, komunisme secara formal memang dilarang. Namun menurut Gus Dur itu dipraktikan dalam doktrin politik Khadafi. Misalnya “kelompok pelopor revolusi” yang dianggap sebagai konsep Lenin tentang pengalihan dari kekuasaan Kapitalisme. Begitu juga konsep “pimpinan revolusi”, yang dicanangkan sebagai “dewan-dewan rakyat” (al-jamariyah).

Gus Dur juga menyebut menyebut nama Masoud Rajavi, pemimpin gerakan Mojaheddin eKhalq yang bergerak di bawah tanah di Iran dan digerakan dari Paris. Kelompok ini menggunakan analisis perjuangan kelas yang mengikuti acuan Marxisme-Leninisem. Gus menyinggung presiden Mesir berideologi sosialis Jamal Abdul Nasser, yang dinilainya sedikit banyak mentolerir kehadiran pemimpin-pemimpin komunis sejauh mereka tak melakukan subversif. Sikap itu kata Gus Dur, diikuti pula oleh kedua rezim sosialis Ba’ath(kebangunan) di Irak dan Syiria kala itu.

Kepada yang hadir Bana berterus terang, demi membaca tulisan Gus Dur ini kita tampaknya harus pula membaca lagi informasi mengenai orang dan kelompok-kelompok disinggung Gus Dur di dalamnya. Saya kira, juga termasuk penguasaan kita pada peta kawasan.

Jika Anda membaca artikel Gus Dur yang diterbitkan Persepsi No.1 itu, selain Indonesia Anda akan menemukan bahwa Gus Dur setidaknya menyebut 12 negara di dalamnya, dari Uni Soviet, Italia, Perancis, Mesir, Arab Saudi, Lybia, Irak, Iran, Syiria, Afgahnistan, Sri-Lanka, hingga Filipina.

Di tulisan ini Gus Dur juga banyak menyebut tokoh-tokoh yang tampaknya masih asing di telinga hingga saat ini, apalagi pada era-era 80-an. Tak heran, bagi anak-anak muda NU era 80 hingga 90-an, nama-nama pemikir yang disebut Gus Dur biasanya akan dicari-cari dan menjadi rujukan populer dalam studi pemikiran Islam dan gerakan sosial. Sebut saja Antonio Gramsci asal Italia, Mohammad Arkoun dan Ali Merad asal Aljazair yang tinggal di Prancis.

Tiga nama di atas memang disebut Gus Dur untuk menunjukan adanya angin segar dari usaha-usaha melihat Marxisme-Leninisme yang lebih humanis. Ketiganya dikenal sebagai pemikir kiri.

Bagaimana komunisme di Indonesia? Pertanyaan ini mendapat penjelasan di akhir tulisan Bana. Mengutip Gus Dur, penolakan terhadap Marxisme-Leninisme melalui ketetapan MPR lebih disebabkan bahwa kaum muslimin telah dua kali dikhianati kaum komunis pada 1949 dan 1965. Kesimpulannya, ini persoalan politis ketimbang ideologis. Isu ini yang kemudian direkayasa sedemikian rupa oleh Orde Baru hingga mengakibatkan ribuan korban.  Saat menjadi presiden, Gus Dur mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan komunisme.

Usai Bana, waktu diberikan kepada Ana Ainiyatul Farihah, salah seorang alumni peserta TKGD yang lain. Mahasiswa UI Depok ini menyuguhkan presentasi yang agak jarang dibicarakan secara serius. Sebab, bagi banyak kalangan jutsru di bidang inilah Gus Dur dan umumnya komunitas NU kedodoran. Kelompok yang selalu dibilang tradisionalis itu tak punya basis sosial yang memadai dalam bidang ini. Pembicaraannya seputar “Gus Dur Ditinjau dari Sudut Manajemen”. Jika Anda Mahasiswa IAIN, anda pasti ingat judul asli sebuah buku wajib di perguruan agama ini karya alrmarhum Harun Nasution: Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek. Kejatuhan Gus Dur dari kursi presiden pada 2001, bagi sebagian pengamat kala itu dianggap bukti mantan petinggi PBNU ini memang tak punya skill manajerial.

Tapi Ana punya pendekatan yang berbeda. Dalam pandangannya, dalam banyak kasus Gus Dur diam-diam justru menggunakan “manajemen”. Contohnya ketika Gus Dur memimpin sidang sub-komisi Khittah dalam Muktamar PBNU di Situbondo. Dari sub-komisi yang lain, sub-komisi inilah yang tercepat menyelesaikan tugas. Komisi yang lain bahkan ada yang selesai merampungkan rekomendasi menjelang subuh.

Cara yang dipakai Gus Dur waktu itu memberi masing-masing orang untuk bicara mengenai rekomendasi yang akan dibuat. Dilakukan secara bergiliran. Usai semua berbicara, Gus Dur bilang, “bagaimana kalau pandangan-pandangan tadi yang kita catat sebagai rekomendasi?” Semua setuju. Gus Dur mengetuk palu. Kisah ini diceritakan KH. A. Mustofa Bisri asal Rembang, kolega dekat Gus Dur, yang juga salah seorang anggota dalam sub-komisi itu, dalam perhelatan Milad Gus Dur, 7 Agustus silam di Ciganjur.

Dalam bahasan berikutnya, Ana juga berkeyakinan jika Gus Dur juga juga menggunakan manajemen “Kaizen”, istilah lainnya, just in time. Kaizen berasal dari kata “kai” artinya perbaikan dan “zen” baik. Secara sederhana bisa dimaknai sebagai model manajemen yang berupaya melakukan perbaikan terus menerus dengan ciri khas melihat pada proses dan bukan semata-mata pada hasil.

Mendengar penjelasan ini, saya mengangguk-angguk. Saya lihat Abdullah Alawi juga menggeleng-geleng takjub seperti menemukan emas batangan berkilo-kilo. Dalam sesi Tanya-jawab saya mengajukan pertanyaan, mungkinkah kita melihat Gus Dur dari sudut manajemen, tapi tidak dalam pendekatannya yang positivistik, kaku, melainkan yang lebih menghargai pada tradisi? Saya juga menayanyakan jika pesantren tak memiliki “manajemen”, mengapa mereka bisa hidup ratusan tahun hingga saat ini?

Abdullah juga menyinggung soal konsep keikhlasan yang berkembang dalam tradisi pesantren yang disinggung Gus Dur dalam Pesantren Sebagai Sub-kultur. Yang menarik, kata Abah –panggilan akrabnya-konsep menerima apa adanya sebagai turunan dari konsep ikhlas justru dipandang Gus Dur memiliki sisi positif. Yaitu kemampuan mereka menerima perubahan dengan mudah dan fleksibel. Padahal umumnya orang hanya melihat ini dari sudut yang fatalistik. Apakah itu juga disebut manajemen?

Diskusi yang digelar pada 20 Agustus ini ditutup dengan pemberian buku Konflik dan Pergeseran Representasi terbitan Wahid Institute kepada dua presentator. []

Sumber: http://www.wahidinstitute.org  Kamis, 2 September 2010 03:32


One thought on “Bukber & Diskusi “Bersama” Gus Dur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s