Merangkul Keragaman Bersama komunitas antar-Iman Jerman

Gus Dur berhasil menunjukkan pada dunia bahwa Islam Indonesia bisa dijadikan model bagi pola keberagamaan dunia

The Wahid Institute menerima kunjungan beberapa tokoh agama dan aktivis dari komunitas Evangelis Jerman, Kamis Siang (28/01). Kunjungan ke kantor WI ini merupakan salah satu rangkaian acara visiting-study mereka di Indonesia selam dua minggu. Mereka yang datang itu adalah Vanessa J. Vob Gliszczynski (Desk-Office Political Office dari kedutaan Jerman), Paul Oppenheim (Evangelische Kirche in Duetchland), Simon Sinn (Evangelisch-Theologische Fakultat), Dieter Bartsch (Priest in GPJ),  Bishop Martin (Evangelische Kirche Spokesman in Duetchland), dan Kentz (peneliti asal Jerman).

Mereka diterima langusng peneliti senior WI Rumadi didampingi sejumlah staf: M. Subhi Azhari, Badrus Samsul Fata, Alamsyah M. Dja’far, dan Nurun Nisa’. Dalam pembukaan awalnya, Vanessa Gliszczynski pertama kali mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya pendiri lembaga yang juga dikenal sebagai pejuang pluralisme Indonesia Gus Dur. Mereka juga mendoakan keluarga besar Abdurrahman Wahid tabah dan kuat menjalani kesedihan atas kepergian orang yang amat dicintai.

Dalam diskusi, beberapa di antara mereka urun pikiran mengenai suasana keberagaman di Indonesia. Sebagian mereka menilai, situasinya makin membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Gus Dur berhasil menunjukkan pada dunia bahwa Islam Indonesia bisa dijadikan model bagi pola keberagamaan dunia. Hal ini tampak dari keprihatinan dunia atas meninggalnya Gus Dur, dan bahkan PBB merasa kehilangan salah satu figur perdamaian dunia ini,” tutur Openheim.

Diskusi berkembang hingga menyangkut isu keberagaman aktual terutama terkait peraturan daerah (perda) yang muncul di beberapa daerah seperti Aceh, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan beberapa wilayah lain. Rumadi menambahkan, selain perda bernuansa agama, Wahid Institute dalam laporannya mencatat terdapat sekitar 93 kasus intoleransi baik yang terjadi dilingkup internal umat Islam maupun antar umat beragama. Selama ini Wahid Institute juga banyak melakukan program dan kegiatan demi merespon situasi yang tengah berkembang. “Kami berusaha meningkatkan pemahaman para pemuka agama dengan mengajak semua perwakilan agama mayoritas dan para pemuka kelompok-kelompok minoritas agar semakin sadar pentingnya suasana damai dengan alasan dan motif apapun”, tutur Rumadi.

Beberapa isu global menyangkut kebebasan beragama juga mewarnai diskusi selama dua jam tersebut. Di antaranya  keberadaan Scientology yang berkembang di Jerman, Amerika, dan Inggris, juga pelarangan menara di Swiss yang hangat mencuat di media massa Nasional maupun Internasional. “Kami sangat menghargai keprihatinan beberapa kelompok Islam dan menyadari bahwa mereka sendiri banyak menghadapi kendala yang sama dalam membangun toleransi di negara mereka,” tutur Simone Sinn.

Usai acara rombongan ini memberi cindera mata berupa flashdisk berbentuk salib. “Jangan-jangan ini kristenisasi,” canda Alamsyah kepada rombongan yang disambut derai tawa. Pihak Wahid juga memberi cindera mata berupa sejumlah terbitan WI. Setelah itu dilanjutkan “sesi pemotretran” di halaman depan kantor WI. (BSF & AMDJ)

sumber: wahidinstitute.org | Selasa, 16 Februari 2010 01:01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s