Sang Pemulung dari Pesisir

amin_1Naskah dan Foto: Alamsyah

Ia hidup dari memulung dengan berbagai keterbatasan. Enam anaknya tak bisa melanjutkan sekolah. Tapi ia tak pernah putus asa dan tetap optimis menatap hidup.

DUA jam lagi matahari akan tegak di atas kepala ketika lelaki gaek itu tengah asyik memilah plastik-plastik sampah warna-warni. Tangannya yang legam lantaran sering ditimpa terik mentari tampak cekatan memasukan plastik-plastik itu ke dalam karung yang sudah disiapkan. Setelah semua dimasukan, isinya hanya setengah karung. Beruntung satu karung lagi yang penuh berisi botol dan sandal-sandal bekas sudah berhasil ia kumpulkan pagi tadi. Karung itu diletakkan di atas sebuah pagar besi. Tak jauh dari situ bersandar sepeda kumbang. “Itu teman setia saya ke mana-mana,” katanya.

Sedari pagi Amin, lelaki itu, sudah menyusuri pesisir pantai Muara Cituis Tangerang yang berlumpur.  Dari Terminal Kalideres, butuh waktu sejam lebih sampai di sana. Di tempat ini ia biasa memungut sampah-sampah plastik, botol air mineral, atau sandal bekas yang terdampar di bibir pantai. Sebagian besar sampah-sampah itu sampah rumah tangga penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Amin tak melaut seperti kebanyakan masyarakat di kampungnya, Pakuhaji Tengerang Banten. “Saya mudah mabuk laut,” ujarnya memberi alasan. Mata senjanya menatap tiga perahu motor yang masuk ke mulut pelabuhan dengan suara mesin  meraung-raung. Meski penghasilan sebagai pemulung tak menentu Amin merasa senang menjalani profesinya itu.

Dari menjual barang-barang bekas itu Amin bisa mendapat 15-50 ribu rupiah setiap hari.  “Itupun tak setiap hari saya dapat barang,” katanya. Harga satu kilo plastik dijual 1800 perak, sandal-sandal bekas 1500 perak. Yang lumayan kalau menjual botol-botol air mineral: 5000 perak perkilo. Cukup tak cukup uang itu yang mesti dikelolanya demi menafkahi satu isteri dan keenam anaknya. Makan sedikit nasi dan berlauk garam atau ikan kering sering mereka alami.  Seringpula mereka tak punya beras untuk dimakan. “Saya hanya bisa pasrah,” Amin getir.

Keenam anak Amin tak bersekolah. Sedari awal dirinya sadar dengan penghasilannya saat ini ia tak mampu membiayai mereka seperti anak-anak lainnya yang lebih beruntung. “Sekali lagi saya hanya bisa pasrah”. Untuk menopang ekonomi keluarga, kedua anak lelakinya membantunya dengan ikut menjadi pemulung. Sementara dua anak perempuannya bekerja sebagai penyiang ikan di Muara Saban. Pendapatan mereka itulah yang sedikit membuat keuangan keluarga longgar, tapi jauh dari melimpah. Hebatnya dari kelonggaran itu keluarganya sedikit bisa menabung. “Jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak”.

Amin dan keluarganya adalah tipologi wong cilik yang jumlahnya tak sedikit di Tanah Air. Wong cilik yang tak pernah berubah nasibnya meski penguasa berganti.  Tapi sekali lagi Amin tak pernah tampak putus asa.

Sumber: ifashion.co.id, 18-12-2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s