Manih dari Jemblongan

Naskah Alamsyah

Dunianya gelap dan tak terlalu beruntung.

manihSudah beberapa pagi Ibu-anak itu saya jumpai tengah menyusuri jalan tak mulus di Jalan Curug Rawakalong, Gunung Sindur Bogor. Jalan ini jalan yang membelah Parung Bogor hingga Bumi Serpong Damai Tangerang. Biasa saya lalui saat pergi bekerja.

Tak bersandal, si Ibu memegang pundak anaknya dari belakang bergegas beriringan menuju utara. Wajahnya tirus, seperti juga sang anak yang tampak punya sedikit keterbalakangan mental. Tatapan keduanya kosong.

Setiap kali berpapasan, saya merasa iba dan bertanya-tanya apa sesungguhnya yang dilakukan ibu-anak ini berjalan jauh setiap pagi? Insting jurnalis saya mengatakan, kisah mereka akan menarik untuk ditulis.

Hingga suatu pagi berikutnya saya memberanikan diri menemui mereka di jalan tempat kami biasa berpapasan, di sisi jalan dekat sebuah sekolah yang juga tampak lusuh. Cat putihnya sebagian pudar, rumput tumbuh tak terawat.

“Kita mau ke Lik Yun,” Jawab si Ibu. Matanya tak menatap saya. Lik Yun, mantan majikan almarhum suaminya. Di tempat itu ia dan anaknya Niman (20 tahun) melakukan sesuatu yang bisa dilakukan: memijat atau bersih-bersih. Dari Lik Yun pula, seperti kisah Manih, nama perempuan ini,  mereka mendapat beras dan beberapa ribu rupiah. “Belum lama ini kita dikasih 10 liter beras dan duit 3000,” katanya. Tapi pemberian itu tak rutin.

Meski matanya terbuka, Manih buta sejak tiga tahun lalu. Sebelum semuanya gelap, ia hanya merasakan gejala aneh. Setiap kali ia melihat api saat memasak Subuh-Subuh untuk keluarganya di dapur, matanya silau tak kuat melihat cahaya. Begitu terjadi rutin hingga beberapa minggu. Manih tak ke dokter. Tak punya biaya. Gejala paling parah ia rasakan suatu siang, pusing yang sangat. “Seperti ditusuk-tusuk jarum,” katanya. Mata pedas. Saking tak kuatnya, ia berguling-guling di tempat tidur merasakan sakit. Tak lama setelah itu, ia sudah tak bisa melihat.

Sinan, suaminya, sudah setahun lalu meninggal akibat komplikasi. Sepuluh tahun terakhir, pendengaran lelaki yang bekerja serabutan itu juga tak normal. Akibatnya lelaki yang sudah mengaruniainya dua anak laki-laki itu sudah tiga kali diterkam kendaran bermotor. “Yang paling parah ditabrak motor di daerah RawaKalong. Kakinya patah,” kisah Tangsun (61tahun) tetangga Manih yang ikut nimbrung saat kami berbincang di rumah Manih yang reyot di Curug Gemblongan, Rabu, pertengahan Desember kemarin.

Rumah Manih berdiri sejak tahun 90-an. Tak dialiri listrik, rumah seluas 6X7 meter itu bertembok batako berplester dengan cat yang hampir sepenuhnya pudar. Rumah peninggalan orang tuanya ini dibagi dua. Separuh untuk Manih, separuh untuk Manah adik perempuannya. Ruang tamu rumah Manih diplur semen. Yang lain berlantai tanah. Atapnya penuh sawang hitam, tak terurus. Terbengkalai.

Selain pemberian orang lain karena pekerjaan serabutannya, biaya hidup sehari-hari keluarga Manih didapat dari anak bungsunya, Andriono (17 tahun). Sekali lagi itu juga tak tentu. Lelaki yang hanya tamat kelas 4 SD itu juga bekerja serabutan. Mencari rumput, kuli bangunan, atau pekerjaan apa saja yang diminta orang. Tergantung nasib. Manih tetap ingin bisa bekerja semampunya dan tak ingin hanya hidup dari belas kasihan orang.

Nasib Manah, adik perempuanya, tak jauh beda. Perempuan yang sudah 12 tahun ditinggal suaminya itu hanya bekerja sebagai penjual nasi uduk milik orang lain dengan pendapatan sekitar 12 ribu setiap hari. Kadang menjadi kuli cuci tetangga.

Sumber: ifashion.co.id, Rabu, 04-03-2009 | 12:13 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s