Coming Home (Bagian Pertama)

pulau-tidung“Kep, pere…pere…kep!,” teriak seorang anak buah kapal dari arah samping kiri. Yang diajak bicara seorang lelaki pemegang kemudi di bagian depan kapal. Tak lama raungan mesin yang sedari tadi terdengar menggeredek berhenti. Nahkoda mematikan mesin kapal melalui tuas gas yang ada di sebelah kanan dashboard. Pemandangan itu adalah wujud kemoderenan yang nyata. Kapal-kapal pengangkut orang dan barang itu sekarang sudah dilengkapi alat yang menghubungkan langsung dengan ruang mesin seukuran 1X1 meter di perut kapal. Di ruang nahkoda, ada tombol starter, tuas gas, dan handle maju-mundur. Tugas masinis jauh lebih ringan sekarang, hanya perlu mengontrol kondisi mesin.


Di masa ”jahiliyah”, pengoperasian mesin kapal dilakukan semuanya oleh masinis. Komunikasi nahkoda di atas dengan masinis di bawah dilakukan melalui seutas tali. Ya tali yang dipasang dari tempat nahkoda,  menjulur hingga ke kamar mesin. Di tempat ini digantungkan lempengan besi yang di bawahnya terdapat besi bulat sepanjang 30 centimenter berdiameter 2 centimeter yang dipasang searah jarum jam pukul dua siang. Ujung yang satu digantung dengan tali ke langit-langit ruangan. Ujung satunya diikat dengan tali yang menghubungkan ke nahkoda tadi. Dan jika tali ditarik, besi panjang pemukul itu bergerak ke atas dan beradu dengan lempengan besi yang menghasilkan sebuah komunikasi tingkat tinggi. Mirip klenengan di sekolah SD saya. Teng! gigi satu maju. Teng, teng! gigi dua maju dengan kecepan sedang. Teng, teng, teng! mesin maju dalam kecepatan sempurna. Teng, teng, teng, teng! mesin berjalan mundur. Teng, tung, teng, tung, teng, tung! Artinya, nahkoda sedang grogi karena kembang Pulau duduk di sebelahnya. Yang terakhir ini cuma guyon!

Kapal mulai bergoyang ke kiri-kanan, mengayun, lebih kencang karena dihempas gelombang dengan posisi melintang. Sauh tak dilempar. Kapal dibiarkan mengapung seturut kemauan ombak bulan September. Bibir pantai Muara Saban masih terlihat jelas. Di sebelah barat Pulau Laki memandang bisu. Di timurnya Pulau Lancang seperti ingin berkata: Lama sekali dikau tak ke mari sahabat? Aku rindu!

Si ABK yang tadi berteriak sudah terjun ke laut memeriksa kondisi kemudi dan baling-baling kapal di bawah kapal. “Asnya bermasalah,” kata seorang penumpang kepada beberapa penumpang lain yang tampak bingung dengan situasi yang terjadi. As adalah batang besi berdiameter 3-5 cm yang menyambungkan baling-baling dengan roda gila yang menempel dengan mesin di perut kapal. Panjangnya disesuaikan dengan jarak mesin di perut dengan baling-baling di buritan kapal.

suasana-dalam-kapalKapal masih diayun gelombang seperti ayunan ibu muda yang sedang menidurkan anak semata wayangnya. Setengah jam lebih. Bagi penumpang kapal yang sebagian besar penduduk Pulau Tidung, seperti saya, situasi macam begini mungkin bukan masalah berarti. Tak tampak rasa kekhawatiran dari raut sebagian besar penumpang kapal yang mulai diserang kantuk itu. Mereka berbaring serabutan mirip pepes ikan, tak ada celah kosong.  Di bagian tengah, depan, belakang, disesaki sekitar 50-an orang. Anak-anak, laki-laki, perempuan, tua, muda, gado-gado. Ketika mereka tertidur, hanya ada dua tipe yang bisa saya rumuskan untuk melukiskan roman wajah mereka: sebagian wajah antagonis, sebagian lagi protagonis seperti karakter dalam sinetron-sinetron teve yang menyebalkan.

Kami pernah menghadapi situasi lebih mencekam dari itu. Dihempaskan gelombang setinggi satu meter, diguyur air laut, ditendang angin kencang. Dan nahkoda memutuskan untuk berhenti di pulau terdekat menunggu gelombang kembali bersahabat.

Sebagian besar kapal-kapal pengangkut ini tak dilengkapi alat pengaman yang memadai. Kalaupun ada pelampung jumlahnya mungkin tak lebih dari 20 buah, bahkan bisa kurang dari itu. Tak memadai bagi kapasitas angkut maksimum, mungkin, 70-an orang. Entahlah, sampai sekarang saya tak tahu persis berapa sebetulnya kapasitas maksimum kapal-kapal yang rata-rata berukuran 2.5 X 8 meter itu. Mereka sepertinya mengoperasikan berdasarkan pengalaman dan insting.

Bagi sebagian penduduk Pulau Seribu, gelombang yang sedikit mengayun dan minimnya alat pengaman seperti pelampung agaknya tak dianggap masalah pelik sepelik krisis global Amerika yang menghantam sektor kredit perumahan negeri Paman Sam saat ini. Pengalamanlah yang membuat mereka terbiasa, meski saya tahu tak sedikit orang Pulau yang sesungguhnya tak bisa berenang dan ancaman kapal karam bagaimanapun sebuah malapetaka buat mereka. Beberapa kecelakaan terjadi di jalur Rawa Saban-Pulau Seribu ini. Kalau tak salah ingat, sepuluh tahun lalu, ada biduwanita dan beberapa tim orkes dangdut dari Jakarta yang tewas akibat kapal karam setelah menghibur di salah satu pulau di Pulau Seribu. Saudara jauh saya dari Pulau Panggang juga meninggal akibat kapal yang penuh muatan barang dihantam gelombang dari depan.

Raut Noviyana, isteri saya, yang duduk di sebelah wajahnya tampias. Tangannya makin erat memegang dinding kapal yang terbuat dari kayu. Matanya memandangi saya penuh tanya. Ia memangku Kania Alifa Ramadina bocah perempuan lima tahun keponakan kami. “Kapal kenapa Kak?”. “Ada masalah sedikit dengan mesin,” jawab saya menenangkan. Kania bocah itu tampak tak peduli dengan apa yang terjadi. Matanya tetap asyik memandang ke luar. Lebih lama kapal diayun gelombang, lebih bisa ia memejamkan mata.

Isteri saya tak lahir di Pulau Seribu. Berkunjung ke kampung kelahiran saya bisa dihitung jari. Perempuan yang telah hidup bersama saya lebih dari empat tahun ini tak bisa berenang. Mungkin itu alasannya mengapa setiap sebulan sekali ia mengajak saya ke kolam renang.

Setelah menunggu lama, mesin kembali dihidupkan. Tapi suara menggeredek tak hilang sepenuhnya. Mesin tak bekerja prima. Waktu tempuh yang semestinya dicapai dalam 2.5 jam molor hingga 3 jam lebih. Kami tiba di Pulau Tidung pukul 3 sore.

rawasabanMuara Saban. Suasana pelabuhan Muara Saban pagi itu Minggu 29 Oktober 2008 berjalan sibuk seperti biasa. Puluhan kuli panggul mengangkut rupa-rupa barang ke kapal-kapal yang menyandar di sebuah dermaga seukuran 3X7 meter yang terbuat dari balok-balok kayu. Mobil-mobil bak terbuka hilir mudik  untuk bongkar pasang muatan. Dua petugas berseragam Dinas Perhubungan yang masih muda saya lihat tampak beralih fungsi menjadi juru parkir. Mengatur dan memberi aba-aba kepada setiap mobil yang datang parkir. Dan betul kata bule-bule itu no free lunch, tak ada yang gratis. Karcis-karcis diberikan, dan itu artinya: bayarlah sesuai tarif!

Rawa Saban seperti juga Muara Angke adalah jalur transportasi Pulau Jawa-Pulau Seribu dengan berbagai tujuan: Pulau Lancang, Pulau Pari, Pulau Payung , Pulau Tidung, Pulau Untung Jawa, Pulau Panggang, Pulau Kelapa. Yang terjauh Pulau Sabira. Tarif kapal bervariasi dari 20 – 40 ribu. Dari tempat inilah, pasokan sembilan bahan pokok dan barang-barang lain masyarakat Pulau Seribu setiap harinya diseberangkan.
Letak Muara yang berdekatan dengan Tanjung Pasir ini ada di utara Pulau Jawa bagian barat yang secara administratif masuk Provinsi Banten. Dari terminal depok, tempat ini bisa ditempuh sekitar 3-4 jam menggunakan angkutan umum. Bisa melalui jalur Kalideres terus membelah Tangerang kota menuju Sepatan, lalu belok kanan menuju Pakuhaji, terus hingga mentok Muara Saban. Bisa pula lewat tol yang keluar di pintu tol menuju Kebon Nanas melewati Pasar Anyar lalu menuju Sepatan dan sesudahnya idem.

Dulu jalan menuju tempat ini tak ubahnya menyebrang pulau: bergelombang. Sekarang lumayan mulus. Waktu jalan itu belum semulus sekarang saya tak bisa membayangkan bagaimana jika sebagian pulau itu benar-benar berhasil “diakuisisi”  Banten seperti berita-berita yang muncul di media waktu itu. Mengurus jalan itu saja belum mampu apalagi menambah pekerjaan dengan mengakuisisi sejumlah pulau. Saya juga ingat sejumlah kasus busung lapar banyak terjadi di wilayah-wilayah yang tak jauh dari Muara Saban ini.
Tak jauh dari dermaga, berdiri sebuah bangunan memanjang ke samping dan tak banyak berubah seperti sembilan tahun silam. Reyot dengan  genting-genting yang kusam. Yang berbeda hanya cat dinding yang tampak baru. Saya heran mengapa pembangunan rupanya tak tertarik pada gedung tua ini.

Bangunan itu dibagi dalam tiga kamar sesuai fungsi dan tanggung jawab. Yang pertama pangkalan tentara untuk urusan laut. Yang kedua dan ketiga untuk dinas perhubungan. Melihatnya selalu mengingatkan saya pada sebuah peristiwa delapan tahun lalu. Waktu itu sekitar 35-an mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Fakultas Dakwah akan menyebrang ke Pulau Tidung untuk menggelar bakti sosial. Seorang petugas, kalau tak salah ingat dari bagian Perhubungan, memanggil saya melalui nahkoda kapal yang akan kami tumpangi agar saya menemuinya di gedung ini.

Sedikit berbasa-basi, akhirnya si petugas langsung ke pokok mas’alah. Ia meminta saya sejumlah uang  karena telah membawa sekitar 35-an mahasiswa menyebrang. Alasannya bebal sekali. Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kecelakaan laut umpamanya, menurutnya ia juga yang bertanggung jawab. Bebal sekali bukan? Tidakkah ia digaji negara justru untuk tanggung jawab ini. “Kalau tak mau tanggung jawab mengapa berani menjadi petugas dinas perhubungan di tempat itu. Copot saja seragam itu. Ganti seragam nelayan atau seragam kuli panggul. Jadi hanya punya tanggung jawab untuk menghitung berapa kilo ikan yang didapat, berapa karung yang berhasil diangkut,” begitu pikir saya. Clear sudah masalahnya. Ini “jatah keamanaan”. Modus korupsi kelas cecurut.

Sebagai mahasiswa yang masa-masa itu hobi turun ke jalan, ego saya mulai naik. Sok mahasiswa, kira-kira begitulah. Bagaimana mungkin saya melakukan praktik yang sudah membuat negeri ini hancur dan karenanya gerakan mahasiswa 1998 dilancarkan. Begitu keyakinan saya. Dan sayapun ingat kata-kata ini, hanya ada satu kata: Lawan!
Saya menolak permintaan petugas. ”Mengapa kami harus bayar lagi. Kami kan sudah bayar karcis penyeberangan,” saya memberi alasan. ”Tapi kan ini karena mas bawa 35 orang. Jadi harus perlu bayar uang penyebrangan lagi. Prosedurnya memang begitu,” katanya medesak dungu. ”Peraturan dari mana pak?” tanya saya. ”Ini peraturan di sini”. ”Bisa saya lihat peraturannya,” saya balik bertanya. Ia tak bisa menunjukkan. Petugas kesal lalu membuat pernyataan ini: Ya sudah kalau begitu. Kalau terjadi apa-apa saya tak akan tanggung jawab! Suaranya tinggi. “Saya akan tanggung  akibatnya,” jawab saya gagah. Aih!

Sejak itulah rasa kesal saya pada seragam-seragam birokrasi makin kronis. Saya sering uring-uringan melihat seragam tentara, polisi, pegawai kelurahan, kecamatan, departemen-departemen, wa akhwatuha, dan sejenisnya. Anda tahu apa alasannya sahabat. Sebab bagi mereka selalu ada satu kata: jika bisa dipersulit mengapa dipermudah? Dont try this at home.  Artinya, jangan menangis di rumah. Eh salah, jangan mencoba ini di rumah.

pulau-tidung_2Kapal yang membawa kami, mahasiswa-mahasiswa sok idealis, alhamdulillah sampai dengan selamat. Tapi sebagian besar mereka jalan sempoyongan menuju tempat menginap karena mabuk laut setibanya di Pulau Tidung.  Keesokan harinya, secara tak kebetulan saya bertemu dengan nahkoda kapal yang waktu itu diminta menyampaikan pesan petugas perhubungan. Kami bertemu di sebuah rumah dekat tempat tinggal saya. Ia mengatakan kalau si petugas itu marah besar. Si petugas juga menanyakan siapa nama dan nama orang tua saya. “Mestinya elu kasih aja Lam” kata menyarankan. Puih! (bersambung)

15 thoughts on “Coming Home (Bagian Pertama)

  1. Alam, aku belum pernah keluar dari pulau Jawa yang sumpek ini dengan naik kapal. Kapan saya diajak ke tanah tempat memendam ari-arimu?

    Oh ya, saya belum berhasil mengubah settingan blogku. Kesal aku.

  2. untuk rudi..
    kalo dri depok,, naik aja bis yg ke arah grogol..
    kalo ada yg langsung ke kali deres, langsung ke kali deres..
    trus naik angkot ke arah tanggerang (sepatan), kemudian naik angkutan elp ke pakuhaji, rawa saban…
    kapal berangkat siang hari…
    stahu saya sperti tu,,,
    kalo ada perubahan… sya krang tau…
    krna uda lama gak d jkt dn sekitarnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s