Jalan Demokrasi Asia Selatan

 

Oleh: Alamsyah M. Dja’far

”Lihat ini!” Seru Najiba Ayubi kepada Beena Sarwar sembari menunjuk keningnya yang terdapat noda-noda hitam. ”Ini bekas luka bakar karena mengenakan burqa,” kata perempuan asal Afghanistan itu. Lawan bicaranya yang duduk di sebelahnya seperti tak percaya. ”Bagaimana bisa?” timpal Beena. ”Karena hawa panas, kulit saya terbakar,” jawab Najiba meyakinkan. Di bangku depan di sebelah supir, Asghar Ali Enginer sesekali menyimak sambil menikmati pemandangan sisi kiri-kanan Jalan Gatot Subroto. Rabu siang pertengahan Agustus silam (13/08), di atas kendaraan yang membawa ketiganya menuju Pancoran Jakarta Selatan, Najiba dan Beena terlibat obrolan ringan seputar burqa dan nasib peduduk Afghanistan paling mutakhir. Najiba tak lagi mengenakan burqa tak lama setelah Taliban dilengserkan agresi militer AS tahun 2001.

Di era Taliban, penutup kepala dengan kain tipis dan berlubang kecil di tempat sekitar mata, di sini dikenal dengan cadar, adalah simbol sekaligus kewajiban bagi perempuan Afghanistan yang dipaksakan penguasa. Di masa-masa itu kiprah perempuan dibatasi dengan berbagai peraturan dan kewajiban yang membuat mereka nyaris tak punya tempat di ruang publik . Seperti catatan Asosiasi Perempuan Revolusioner Afghanistan (RAWA), tak kurang 29 larangan,  di antaranya larangan bekerja di luar rumah dan larangan mengenakan pakaian berwarna maupun kosmetik, terbit sepanjang hampir satu dekade masa kekuasaan Taliban.

 

Sekarang tujuh tahun sudah Taliban tak berkuasa. “Tapi kekerasan masih menjadi masalah besar Afghanistan. Kelompok Taliban seringkali membunuh orang di jalan-jalan,” ungkap Safia Siddiqi Asif di depan 30-an peserta Diskusi dan Pembukaan Pameran Perempuan, Islam dan Demokrasi “Suara Kebangkitan; Perempuan Afghanistan Membuat Berita” di Teater Utan Kayu, Jumat malam (15/08). Perempuan anggota Majelis Rendah Afganistan (Wolesi Jirga) yang mewakili provinsi barat daya Nangahar Diskusi itu beberapa kali juga menghadapi ancaman pembunuhan kelompok Taliban.

Diskusi yang malam itu dipandu Rebecca Henschke, editor Asia Calling KBR68H, masih merupakan rangkaian kegiatan Asia Calling Forum, selain talkshow dua hari yang disiarkan live oleh KBR68H dari hotel Santika Jakarta, 13 dan 14 Agustus, serta kunjungan ke empat media, enam lembaga NGO dan sebuah pesantren di bilangan Depok sepanjang Rabu – Jumat, 13-15 Agustus 2008. Penyelanggaranya Asia Calling Kantor Berita Radio (KBR) 68H, siaran  radio regional yang disiarkan oleh 225 radio di 10 negara, bekerjasama dengan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

 

Najiba, Beena, Safia, dan Asghar adalah empat dari lima tamu dari Asia Selatan yang datang ke Indonesia untuk berbagi pengalaman seputar isu Islam dan demokrasi di negeri mereka masing-masing dengan berbagai kalangan seperti media, NGO, kampus, ormas keagamaan, dan pesantren. Najiba, direktur The Killid Group (TKG) sebuah grup media berkembang di Afghanistan. Beena, jurnalis dan pembuat film dokumenter dengan fokus isu HAM,  gender, media, dan perdamaian asal Pakistan. Selain anggota parlemen Afghanistan, Safia adalahpenasihat pada Kementrian Rehabilitasi dan Pembangunan Pedesaan di negeri berpenduduk sekitar 32,7 juta itu.

Asghar Ali Engineer, intelektual asal India yang juga pendiri Asian Muslim Action Network (AMAN) yang berbasis di Bangkok. Satu lagi, Zafar Sobhan dari Bangladesh, editor di majalah politik mingguan Forum dan harian berbahasa Inggris The Daily Star.

Di sebagian besar negara-negera di Asia Selatan, tempat bagi 475 juta penduduk Muslim,  jalan demokrasi yang ditempuh amat berliku dan masih menghadapi berbagai ancaman serius: kekerasan, terorisme, dan kekuasaan militer. Kira-kira ini yang menjadi titik simpul talkshow. Seperti Afghanistan, Pakistan mengalami masalah yang hampir mirip. Hingga Juni 2007, misalnya, Indeks HAM Asia Selatan 2008 yang rilis Asian Centre For Human Rights India, menyebut lebih dari 1.400 warga sipil tewas di wilayah-wilayah FATA (Federally Administered Tribal Areas) di Pakistan, baik karena operasi militer maupun kelompok militan. Aksi-aksi teror masih merebak. Bangladesh menghadapi dominasi kekuasaan Angkatan Darat dalam penyelenggaraan pemerintah interim saat ini.

Di Indonesia tantangan demokrasi datang dalam bentuk maraknya kekerasan atas nama agama yang dilakukan kelompok keagamaan tertentu seperti dialami komunitas Ahmadiyah dan anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dalam tragedi Monas I Juni. ”Ancaman konsolidasi demokrasi bisa juga muncul dari faktor lainnya seperti ketidak mampuan negara menjalankan perannya, penyediaan rasa keadilan dan kesejahteraan,” kata Rizal Sukma Deputi Direktur Eksekutif pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang juga Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia menjadi pembicara pada talkshow hari kedua bertajuk “Islam dan Nation State: Ancaman atau Solusi?”. Di hari pertama, pembicara dari Indonesia yang diundang adalah Ahmad Suaedy, Direktur The Wahid Institute Jakarta.

Dari berbagai pengalaman berdemokrasi para tokoh itu sepakat, mereka harus belajar satu sama lain. Apalagi Afghanistan, Pakistan, Bangldesh, India, dan Indonesia masih memiliki background kultural yang sama sebagai masyarakat muslim di Asia. “Masing-masing memiliki keunikannya sendiri-sendiri dalam menentukan model demokrasi yang dipilih,” kata Asghar. Ada India dan Bangladesh yang memilih sistem sekuler, Indonesia yang memilih demokrasi Pancasila, juga Pakistan dan Afghanistan yang terus berjuang mewujudkan demokrasi. Mereka juga sepakat, demokrasi dan Islam berkesusaian. Bahwa ada yang menganggap tidak kompatibel, bahkan diharamkan, itu hanya kelompok minoritas. Jalan demokrasi Asia Selatan memang masih panjang.

Tulisan ini dibuat untuk buletin PPMN

8 thoughts on “Jalan Demokrasi Asia Selatan

  1. Terima kasih sekali atas kesediaannya. Sebenarnya kami masih baru dan minim ilmu serta pengalaman, jadi bahasa yang pas mungkin kontributor atau dewan redaksi. Tapi intinya, kami berharap bang alam selain mengkontribusikan tulisan, mau membimbing kami untuk memberikan masukan positif tentang fitur web & masalah keredakturan. btw, bisa minta alamat email & ID messengernya?

    Dalam waktu dekat ini, kami ingin mengadakan training jurnalistik u/ capacity building. Kalau bang alam bersedia kami akan senang sekali.

    Insya Allah Tulisan bang alam akan kami publish. Thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s