Tambahan Koleksi Taman Baca Nyiur Pulau Tidung

Kami senang, meski pengelolaan Nyiur masih banyak kekurangan di sana-sini, bantuan buku untuk taman baca ini terus bertambah. Terakhir datang dari para pendengar Radio Pelita Kasih Jakarta. Beberapa bulan lalu radio ini membuka sekaligus mendistribusikan sumbangan buku-buku layak baca dari para pendengarnya untuk sejumlah taman baca khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Nyiur termasuk satu dari beberapa taman baca yang dipilih. Sebagian besar pendengar membawa langsung buku-buku sumbangannya ke kantor redaksi di Jalan Dewi Sartika.

Berangkat dari rumah pukul 2 siang, Jumat 12 September lalu, saya membayangkan buku-buku yang akan disumbangkan ke Taman Baca Nyiur itu bisa diangkut dengan sepeda motor sekali jalan. Izal dan Hery, dua teman yang juga mendirikan taman baca, masing-masing juga membawa motor. Kami bertiga memang berencana mengangkut dus-dus buku itu sekira pukul setengah empat dari Radio Pelita kasih menuju sebuah rumah di Jalan Mampang Prapatan. Rumah ini rumah tempas kos beberapa teman Pulau. Seringpula disulap jadi kantor sekretariat organisasi mahasiswa Kepulauan Seribu.

Sampai di tempat, dugaan saya meleset. Buku-buku itu ternyata lebih dari 15 dus berisi rupa-rupa buku. Kebanyakan bacaan untuk anak. Kami senang dengan bantuan ini. Pasti akan selalu berguna buat anak-anak di kampung. Mas Yancen dan Mba Ruth, dua orang yang membantu proses “evakuasi” dus-dus hari itu. Keduanya adalah penanggung jawab urusan buku ini. Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan keramahan mereka. Semoga ini awal kerjasama untuk masa-masa mendatang. “Saya juga ikut mengelola 1001 buku,” kata Mas Yancen memberi informasi. Sebelum mendirikan taman baca dua tahun lalu, saya sempat membaca profil lembaga yang punya banyak jaringan taman baca-taman baca alternatif itu. Saya terinspirasi dengan apa yang mereka lakukan.

Dari kiri ke kanan: Ahmad Ghozali (Izal), saya, Yancen, Ruth bersama tumpukan dus-dus buku sumbangan

Karena tak terbawa motor, beberapa hari kemudian kami datang kembali membawa sisa-sisa dus menggunakan angkot. Minggu-minggu ini rencananya dus-dus tersebut akan kami kirim ke Pulau Tidung menggunakan “kapal angkot” dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Beberapa bulan sebelumnya, seorang teman milis isteri saya juga menyumbang dua dus buku. Ia tinggal di Cengkareng. Kakak saya yang tinggal di Tangerang membantu mengambil dus-dus itu yang langsung dikirim ke Rawasaban, sebuah pelabuhan di pesisir Tangerang. Sebelum jalur Muara Angke dibuka sejak tahun 2002, pelabuhan ini yang jadi jalur lalu lintas laut Jawa-Pulau setiap harinya.

Setelah buku, tantangan lain masih harus kami hadapi untuk meningkatkan layanan taman baca. Salah satunya soal koordinasi dan pengelolaan day to day taman baca. Beberapa bulan koordinasi “Jakarta” dengan “Pulau” turun naik. Kami punya seorang volunteer yang bertanggung jawab tetek bengek. Mulai dari mencatat jumlah buku yang dipinjam, membuka dan menutup taman baca setiap pagi dan sore, dan melaporkannya ke temn-teman di Jakarta. Biaya pperasionalnya diambil dari hasil urunan. Ia anak muda kampung kami. Sejauh ini memiliki komitmen tinggi untuk mengelola Taman Baca. Tapi komunikasi harus diakui menurun lantaran kesibukan teman-teman di Jakarta.

Sesungguhnya kami ingin sekali taman baca tak hanya melayani kegiatan membaca, tapi juga kegiatan kreatif lainnya. Misalnya lomba menggambar atau menggelar sejumlah kegiatan edukatif untuk anak-anak. Kami membayangkan bisa menyelenggarakan pendidikan tentang kehidupan alam yang dekat dengan mereka; memperkenalkan mereka jenis-jenis ikan yang ada, terumbu-terumbu karang yang hidup, tetumbuhan laut yang asri; memperkenalkan apa yang bisa membuat alam lestari dan apa yang merusak. Program itu juga bisa dikembangkan untuk para pelajar yang ada di Pulau. Kami membayangkan bisa menjalankan kegiatan story telling tentang kisah pulau yang hampir punah dengan sejumlah mitosnya. Mungkin juga soal bahasa Pulau yang unik. Kami membayangkan bisa memberi tahu mereka bagaimana caranya mengakses internet, meski saya tahu di sana tak ada warnet. Dan masih banyak lagi sebetulnya yang kami bayangkan.

Kami berharap suatu saat ini terlaksana dari sebuah mimpi, mimpi kami juga mimpi Anda semua yang peduli.

Depok, 17 September 2008

3 thoughts on “Tambahan Koleksi Taman Baca Nyiur Pulau Tidung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s