Optimisme Safia Siddiqi Asif

Oleh: Maria Hartiningsih/Kompas

Safia Siddiqi Asif (44) rela meninggalkan anak laki-lakinya yang berusia 18 bulan di Kabul, Afganistan, untuk membawa suara rakyat Afganistan dan menjelaskan persoalan di Afganistan kepada masyarakat Indonesia.

Kalau ada orang Indonesia yang mau datang ke Afganistan untuk bekerja dengan Taliban, cegahlah,” ujar Safia, yang ditemui secara khusus pada siang terakhirnya di Jakarta, Sabtu (16/8). ”Tetapi, kalau mau ikut membantu kami memecahkan masalah yang dihadapi rakyat Afganistan saat ini, silakan datang.”

Anggota Majelis Rendah Afganistan (Wolesi Jirga) di Parlemen dan anggota Komite Ekonomi Nasional di bawah Pemerintahan Presiden Hamid Karzai ini tak menyangkal bahwa sebagai gerakan, Taliban adalah bagian dari Afganistan dan seharusnya ikut membangun kembali negeri yang selama 2,5 dekade diluluhlantakkan oleh perebutan kekuasaan dan perang.

”Persoalannya, Taliban tak hanya terdiri dari warga Afganistan. Sebagian dari mereka adalah orang asing, dari Arab, Bosnia, Asia Tengah, Pakistan, beberapa dari Malaysia, dan Indonesia.”

Safia berada di Jakarta bersama para tokoh dari Banglades, Pakistan, dan India pada 11-16 Agustus 2008. Mereka memenuhi undangan The Asia Calling Forum, program regional Asia dari Radio KBR 68H yang mengudara di 10 negara. Mereka berbagi pengalaman mengenai isu-isu terkait dengan Islam dan demokrasi di Asia Selatan. Asia Selatan merupakan rumah bagi sekitar 475 juta penduduk Muslim, yang terbesar di dunia.

Jauh dari harapan

Setelah jatuhnya kekuasaan Taliban tujuh tahun lalu, kedamaian yang diimpikan warga Afganistan masih jauh dari harapan. Kelompok-kelompok militan sulit diajak berdialog. Mereka menggunakan bom bunuh diri sebagai bahasa komunikasi. ”Ini persoalan serius di Afganistan sekarang,” tutur Safia.

Ancaman bom bunuh diri di ruang publik menyebarkan ketakutan bagi warga di negeri berpenduduk sekitar 32,7 juta itu. Mereka adalah korban terbesar meski sasaran teror adalah personel AS dan sekutunya di Afganistan.

”Tindakan itu meninggalkan penderitaan luar biasa. Rakyat Afganistan sangat mengecamnya,” kata Safia. ”Tetapi, tak ada yang bisa menghentikan mereka.”

Meski kekacauan masih berlangsung, Safia yakin kelompok fundamentalis-konservatif tak akan kembali ke tampuk kekuasaan. ”Mereka tak bisa melawan pemerintah dan masyarakat yang menghendaki perubahan.”

Bom bunuh diri merupakan ancaman serius bagi aktivitas politik perempuan. Tahun 2004 ketika melakukan perjalanan ke berbagai provinsi sebagai penasihat Menteri Rehabilitasi dan Pembangunan Pedesaan, di jalanan rusak di kawasan perbukitan sekitar 200 kilometer dari Kabul, seorang laki-laki muda dengan bom di tubuh mendekati mobilnya. Nasib Safia berada di ujung tanduk sebelum polisi datang menyelamatkannya. Anak muda itu lari ke goa dan meledakkan bom di tubuhnya.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1995 ancaman pembunuhan dia alami di Peshawar, Pakistan. Percobaan pembunuhan terjadi lagi, September 2005, saat kampanye calon anggota legislatif. Ia diserang orang-orang bersenjata tanpa identitas di Provinsi Nangarhar, timur Afganistan, wilayah yang diwakilinya.

Teror sejenis terjadi pada para perempuan calon anggota legislatif. Komisi Pemantau Pemilu saat itu melaporkan lima perempuan calon anggota legislatif tewas dan satu hilang.

Diskriminasi

Persoalan serius lainnya, menurut Safia, menyangkut hal-hal terkait dengan diskriminasi jender. Masalah ini harus dipahami dalam konteks Afganistan yang multietnik, multibahasa, masyarakat yang tradisional, dan secara historis, etnisitas lebih berperan, sementara pemerintah pusat lemah.

Selama berpuluh tahun, akses perempuan pada pendidikan dan kesehatan sangat rendah. Angka buta huruf, angka kematian ibu, angka kelahiran, serta angka kematian bayi dan anak balita, sangat tinggi. Usia harapan hidup perempuan 20 tahun di bawah usia harapan hidup rata-rata dunia. Kualitas hidup perempuan Afganistan termasuk terendah di dunia.

Perkawinan paksa anak perempuan dengan laki-laki tua, yang menurut berbagai laporan jumlahnya lebih dari 60 persen dari seluruh perkawinan, terus berlangsung. Kekerasan marak di ruang publik dan di dalam rumah. Hampir seluruh hak perempuan dinegasikan.

Safia, anak pertama dari tiga bersaudara, putri keluarga jaksa itu menyatakan, diskriminasi jender di Afganistan berakar pada budaya dan teks yang diinterpretasikan sepihak oleh yang berkuasa. Perang yang terus-menerus memperburuk situasi perempuan. Kemiskinan meruyak.

Kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang belum stabil, perdagangan obat bius dan dampak perdagangan manusia sangat memengaruhi perubahan struktur sosial yang membentuk kehidupan perempuan dan anak perempuan.

”Situasi kemiskinan diperburuk oleh tingkat korupsi yang sangat tinggi. Korupsi mereduksi nilai demokrasi karena para penyuap bisa membeli kekuasaan,” kata Safia, ”Saya melihat kemiskinan di banyak negara, tetapi kualitasnya tak seburuk di Afganistan.”

Adalah Malalai Joya (27) anggota Majelis Rendah yang secara terbuka menantang para gembong perang dan penyelundup obat bius, yang bisa melakukan apa saja dengan uang mereka.

Perempuan yang mengalami empat percobaan pembunuhan itu diberhentikan dari parlemen, tahun lalu. ”Kami mendukung perjuangannya, tetapi tak bisa membelanya lagi karena sudah kelewat batas. Ini bukan soal politik, tetapi etika berkomunikasi,” ujar Safia.

Tetap optimistis

Di tengah berbagai fakta muram, secercah harapan muncul dan membesar. ”Sejak Taliban jatuh, terjadi perubahan berarti di Afganistan. Kami punya pemerintahan dan anggota parlemen yang dipilih lewat pemilihan umum punya konstitusi yang menjamin kesetaraan serta banyak hal lain yang membuat kami optimistis menatap masa depan meski sistem belum sepenuhnya berjalan baik.”

Perempuan kini bebas berpolitik, menduduki berbagai jabatan di ruang publik, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Afganistan, perempuan menjadi juru bicara Sidang Umum. Perempuan menduduki 68 kursi dari 249 kursi di Majelis Rendah Parlemen (27 persen) dan satu dari enam kursi di Majelis Tinggi (Meshrano Jirga).

Meski perjuangannya bagi rakyat Afganistan tak diragukan, aktivis hak asasi manusia, jurnalis, dan penyair itu sempat dianggap tak paham persoalan di Afganistan setelah 12 tahun meninggalkan negeri itu.

”Tuduhan itu tak berdasar,” kata Safia, ”Selama delapan tahun di Peshawar, saya menjadi relawan bagi pengungsi Afganistan. Di Kanada saya bekerja pada Asosiasi Masyarakat Afganistan. Keluarga saya di Kabul juga selalu mengirim kabar tentang situasi terakhir di Afganistan.”

Ia melanjutkan, ”Ketika menjadi penasihat masalah jender di Kementerian Urusan Perempuan dan Kementerian Pembangunan Pedesaan Afganistan, saya pergi ke-23 provinsi. Saya tahu situasi rakyat di bawah.”

Safia, yang enam tahun terakhir ini bermukim di Kabul mengatakan, rakyat Afganistan lah yang ”memanggilnya” pulang.

”Saya ingin bekerja untuk rakyat, membangun persatuan, merebut harapan, masa depan dan nilai-nilai sebagai bangsa yang pernah kita miliki.”

Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/01/00381971/optimisme.safia.siddiqi.asif
Foto: Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s