Mengembangkan Media Islam Pluralis: Bagian Pertama

Alamsyah M. Dja’far

Sejarah Kelahiran Syirah

Di negara-negara yang tengah menapaki era transisi, kondisi sosial, politik, dan ekonomi biasanya menunjukkan perubahan yang tak terduga. Ini dialami Indonesia paskalengsernya Orde Baru tahun 1998.

Bagi sebagian publik muslim di tanah air, era transisi ini seperti menjadi momentum bagi ‘kebangkitan’ Islam di tanah air. Di masa-masa ini identitas keislaman yang tak tunggal mencuat ke permukaan. Organisasi-organisasi massa Islam, simbol dan label-label Islam, termasuk media-media Islam baru, bermunculan.

Perubahan ini menggembirakan sekaligus merisaukan. Menggembirakan, karena demokrasi mengabsahkan kebebasan berekspresi warganya. Merisaukan, justru seiring dengan itu muncul kecenderungan kian mengkristalnya pengingkaran terhadap perbedaan dan kemajemukan –awal lahirnya benih-benih eksklusivisme dan permusuhan. Pada level tertentu, situasi tersebut berujung kekerasan.

Pada tahun 2001, bentrokan Laskar Jihad dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) meledak di Ngawi, Jawa Timur. Penyebabnya dipicu  oleh serangan anggota Laskar Jihad terhadap beberapa simpatisan PDI-P ketika menggelar gerakan anti maksiat. Paskaserangan Amerika ke Afghanistan, sejumlah ormas menggelar aksi di sejumlah daerah.

Benih-benih eksklusivisme yang memberi peluang terjadinya konflik itu tampak pula mewarnai berita dan tulisan-tulisan di beberapa media Islam yang terus menguat paskapencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Salah satu media yang cukup berpengaruh memperjuangkan semangat islamisme adalah Sabili. Media ini awalnya media underground yang terbit pertama kali setahun setelah peristiwa Tanjungpriok (1984). Mei 1998, format media yang didirikan Zainal Muttaqin dan Rahmat Abdullah ini berubah menjadi profesional dan dipasarkan secara lebih luas.

Sebelum menggarap Sabili, Zainal bukan orang baru di dunia tulis-menulis. Lelaki  kelahiran Labuan Banten 13 Agustus 1963 ini mantan reporter Kiblat, media cukup terkemuka di era 80-an kiblat. Tercatat pula menjadi jurnalis untuk majalah Risalah dan tabloid Salam Bandung.

Berbeda dengan Zainal, Rahmat Abdullah lebih akrab dengan dunia dakwah. Pria berdarah Betawi yang meninggal di usia 52 tahun ini tercatat sebagai salah seorang pendiri Partai Keadilan Sejahtera. Ia terpilih sebagai anggota legislatif PKS hasil pemilu 2004.

Setelah berubah format, tiras Sabili melesat. Mulai dari 17 ribu, 20 ribu, 40 ribu hingga menembus angka 100 ribu kopi. Puncaknya  Angka yang cukup fantastis kali itu. Masa-masa emas Sabili terbentang saat konflik Ambon berkecamuk tahun 2000. “Kehadiran Sabili tak hanya disambut tokoh-tokoh Islam, tapi juga umat Islam secara menyeluruh,” ungkap Pemimpin Umum Sabili Uswan Jusar bungah kepada Syirah (Syirah Edisi Ulang Tahun, September 2006).

Dengan semangat senada, majalah Suara Hidayatullah juga mendapat pangsa pasar cukup luas. Cita-cita media yang terbit pertama kali tahun 1988 ini mengusung ide-ide penerapan syariat Islam.

Mulanya Hidayatullah diterbitkan sebagai media komunikasi pengurus pusat Pesantren Hidayatullah, pesantren berdiri pada 7 Januari 1973, dengan cabang-cabangnya di berbagai provinsi. Pendiri dan pengasuhnya awal pesantren, Abdullah Said (alm), tokoh yang aktif dalam dakwah Islam. Said juga tercatat sebagai pengurus Muhammadiyah untuk urusan dakwah dan pengkaderan.

Dalam mengelola pesantren, Ia dibantu lima orang ustad: Usman Palese dari Pesantren Persatuan Islam Bangil Jawa Timur, Hasan Ibrahim dari pesantren Krapyak Yogyakarta, Hasyim HS dari Gontor Ponorogo Jawa Timur, Nazir Hasan dan Kisman dari Akademi Tarjih Muhammadiyah.

Tahun 2000, lewat Musyawarah Nasional I tahun 2000, Hidayatullah diarahkan lebih profesional dan terbuka. Sejak itu ia diputuskan menjadi salah satu badan usaha di bidang pers ormas tersebut.

Secara sederhana media-media masa Islam yang tumbuh di pasar nasional saat itu (1998-2001) bisa dipilah dalam dua kategori. Pertama, “media islamis” yang mengusung isu-isu penegakan syariat Islam, jihad, Zionisme, Anti-Amerika. Kedua “media populer” yang menyajikan isu-isu keislaman dengan pendekatan yang lebih populer dan cocok dengan nilai-nilai kemoderenan. Sabili, Hidayatullah, Media Dakwah masuk dalam kategori pertama.

Pada kategori media populer, media-media yang ada selanjutnya bisa dipilah lagi menjadi dua kategori: mistik Islam dan life style.

Majalah Hidayah dan Alkisah masuk dalam kategori pertama. Media yang terbit tahun 2001 belakangan tumbuh menjadi media dengan pertumbuhan oplah yang amat mengagumkan. Dalam kurun tiga tahun, media ini berhasil meyalip pemain-pemain lama di pasar media, Islam maupun umum.

Hasil survei AC Nielsen¸ lembaga survei media termasyhur dari Amerika, tahun 2004 mengganjar Hidayah sebagai 10 majalah dengan pembaca terbanyak menyalip Aneka Yess atau Tempo. Hingga tahun 2004, oplahnya menembus angka yang fantastis: 350 ribu kopi. Tiga kali lipat dari oplah tertinggi Sabili.

Hidayah banyak menyajikan kisah-kisah mistik dengan sajian hikmah yang ditafsirkan dari sudut pandangan keislaman. Sebagian lagi berupa informasi tentang ajaran Islam sehari-hari. Karena sajiannya yang khas, saya kira publik muslim akan mengingat bagaimana Hidayah membuat cover story­­-nya: “Durhaka Terhadap Orang Tua, Mati Tertabrak Mobil”, “Tuan Tanah Mati Tak Diterima Bumi”.

Banyak pihak percaya, lantaran pengaruh media ini kisah-kisah mistik selama dua tahun terakhir membanjiri layar kaca. Agaknya pengaruh perubahan politik dan ekonomi yang tak stabil kala itu membuat isu-isu yang diusung Hidayah mendapat respon amat luas di kalangan publik muslim tanah air. Ketimbang bicara politik yang makin tak jelas, apalagi di tengah himpitan ekonomi, masyarakat butuh hiburan yang segar. Dan, Hidayah mampu memberi sajian yang mudah dicerna dan cocok dengan cara berpikir masyarakat kebanyakan.

Saya masih ingat kisah seorang teman tentang kisah unik sebagian pembaca Hidayah. Kebetulan ia Pemimpin Redaksi di majalah milik salah seorang penguasaha asal Malaysia itu. Konon, tak sedikit mereka yang dulunya punya perjalanan hidup kelam lantas meraih “hidayah” setelah membaca Hidayah. Sebagian ibu-ibu rumah tangga bahkan menjadikan Hidayah sebagai bahan ajar yang efektif agar anak-anak mereka jadi “patuh dan berbakti”. Ibu-ibu ini bahkan memborong empat-lima majalah untuk edisi-edisi tertentu untuk dibagikan ke setiap anak-anak mereka. Setelah membaca Hidayah anak-anak ini takut jika sikap durhaka mereka berujung kesengsaraan.

Pada kategori media-media life style, majalah Amanah (terbit 1986), Ummi (1980-an) dan Annida (1991) dikelompokkan dalam kategori ini. Amanah agaknya menjadi media yang mengawali era media Islam yang ringan dan populer. Dari segi content hanya sepertiga di majalah grup Kartini ini yang menurunkan artikel ajaran Islam.

Dua majalah terakhir didirikan sebagian besar aktifis lembaga dakwah kampus (LDK). Ummi menyasar muslimah dewasa, sedang Annida, yang pada tahun 1993 bergabung dalam grup Ummi, menyasar remaja Islam.

Hingga akhir tahun 2001, tak banyak media Islam di level nasional dengan sajian content yang lebih moderat dan pluralis, mengusung nilai-nilai keterbukaan, kritis, terbuka terhadap beragam pemikiran. Panji Masyarakat dan Ummat, bisa dimasukan dalam kategori ini. Sayang karena beberapa faktor, dua media yang cukup berpengaruh itu berhenti terbit.

Dalam setting seperti itu September 2001 Syirah terbit dalam bentuk buletin dengan oplah 500 kopi. Oleh para pendiri yang sebagian besar pegiat di berbagai forum studi di Jakarta, Ciputat, dan Depok, media ini diniatkan sabagai media diseminasi wajah Islam yang kritis, terbuka, dan damai.

Syirah lahir dari rangkaian diskusi yang digelar beberapa forum studi di Depok dan Jakarta dengan Yayasan Desantara, lembaga swadaya yang menekuni isu-isu Islam dan kebudayaan. Tema diskusi yang diangkat pun tak jauh dari dua isu itu. Forum studi-forum studi yang terlibat dalam diskusi-diskusi dan kelahiran Syirah adalah Piramida Circle, Seroja, dan Lingkar Studi di Ciputat, Foskobara Jakarta Pusat, dan Aflakul Afkar Depok.

Meski saat itu hasil diskusi memberi banyak manfaat buat para peserta, tapi masih dianggap belum cukup maksimal mensasar tujuan yang waktu itu diharapkan: memberi kontribusi dalam mengatasai masalah radikalisasi agama sekaligus menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian.

Ada dua alasan yang muncul saat itu. Pertama, peserta yang hadir terbatas, tak lebih dari 30 orang. Kedua, sebagian besar peserta juga punya cara pandang yang sama. Padahal yang diharapkan jauh lebih besar dari itu dan dengan beragam latar belakang, termasuk dari mereka yang berbeda  dan dianggap tak toleran. Lalu, terbitlah Syirah. Nama ini dianggap bisa mewakili cita-cita untuk selalu menerima perbedaan dan ruang untuk mendialogkan perbedaan.

Terbit pertama kali dalam bentuk buletin, format Syirah berukuran 21 X 29 cm setebal 16 halaman dengan tata letak seadanya. Isinya lebih banyak memuat esai-esai yang ditulis kru Syirah sendiri dengan penyajian bahasa yang lebih terkesan “akademik” ketimbang laporan jurnalistik. Didistribusikan secara gratis ke masjid-masjid kampus, majlis taklim, relasi dari masing-masing kru Syirah.


Setelah terbitan perdana berubah menjadi majalah berukuran 21x 15 cm, dan mulai dijual di outlet-outlet oleh masing-masing awak. Di masa-masa awal, terutama sepanjang tahun akhir 2001 hingga pertengahan 2003 dana penerbitan didukung oleh Yayasan Desantara. Setelah itu dana diperoleh dari hasil penjualan majalah dan iklan.

Menurut hasil survei hasil kerjasama dengan Business Digest Majalah SWA tahun 2003, segmen pembaca Syirah sebagai berikut:

Hingga Februari 2007, wilayah Distribusi Syirah meliputi Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan NTB >>

Makalah ini dibuat untuk kepentingan Workshop “Pengembangan Islam, Pluralisme, dan Demokrasi” yang diselenggarakan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Hotel Jaya Raya Bogor 6-8 Juni 2007

2 thoughts on “Mengembangkan Media Islam Pluralis: Bagian Pertama

  1. ‘Dan jika kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah, tidaklah mereka mengikuti kecuali prasangka dan sesungguhnya mereka hanya membuat kebohongan ( 6:116 ) DEMOKRASI suara terbanyak menyesatkan, FLURALIS adalah keyakinan syirik merusak aqidah. BERPEGANG AL-QURAN & SUNAH ITULAH YANG LURUS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s