“Suara Kebangkitan Perempuan Afghan; Sebuah Pengantar”

Di bawah rezim Taliban, kaum perempuan Afganistan seperti nyaris tak punya tempat di ruang publik. Dalam catatan RAWA (Asosiasi Perempuan Revolusioner Afghanistan), misalnya, setidaknya terdapat 29 larangan yang mengebiri hak perempuan sepanjang hampir satu dekade masa kekuasaan Taliban. Beberapa larangan itu antara lain: larangan perempuan untuk bekerja di luar rumah, termasuk bagi guru perempuan –kecuali jika ditemani muhrim (saudara laki-laki, ayah atau suami); larangan mengenakan pakaian berwarna maupun kosmetik; larangan bersekolah atau belajar di institusi pendidikan lain, kecuali semacam pesantren khusus; larangan untuk dirawat dokter laki-laki dan mengikuti Keluarga Berencana (KB).

Situasi serba terbatas ini mulai berubah ketika Taliban berhasil digulingkan oleh agresi Militer AS tahun 2001 dan digelarnya pemilu pada 2005. Sejak saat itu posisi perempuan jauh lebih bisa mendapat hak mereka yang sebelumnya dibatasi. Dalam konstitusi Afghanistan tahun 2004, perempuan sesungguhnya telah ditempatkan sebagai warga negara yang setara dan bisa berktifitas lebih bebas di ruang publik. Afghanistan juga telah menjadi negara penandatangan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi atas Perempuan, dan itu artinya negeri ini berwajiban pula untuk melibatkan dan menghormati pandangan perempuan tentang hukum, kebijakan maupun praktik bernegara. Pemilu 2005 sendiri memberi 71 kursi bagi kalangan perempuan dari 249 kursi di Wolesi Jirga. Konstitusi negeri itu menetapkan, kursi perempuan di parlemen harus dua kali dari jumlah provinsi di Afghanistan. Tak heran di masa pemerintahan Presiden Hamid Karzai, terdapat tiga tokoh perempuan yang ditunjuk menjadi menteri dalam kabinetnya.

Dalam situasi mutakhir, kondisi kaum perempuan tentu jauh lebih bebas berkiprah. Pemerintah sendiri telah membuka akses yang luas bagi pendidikan kaum perempuan yang sebelumnya diharamkan. Sebagian mereka telah berkiprah di banyak bidang. Mulai dari jurnalis, produser, manajer, penulis, juru foto, pembuat film, aktivis hak asasi manusia hingga anggota parlemen.

Namun begitu kehidupan mereka tak bisa dikatakan mulus. Sejumlah hambatan, seperti faktor kultural keagamaan dan konflik yang terus berlarut-larut hingga pembunuhan masih menjadi problem besar hingga hari ini. Kaum perempuan memang masih harus terus mencari titik keseimbangan antara kebebasan yang baru mereka peroleh dengan tanggung jawab tradisi dalam rumah tangga mereka, seraya berjuang menghadapi hantu sejarah masa lalu negeri mereka yang terus didera konflik yang tak kunjung usai.

Ada banyak nama perempuan yang lantaran profesinya mesti kehilangan nyawa mereka. Sebut saja Zakia Zaki, direktur Radio Sohl (Radio Perdamaian) di Jabal Saraj, sebelah utara Kabul. Sohl merupakan stasiun radio independen pertama yang beroperasi di Afghanistan setelah kejatuhan Taliban. Zakia juga seorang kepala sekolah dari sekolah khusus anak perempuan di daerah setempat, dan pada 2005 mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Pada saat pemimpin setempat melancarkan peringatan agar liputannya tidak terlalu keras, Zakia terbunuh pada Juni 2007 di usianya yang ketigapuluh lima tahun.

Seperti Zakia Zaki, Shaima Rezayee juga tewas di rumahnya ketika usianya masih 24 tahun. Shaima seorang jurnalis untuk HOP, program musik harian di Tolo TV di Kabul. Gaya kebarat-baratan program tersebut menarik perhatian banyak pendengar namun juga menyulut amarah sejumlah pemuka agama konservatif yang memandang program meracuni kaum muda Afghanistan. Di bawah tekanan pihak yang berwenang, Tolo TV membebaskan Shaima dari tugas setelah ia menerima sejumlah ancaman dan tiga bulan kemudian ia tewas dibunuh.

Ketika tengah berjalan menuju kantor dengan menggunakan taksi Safia Amajan,  tokoh Perempuan Afghanistan dihujani tembakan oleh seorang pria misterius dan akhirnya tewas. Hari itu Senin 25 September 2006. Sejak tahun 2001, ketika gerakan militer AS mengambil alih pemerintahan Afghanistan, Safia menempati posisinya sebagai kepala divisi urusan perempuan di Kandahar ibu kota Afghanistan dan sejak itu sepak terjangnya untuk perempuan Afghanistan tidak terbendung. Safia berhasil membuat dan merekrut ratusan  perempuan Afghanistan untuk bersekolah atau mengikuti kursus keterampilan.

Sesukar membayangkan masa depan Afghanistan yang carut-marut akibat konflik berkepanjangan,  agaknya sukar pula meramalkan bagaimana nasib perempuan Afgahanistan di masa mendatang. Tapi perubahan yang dialami perempuan Afghanistan dewasa ini tentu sebuah pencapaian yang menggemberikan jika dibandingkan masa-masa sebelumnya. Ini adalah suara kebangkitan kaum perempuan Afghanistan, sebuah fondasi yang tentu saja berkontribusi untuk membangun masa depan Afghanistan yang lebih baik>>

Diambil dari pengantar Term of Reference diskusi “Voices on the Rise; “Afghan Women Making the News” yang diselenggarakan PPMN Jakarta di Teater Utan Kayu, 15 Agustus 2008

4 thoughts on ““Suara Kebangkitan Perempuan Afghan; Sebuah Pengantar”

  1. Salam, bukan komentar, tapi tanya apa kira-kira arti dari kata afghan ? dari berbagai terminologi, terima kasih sebelum nya Wassalam

  2. Afghanistan berarti ”tanah afghan”. Sebagian percaya, kata Afghan berasal dari kata Apagan, dari bahasa Pastun. Orang Pastun, suku terbesar di Afganistan sudah menggunakan nama ini untuk menyebut identitas mereka sejak akhir periode Islam. Pendapat yang lain menyebut, istilah ini sudah digunakan sejak masa kuno dari kata Avagana. Sementara Akhiran ”stan”, berasal dari bahasa Iran menunjuk arti tempat atau sebuah lokasi.

  3. Terima kasih untuk infonya, tidak tahu kenapa saya jadi “kepincut” dengan kata – istilah – tersebut, pernah saya “dengar2” bahwa afghan juga berarti “negara – daerah – yang tak pernah terjajah” meski ironis kalau melihat kondisi dan situasi Afghanistan yang telah pernah porak poranda itu. Negara – tanah tak pernah terjajah… benarkah itu, Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s