Muroami

Di peta nasional Pulau Tidung adalah sebuah noktah dari ratusan gugusan pulau yang tersebar di antara pulau Jawa dan Kalimantan. Di era 80-an, untuk tiba di pulau yang menurut tetuah kami konon jadi tempat para begal dan bajak laut bersembunyi ini, butuh waktu empat jam dari darat. Orang pulau memang biasa menyebut darat untuk maksud Pulau Jawa –nama yang bagi anak-anak seusia kami waktu itu adalah tempat dimana impian jadi nyata.

Tak seperti di Pulau, di Darat kami bisa menyaksikan mobil hilir mudik, bermain komidi putar, membeli mobil mainan, sepatu baru, dan seragam sekolah. “Tahukah kamu Mawi, dari atas Monas, mobil-mobil itu mirip korek api, dan pulau kita ini, pulau kita Mawi… kelihatan jelas!,” kata Matung meyakinkan. Kepala Mawi mengangguk-angguk serius, mirip sekali dengan ayam peliharannya ketika sedang mematuk-matuk beras di halaman samping rumahnya.

Sebagai hadiah sekaligus bukti kalau benar-benar ke Darat, Matung memberi Mawi tanah liat yang sudah diformat seperti kelereng besar. Permukaannya licin karena Mawi memberi sedikit minyak kelapa. Di kampung kami, tanah liat memang tak ditemukan. Pulau hanya menyediakan pasir yang mudah menyerap air jika musim hujan tiba.

Hari minggu kemarin, Matung memang baru saja pulang dari Darat. Sebagai hadiah naik kelas, ia diajak Bapaknya jalan-jalan ke Jakarta sekalian membeli keperluan sekolah. Bapaknya yang nelayan kebetulan sekali sedang beristirahat melaut untuk beberapa minggu. Di masa “dis”, masa istirahat para nelayan Muroami, biasanya mereka gunakan untuk berkumpul dengan keluarga yang sudah mereka tinggalkan 4-5 bulan lamanya.

Pagi ini, ketika waktu istirahat sekolah tiba, Mawi dan Matung sedang terlibat obrolan tentang pengalaman keduanya selama masa-masa liburan sekolah. Tidak seperti lawan bicaranya, Mawi terlihat kurang percaya diri untuk menceritakan pengalaman liburan yang menurutnya tak begitu berkelas. Masa liburan Mawi hanya dihabiskan dengan memancing di seberang pulau, sesuatu yang biasa dilakukan anak-anak pulau.

Sebagian besar penduduk Pulau berprofesi sebagai nelayan di kapal Muroami yang mengandalkan jaring pukat harimau untuk memburu ikan. Mata jaring pukat, mirip mata jaring jala ikan dengan ukuran empat jari orang dewasa. Tali jaringnya lebih besar dan kuat dengan ukuran vertikal sepanjang lima meter, horizontal 20 meter. Di bagian atas, setiap setengah meter diberi pelampung dan pemberat dari besi di bagian bawahnya. Jaring ini dipasang melingkar seperti huruf U. Di bagian ujung tengah itulah jaring kantong terpasang, tempat ikan-ikan kelak terperangkap.

Nelayan-nelayan Muroami biasa memburu ikan di wilayah-wilayah yang jauh dari pulau tempat kami tinggal: Karimun Jawa, Bangka Belitung, bahkan Irian Jaya dan perbatasan laut Malaysia. Butuh tiga atau empat hari untuk tiba di tempat-tempat itu. Berawak rata-rata empat hingga lima puluh orang yang diangkut dengan satu motor kapal induk dan empat perahu gandeng, mereka biasa meninggalkan Pulau selama empat hingga lima bulan. Sebulan mendarat, selebihnya hidup terapung di atas kapal. Setiap empat atau lima bulan, mereka kembali ke Pulau untuk masa “reses”. Kami biasa menyebutnya dis, saat dimana para nelayan menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum kembali melaut untuk empat atau lima bulan berikutnya.

Pemilik modal dan aset-aset Muroami adalah seorang tauke yang biasanya mempercayakan seseorang yang disebut gongsol. Di Pulau kami gongsol adalah posisi paling elit di jagat permuroamian. Tak beda dengan jabatan direktur eksekutif di perusahaan-perusahaaan modern. Mereka berada pada status ekonomi kelas menengah atas seperti pula posisi pedagang besar, lurah atau wakil lurah. Selain soal koneksi ke kelompok pemodal, seorang gongsol mestilah yang punya kemampuan dan pengalaman lebih di bidang navigasi, ilmu perbintangan, ilmu membaca angin, juga insting seorang pelaut. Di laut gongsollah presidennya.

Di bawah gongsol ada posisi Kepala Laut yang bertugas khusus operasi lapangan. Kepala laut bertugas memeriksa kemana arus bergerak di kedalaman laut dan membaca seberapa besar potensi ikan yang akan terjaring. Keberhasilan operasi ditentukan pertama kali di sini. Untuk pekerjaan ini, kepala laut akan dibantu seorang assisten. Namanya Kepala Pembantu.

Sebelum menggunakan kompresor sebagai alat bantu selam, kepala laut Muroami di pulau kami terbiasa menyelam tanpa alat bantu. Rata-rata mereka bisa bertahan 4-5 menit di kedalaman air 5-6 meter.

Kalau pun sekarang mereka menggunakan alat bantu selam, jangan dibayangkan seperti para penyelam profesional yang dilihat di layar teve. Memanggul tabung udara, mengenakan jam pengukur kedalaman laut, baju dan sepatu renang. Kompresor sejauh ini adalah alat paling canggih buat mereka. Ya, kompresor yang biasa kita temui di tempat-tempat tambal ban.

Dari tabung kompresor, udara disalurkan lewat selang ke mulut penyelam. Lewat selang itu pula, komunikasi dilakukan antara penyelam dan pengontrol di atas kapal. Selang yang ditarik berkali-kali oleh penyelam di dasar laut adalah kode dimana ia tengah berada dalam kondisi darurat, dan untuk itu petugas di atas kapal mesti bertindak. Durrahim, tetangga jauhku, meregang nyawa di bawah laut lantaran Mustakim penjaga mesin kompresor di atas kapal lalai. Ia tak tahu jika selang terlipat selama hampir puluhan menit. Nafas Durrahim habis sebelum berhasil menggapai permukaan.

Ia melihat tubuh Durrahim sudah melayang-melayang beberapa meter dari permukaan laut. Di balik kaca mata lautnya, mata durrahim membelalak. Mustakim menarik secepat mungkin selang itu dan berharap nyawa Durrahim masih bisa diselamatkan. Tiba di permukaan, digamitnya tubuh lelaki tamatan SD itu lantas dinaikkan di dek kapal. Tubuh beku Durrahim pun diangkat dengan posisi terbalik lalu dikocok serupa ritual para pemenang lomba motor mengocok bir. Tak lama dari mulut Durrahim keluar banyak air yang memenuhi isi perut. Setelah itu merah. Darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Semuanya sudah terlambat. Durrahim meninggal dan Mustakim menitikkan air mata.

Dari Belitung, jasad Durrahim yang disimpan di palka es, tempat ikan-ikan hasil tangkapan juga disimpan, dibawa menuju pulau selama empat hari empat malam perjalanan laut. Durrahim tewas di medan laga! Ia meninggalkan seorang isteri dan dua anak yang masih kecil. Dalam pikiran kedua anak itu mungkin bapaknya hanya dianggap tengah tidur untuk beberapa saat. Waktu itu usiaku 15 tahun.

Selain pertaruhan nyawa, penggunaan kompresor juga menyebabkan penyakit lumpuh. Pamanku pernah berbulan-bulan tak bisa berjalan. Hanya mampu dipapah. Beruntung, terapi yang dilakukan rutin di salah satu rumah sakit Angkatan Laut, membuat ia bisa normal.

Selain kepala pembantu, di level paling bawah ada posisi penggiring yang bertugas menggiring ikan menuju kantong jaring dari atas permukaan laut dengan menggunakan gelang-gelang besi yang diikatkan pada tali sepanjang 5-10 meter yang dibenamkan ke dalam laut. Dengan suara gemerincing dari hentakan tangan para penggiring, ikan akan terbirit-birit masuk kantong jaring.

Kampung kami juga punya nelayan-nelayan harian yang mengail ikan tak jauh dari lepas pantai. Berangkat bakda subuh, pulang sebelum mentari terbenam. Nelayan-nelayan ini yang biasanya memasok kebutuhan rupa-rupa ikan buat penduduk pulau setiap harinya: tongkol, tengkek, atau kurisi.

Nopember 2007, Depok Pinggir Kali Ciliwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s