Taman Baca Nyiur Pulau Tidung; Usaha untuk Berbagi

Pagi itu puluhan orang, laki-laki, perempuan, tua, dewasa, remaja dan anak-anak, duduk bersila membentuk lingkaran membelakangi rak-rak buku yang berjejer rapi. Mereka asyik menyimak penuturan Ridwan Malik, salah seorang penggagas Taman Baca Nyiur Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Di Jakarta, ayah dua orang anak itu berprofesi sebagai jurnalis pada sebuah majalah bulanan keislaman tersohor. Seperti saya, ia lahir di pulau berpenduduk kurang lebih 500 kepala keluarga itu.

Sebagai putra pulau, pengalaman kecil Ridwan menyadarkan bahwa informasi dan buku-buku saat itu begitu sulit diakses. Selain soal jarak, rendahnya penghasilan masyarakat setempat jadi kendala. Berbeda dengan Jakarta, jarak yang dekat dengan pusat ibu kota membuat masyarakatnya jauh lebih muda menyerap informasi.

Berkaca dari pengalaman itu bersama beberapa generasi muda Pulau yang tinggal di Jakarta, Ridwan menggangas lahirnya sebuah taman baca. Sebagian pendiri taman baca berstatus mahasiswa. Sebagian lagi jurnalis dan pegawai kantoran. Saya, termasuk salah seorang yang menginisiasi lahirnya taman baca.

Hari itu, Minggu 17 September 2006. Di bangunan berlantai dua hasil sumbangan putra pulau yang “sukses” di Jakarta, Taman Baca Nyiur resmi berdiri. Acara peresmian dihadiri wakil dari aparat pemerintah, kepala sekolah Taman Kanak-kanak, SD, MI (setingkat SD), SMP, MTs (setingkat SMP), dan SMK/MA, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan beberapa organisasi kemasyarakatan di Pulau Tidung. Dana operasionalnya diperoleh dari donasi beberapa orang di Jakarta dan masyarakat setempat. Ada yang berbentuk uang, barang seperti cet atau karpet, atau berupa sumbangan kue jajanan untuk konsumsi peserta launching.

Peresmian yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam itu turut dimeriahkan tim marawis anak-anak Kecamatan Kep. Seribu Selatan. Mereka menabuh rebana, mendendangkan lagu-lagu religius dengan riang.

Sebagian peserta yang hadir tentu sangat berharap Taman Baca ini bisa dikelola secara profesional, berumur panjang, dan bermanfaat meningkatkan SDM masyarakat sekitar. Tak hanya itu, taman baca ini diharapkan tak sekadar menyediakan buku-buku bacaan, tapi juga kegiatan-kegiatan positif di luar sekolah formal.

Sejak resmi didirikan hingga awal Oktober lalu, setiap harinya hampir terdapat 30-an orang yang tercatat sebagai pengunjung. Sebagian besar terdiri dari anak-anak. Selebihnya remaja dan dewasa. Buku-buku yang diminati memang lebih banyak berupa majalah anak dan dongeng-dongeng anak. Baru setelah itu cerpen, majalah-majalah, dan bacaan umum. Saat ini pengelola juga telah menerima permintaan pengunjung untuk memperbanyak buku-buku cerpen untuk remaja dan buku-buku keagamaan bagi kalangan dewasa. Berikut laporan perjalanan tahun 2006

Di luar itu pengelola mengembangkan strategi jemput bola. Dengan menggunakan sepeda, volunteer mendatangani kerumunan ibu-ibu atau bapak-bapak. Menawarkan mereka membaca buku. Beberapa bulan program ini berjalan. Setelah itu timbul tenggelam.

Sekarang usia taman baca memasuki tahun kedua. Malu rasanya untuk mengatakan usaha ini menuai sukses. Tapi, saya selalu percaya ini tentu bukan hal yang sia-sia. Dari lokasi pertama kali berdiri, Taman Baca sudah pindah ke tempat yang lebih strategis. Di sebuah bangunan di area pelabuhan kapal motor. Di sana mobilitas lalu larang orang cukup tinggi, termasuk anak-anak. Pihak pemerintah setempat membolehkan pengelola taman baca menggunakan Kantor Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) setempat.

Akhir tahun lalu, Lembaga Coorporate Social Responsibility (CSR) PT China National Oil Offshor Corporation (CNOOC), perusahaan asal Cina pemilik kilang minyak di area Pulau Seribu ini memberi paket buku untuk Nyiur. Perusahaan ini juga menyumbang beberapa rak buku di masa-masa awal Nyiur. Sebelum Nyiur didirikan, saya dengar pula CNOOC sudah rajin menggelontorkan bantuan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu di lingkungan Kepulauan Seribu. “Prestasi” lainnya, perusahaan yang berdiri sejak tahun 1982 di Cina ini nyatanya diduga kuat “menyumbang” limbah bagi perairan Kepulauan Seribu. Karena pencemaran ini, biota laut terancam rusak. Nelayan pernah tak melaut beberapa hari lantaran laut dibanjiri sampah minyak mentah yang sekali lagi diduga milik CNOOC. Kasusnya sudah menasional. Dari media saya tahu, pihak pemerintah Kepulauan Seribu berang dan meminta pertanggungjawaban CNOOC. Mereka bahkan mendesak pemerintah pusat meninjau ulang keberadaan CNOOC. Sayangnya saya tak mendapat informasi cukup, sejauhmana pertanggungjawaban publik pemerintah setempat atas pengelolaan dana yang selama ini juga terus mengalir dari hasil ekplorasi CNOOC.

Kembali ke Nyiur. Tantangan serius Nyiur, dan saya kira taman baca yang lain, sekarang ini adalah menjaga stamina dan konsistensi pengelola untuk tidak hanya melayani, tapi juga terus mendorong masyarakat gemar membaca. Di sini peran volunter yang mengelola sehari-hari taman baca jadi ujung tombak. Selain berjiwa sosial, idealnya mereka adalah orang-orang yang mencintai dunia buku. Merekalah yang menjadi penghubung antara aktivitas di Pulau dan kami-kami yang dijakarta. Tak mudah menemukan orang-orang yang punya dedikasi tinggi terlibat dalam voluntarisme di tengah deru pembangunan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.

Pasokan buku-buku setiap bulannya adalah kendala lainnya. Meng-up date buku menjadi strategi penting untuk terus menggaet minat masyarakat untuk membaca. Kematian banyaak taman baca seringkali dimulai oleh koleksi buku yang itu-itu saja.

Demi menjaga kontinyuitas dan pengembangan taman baca ini kami selalu membuka kesempatan bagi Anda dan berbagai pihak yang berminat menyumbang buku, barang-barang permainan anak, atau bentuk dukungan lainnya. Apapun bentuk dukungan Anda kami percaya itu akan selalu bermanfaaat bagi kemajuan anak-anak di kampung kami.

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:

Depok. Jalan Raya Belimbing No. RT. 01 RW 01 Pancoran Mas Depok
Kontak: alamsyah M. Dja’far 0815 9819 841, Ghozali 0816 1128 267 Hery 0815 8585 7085,
Email: tbacanyiur@yahoo.com

Pulau Tidung. Jalan Pantai Selatan RT. 04 RW 02 No. 10 Pulau Tidung Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kontak Fahrul 021-68437392.

2 thoughts on “Taman Baca Nyiur Pulau Tidung; Usaha untuk Berbagi

  1. Hai Ali, apa kabar. Saya pasti ingat. Sekarang tinggal di Pulau atau di Jakarta? Saya akan catat nomor Ali. Dan kalau ada kabar mengenai lowongan saya akan informasikan. Keep contact yah! thx komen-nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s