20 Maret 1997

Di tikungan jalan itu kami berpapasan. Tapi nyaris tak kukenali wajah lelaki yang sudah begitu lekat di lebih separuh perjalanan hidupku itu. Dari jarak sepuluh meter, sosoknya hanya seperti bayang hitam yang bergerak kian kemari.

Di langit bulan tak bersinar. Tak banyak bintang bersolek. Tak bergairah. Di kiri-kanan jalan beraspal selebar dua meter itu tak ada lampu penerang. Sebuah gudang listrik tua berbalut warna kuning milik Pemda, gedung material yang tak lagi terpakai, dan hamparan ilalang membisu di sisi kanan. Aneh! Padahal di setiap lembar tagihan listrik yang dibayar warga, kalimat ini biasanya nongkrong: PAJAK PENERANGAN JALAN. Malam itu ternyata jalan pajak memang tak “terang”.

Beruntung sinar lampu yang berpendar dari depan rumah dan gudang pabrik krupuk tua di kiri jalan membuat wajah senjanya lebih jelas. Seperti kebanyakan wajah orang pesisir, warna kulitnya gelap tapi teduh seteduh angin timur. Berkalung sorban, berkopiah hitam yang tak tegak berdiri –seperti tentara mengenakan baret, aku tahu pakaian itu adalah baju kebesarannya—ia melangkah seperti tengah menghitung panjangnya jalan. Juga ujungnya yang mungkin saja ia tahu makin dekat.

Ia terperanjat lalu berhenti saat aku memanggilnya dari atas motor yang makin melambat dan berhenti persis di depannya. Pak Ali adik ipar Ema yang menjemputku dengan sepeda motor dari pesantren Ash-Shidiqiyyah seakan mafhum mempersilahkan anak-bapak ini melepas kangen.

Aku mencium tangan Bapak, ritual yang aku lakukan selama puluhan tahun. Ketika pergi dan pulang sekolah, mengaji, merantau, usai shalat, atau saat lebaran tiba. Wangi parfum non-alkohol merebak dari pori-pori kulit tangannya. Tangan laki-laki yang terampil. Tangan itu yang digunakan untuk menulis, memegang kalam saat mengajar ngaji anak-anak pulau, memasak, hingga mencari akar-akar punaga untuk kayu bakar. Tangan yang tak lelah ia ulurkan, seberapapun besarnya kesalahanku, kesalahan kami anak-anaknya.

Aroma parfum yang merebak dari pori-porinya itu mengingatkanku pada suasana masjid, mushalla, dan orang-orang tua yang berada di shaf terdepan saat shalat Jum’at tiba. Layaknya Aigner, parfum yang bisa dibeli tiga ribu rupiah untuk itu seperti menunjukkan identitas orang-orang “istimewa”, mirip. Saat mereka shalat, parfum itu seperti memacu sensasi tersendiri buat para penggunanya.

“Mau kemana pak?”
“Jalan-jalan saja,” jawabnya singkat.
“Dari pondok jam berapa?” tanyanya lagi sambil sambil terus memandangiku dari ujung kepala hingga kaki.

Diperlakukan seperti itu, aku rikuh. Tak biasanya Bapak begitu. Kalaupun ia memandangiku, biasanya hanya memandangi mataku dengan sorot mata tajam, pertanda Bapak marah. Semasa kecil beberapa kali aku diperlakukan begitu. Bapak memang marah jika aku pulang pulang setelah mandi laut ketika waktu Magrib nyaris tiba. Ya, dia marah dengan tak banyak cakap. Sebuah gaya mematikan!

Sekarang pandangannya seperti bermakna lain. Seperti ada yang hendak ia katakan dengan sorot matanya, sekali lagi dengan diam. Duh Tuhan, aku sadar matanya berkaca-kaca seperti permukaan laut angin timur yang tenang ditimpa sinar rembulan. Sebuah peristiwa yang baru kali ini aku lihat. Betul kawan, baru kali ini, seumur hidupku.

Setahuku masalah terberat dalam hidupnya adalah ketika kakak lelakiku terlibat miras pertengahan 1996. Bagi Bapak, itu aib tak terperikan. Aku menduga betapa hatinya begitu terpuruk. Bagaimanapun ia sadar, betapa berat dosa yang ia tanggung sebagai Bapak dari anak yang mengkonsumsi barang yang diyakininya dibenci tuhan. Bagaimana tidak, di saat ada saja beberapa orang tua orang yang minta nasihat agar anak-anak mereka tak lagi mengkonsumsi miras, justru aib itu menimpa keluarganya. Tapi tak setetespun air matanya jatuh, paling tidak di depan kami keluarganya.

“Emamu menunggu di rumah” itu kalimat terakhir yang aku dengar. Lalu diam. Diberitahu begitu aku manut. Kembali naik ke belakang sepeda motor. Pak Ali memacu kendaraannya menuju rumah yang butuh kira-kira sepuluh menit lagi untuk tiba. Aku lihat tubuh lelaki setinggi 150 cm itu pelan-pelan menghilang di tikungan. Di kepalaku bergumul sejumlah pertanyaan tentang ketakbiasaan sikap bapak ini.

***

Duduk di ruang tamu, malam itu Ema tampak cerah menggunakan busana warna putih. Di sekelilingnya puluhan orang yang kebanyakan ibu-ibu duduk melingkar di ruang berukuran 5 X 6 meter itu di temani rupa-rupa penganan, juga kopi dan teh manis. Di pojok ruangan, dua koper besar berwarna biru teronggok. Di tengahnya ada logo merah-putih, tulisan Jamaah Haji Indonesia di bawahnya.

Orang-orang itu yang akan mengantar Ema-Bapak menuju Wisma Haji Pondok Gede esok pagi. Sebagian besar sanak-famili dan tetangga. Kawan, tak sulit mengenali orang-orang pesisir seperti mereka, juga aku. Karena laut dan terik mentari, warna kulit kami umumnya lebih gelap dan berkilat dari orang-orang darat. Ya, berkilat bak iklan rambut shampoo Sunsilk. Yang penting tidak gigi-gigi kami yang berkilat.

Rumah itu? Ini rumah kakek yang dibangun sejak akhir tahun 70-an. Malam itu sengaja disulap jadi tempat transit sebelum menuju Wisma Haji di Pondok Gede. Ukurannya 8 X 15 berbalut warna putih itu terletak di pinggir jalan setapak. Sepuluh meter dari jalan utama. Menempel dengan tiga petak rumah yang sengaja kakek dikontrakan. Di halaman rumah, beberapa pot berisi lidah buaya dan kumis kucing berjejer rapi.

“Waalaikum Salam,” jawab mereka serentak saat aku member salam. Sontak aku jadi perhatian saat itu.

Aku salami mereka satu-satu. Dari ujung ke ujung, termasuk ema yang kelihatan sumringah. Sudah empat bulan kami tak bertemu. Aku di Jakarta, ema di Pulau. Seperti aku, ia pasti juga rindu dan berharap bisa melepasnya pergi ke tanah suci. Momen yang mungkin paling berharga dalam hidupnya.

“Doakan ema ya Syah, sehat-sehat selama di Mekkah, selamat sampai kembali ke rumah,” pintanya ketika aku cium tangannya.
“Ema masuk kloter berapa?”
“Kloter 10”
“Apa ada orang pulau yang bareng Ema?”
“Tidak ada”

Setelah ritual cium tangan aku pamit untuk mandi. Sejam perjalanan dari Kebon Jeruk, badan ini bau jalanan. Berkeringat. Senja 20 Maret 1997 di kota Pabrik ini makin tak ramah.

Tak seperti di Pulau kami, air di sini terasa tak begitu segar dan berbau. Rumah kakek memang di bangun di atas daerah yang dulunya rawa-rawa tempat tanaman enceng gondok berkembang biak. Dibeli dari seorang tuan tanah terkenal daerah Tanah Tinggi.

Aku tinggalkan Ema yang masih asyik ngobrol dengan para pengantar itu soal haji dan kisah-kisahnya yang unik yang sempat mereka dengar dari tetangga yang pulang haji.

“Di Mekkah kita tidak boleh sembarang ngomong. Dulu saja ada yang seharian nyasar tak bisa pulang ke pemondokan. Padahal jarak Kabah ke tempat pemondokan tak jauh. Itu karena kelepasan ngomong: ‘masak jarak deket aja nyasar’” cerita seorang ibu. “Di sana tempat permohonan cepat dikabulkan dan sangat beruntung orang-orang yang takdirnya meninggal di kota suci itu . Saya dengar dari Pak Dja’far katanya jaminannya masuk surga,” timpal yang lain.

Itu memang keyakinan kebanyakan muslim di negeri ini. Di hadis-hadis Nabi, pandangan itu punya alasan. Mungkin lantaran ini pula nyawa mereka yang berhaji seperti tak berarti.

Aku menghambur ke teras rumah. Di sana empat bapak-bapak duduk melingkar dan terlibat obrolan. Wak Zuki, salah seorang dari mereka menyeruput teh. Sruuuup. Nikmat sekali! Wajahnya kelihatannya sumringah. Angan lelaki berusia 58 tahun ini melambung tinggi berharap suatu saat bisa naik haji seperti ema-bapak.

Wak Hilmi, masih asyik berkisah soal musim tongkol yang membawa berkah buat para nelayan, membawa 4-5 kilogram hasil pancingan. Seperti kebanyakan orang-orang di Pulau kami, saat usianya belum mencapai kepala lima, ia pelaut yang ulung. Menaklukan ganasnya laut, menjelajah jauh hingga ke ujung timur Indonesia. Tapi usia membuatnya harus berdamai dengan keadaan. Rambutnya sudah berwarna perak. Sekarang kakak tertua Bapak ini lebih banyak menghabiskan masa tuanya di rumah. Sebagiannya dihabiskan di masjid atau bermain dengan cucu.

Sudah pukul 10 malam bapak belum juga pulang. Rindu aku ngobrol ngalor-ngidul seputar pelajaran yang ku dapat di pesantren. Tentang nahwu, sharaf, fikih dan ushul fikih. Atau sekadar mendengar cerita rakyat seperti legenda si Pitung jagoan Betawi atau Mat Item, si begal kesohor dari Kebon Jeruk. Dulu menjelang tidur, aku sering mendengar cerita Bapak soal doa tokoh itu. Seru, menegangkan!

Aku masih asyik terlibat obrolan bersama empat orang tadi saat Bapak muncul dan duduk di sofa di depan rumah tanpa ku sadari. Ia datang dengan kebisuan. Aku memang duduk di lantai dengan posisi membelakangi sofa tua yang menghadap ke utara. Jarak aku dengan bapak sekitar empat meter. Masih seperti beberapa jam lalu kami bertemu wajah bapak membeku seolah ingin lebih banyak menyendiri.

Belimbing Depok, Bantaran Kali Ciliwung, 1 November 2007

2 thoughts on “20 Maret 1997

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s