Musuh

Dengan sebuah majalah Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897) dan Jamaluddin Al-Afghani(1849-1905) berhasil “menguncang” dunia dari Paris. Urwatul Wustqa, tali yang kokoh, nama majalah itu.

 

Terbit sejak tahun 1884, tak sedikit pihak yang menentang kehadiran majalah ini, terutama para penguasa Barat. Di pasaran dunia Timur seperti Mesir dan India, Wustqa dilarang beredar.

 

Di Indonesia penguasa Belanda bersikap serupa. Mereka menyensor secara ketat buku dan bahan-bahan bacaan, terutama dari Timur Tengah, yang biasanya didrop di bandar-bandar pelabuhan besar. Tapi, majalah itu tetap bisa masuk via pengiriman gelap di pelabuhan-pelabuhan kecil, salah satunya pelabuhan Tuban.   

 

 

Lahir di Afghanistan, Al-Afghani seorang tokoh muslim terkemuka di abad ke-19. Ia pemikir yang revolusioner dan negarawan yang piawai. Begitupun dengan Abduh yang lahir di negeri Piramid dari keluarga petani.

 

Bedanya, Abduh bukan negarawan seperti Al-Afghani. Ia pemikir revolusioner yang hendak melakukan pembaruan di bidang pendidikan Islam. Tapi keduanya punya kesamaan yang jelas: melawan musuh.

 

Musuh itu adalah Barat yang menurut mereka menyebabkan negeri-negeri muslim porak-poranda, terpecah-pecah, dan tak punya kemandirian. Bukan hanya menguras kekayaan, tapi juga menjajah kebudayaan umat Islam.

 

Dan Urwatul Wustqa menjadi media yang menyebarkan semangat perlawanan itu, juga memberi solusi yang dinilai pas. Umat Islam dihimbau kembali pada al-Qur’an dan Assunah, memperbaharui pendidikan, dan menyatukan negara-negara muslim agar padu.

 

Urwatul Wustqa hanya bertahan tujuh bulan dengan 18 nomor. Setelah itu, mati. Tapi sebagian tokoh-tokoh muslim awal negeri ini begitu terinspirasi dengan gagasan yang diusung.

 

Di tanah air, sebagian besar media-media Islam agaknya juga tak bisa lepas dari bayang-bayang “musuh”. Bernama kolonialisme, komunis, zionis, fundamentalisme, liberalisme dan seterusnya. Aroma permusuhan ini bisa dibaca dalam sejarah kelahiran media-media Islam era pra kemerdekaan, kemerdekaan, orde baru, hingga paskareformasi.

 

Sebut saja Al Munir, Sarotama, Sinar Hindia, Persatoean, Al Djihad, Pembela Islam, yang terbit di masa-masa pra kemerdekaan. Atau Panji Masyarakat, Kiblat, Duta Masyarakat, Mercu Suar , dan Abadi di zaman kemerdekaan, hingga media-media yang muncul di era paskareformasi. Bagaimana dengan Syir’ah? Silahkan nilai sendiri.

 

Pertanyaannya, begitukah semestinya peran media-media Islam? Lahir untuk menghancurkan musuh-musuh yang dibayangkan? Satu saat dielu-elu penggemar, dicaci-maki bahkan mesti dibunuh sang musuh di lain waktu. Hidup dalam situasi yang penuh permusuhan dan kebencian?

 

Akankah media seperti ini berumur panjang? Tak mudah menjawabnya. Hanya saja kenyataannya, sebagian besar memang tumbang digilas waktu dengan beragam musabab. Itu berarti media-media Islam yang lahir tanpa permusuhan bisa bertahan lama? Belum tentu. Tak sedikit justru diombang-ambing pasar. Suatu saat memang bisa berada dipuncak, tapi tak sedikit yang rontok dalam waktu lekas. Agaknya yang berhasil bertahan adalah mereka yang berada antara irisan idealisme dan selera pasar. Semoga bersama waktu, media-media Islam termasuk Syir’ah mampu belajar dari sejarah.    

 

Toleransi tentu bukan komunikasi satu arah dan itu artinya hubungan Timur-Barat juga amat dipengaruhi oleh bagaimana Barat menerima Islam; bagaimana kesungguhan Barat menghormati tradisi Islam secara obyektif dan proporsional.

           

Dimuat Majalah Syirah edisi 57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s