Barat

Saya kira protes umat Islam terhadap pernyataan Paus Benediktus XVI di Universitas Resensburg, Jerman, beberapa waktu lalu adalah penanda lanjutan dari ketegangan hubungan Timur-Barat akhir-akhir ini. Reaksi terhadap perlarangan Jilbab di Prancis, kerusuhan rasial di Australia, pemuatan kartun Nabi di harian Jyllands Posten Denmark, dan serangan Israel ke Palestina serta Libanon adalah penanda lainnya.

 

Hubungan Timur-Barat tentu tak sekadar masalah geografis atau wilayah. Di dalamnya beragam faktor berkelindan: mulai masalah ekonomi, politik, sosial, agama, hingga imajinasi masa lalu. Ini yang membuat satu peristiwa tak selalu berdimensi tunggal. Serangan Israel atas Libanon dan Palestina, misalnya, kadang tak sekadar hubungan antara Israel-Libanon-Palestina, tapi hubungan Yahudi-Islam, Barat-Islam, penindas-tertindas. Islam atau muslim di sini seolah melampaui batas-batas teritori, juga setting sosial-politik.

 

 

Agaknya globalisasi yang membuat batas-batas itu tak tunggal. Ia yang membuat umat Islam di satu negeri ini seperti tak berjarak dengan muslim yang ada di luar mereka. Muslim di Indonesia seakan “tak beda” dengan di Libanon, Afghanistan, Amerika, Perancis atau Australia. Padahal masing-masing berada dalam setting tertentu.

 

Hal yang sama juga terjadi untuk sesuatu yang dianggap sebagai “Barat”. Makanya tak heran, apa yang dilakukan pemerintah Amerika berimplikasi baik langsung maupun tidak pada orang-orang berkewarganegaraan Amerika di luar negeri. Serangan pemerintah Amerika atas Irak, contohnya, bisa menyulut tindakan sweeping terhadap warga Amerika di Indonesia.

 

Dengan begitu, saya ingin mengatakan, hubungan Timur-Barat sudah semestinya dilihat pada level global. Setiap pihak, baik Timur maupun Barat, harus merasa berada di kampung global yang makin menyempit dan tak berjarak. Menjadi muslim Indonesia berarti menjadi bagian dari warga muslim dunia.

 

Nah, dalam hubungan itu setidaknya ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan:  dunia Islam, umat Islam di Barat, dan dunia Barat.

 

Dunia Islam atau negara-negara yang berpenduduk Islam seyogyanya menunjukan perilaku baik untuk kehidupan internal mereka maupun dalam hubungannya dengan komunitas luar; bisa membuktikan dengan sikap nyata bahwa Islam tak menyukai kekerasan apalagi terorisme; memperbaiki kualitas hidup dan pendidikan mereka.

 

Begitupun dengan minoritas muslim di negeri-negeri Barat. Oleh masyarakat negeri itu, seringnya sikap mereka dianggap mewakili muslim di seantero dunia. Artinya, baik-buruknya citra muslim amat dipengaruhi perilaku minoritas muslim di negara-negara maju.

 

Toleransi tentu bukan komunikasi satu arah dan itu artinya hubungan Timur-Barat juga amat dipengaruhi oleh bagaimana Barat menerima Islam; bagaimana kesungguhan Barat menghormati tradisi Islam secara obyektif dan proporsional.

           

Dimuat Majalah Syirah Edisi 57        

             

           

           

           

           

 

4 thoughts on “Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s