Anggota NII Bandung Tersangka Makar

Dakwaan itu terdengar menyeramkan: 17 orang dinyatakan makar dan merongrong NKRI. Mereka anggota gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang dituding hendak mendirikan negara dalam negara. Berdasarkan laporan masyarakat, 20 April 2008 lalu aparat Polda Jawa Barat menangkap ke-17 orang ini bersama 18 anggota NII lainnya di tiga lokasi di wilayah Bandung dan Cimahi. Seperti dikutip Detik (12/05/2008), mereka ditangkap ketika menggelar upacara Hijrah, ritual perpindahan warga negera dari Indonesia ke NII. Bersama mereka ditemukan  sejumlah dokumen-dokumen penting seperti berkas undang-undang dasar (UUD) NII, teks proklamasi, rekening kas negara, bendera, juga struktur organisasi tata kerja pemerintahan NII, kitab undang-undang pidana, dan peraturan pemerintah pembagian wilayah (www.republika.com, 13/05/2008)

Seusai penyidikan, 17 orang itu dinyatakan tersangka, sisanya sebagai saksi. Menurut Kapolda Jabar Irjen Pol Susno Duadji, para tersangka adalah para pejabat dalam struktur NII seperti gubernur, bupati, hingga pimpinan di tingkat desa. Sebelumnya mereka hanya dijerat pasal penggelapan dan penipuan. Belakangan meningkat menjadi dugaan makar dengan ancaman penjara selama 15 tahun karena upaya mendirikan negara Islam. Menurut Susno, negara Islam ala NII ini dibagi dua: bagian barat mencakup Pulau Jawa, NTB, NTT, dan bagian timur meliputi Pulau Kalimantan, Irian Selatan, Timor Leste, dan Malaysia.

Sebetulnya, penangkapan anggota NII ini bukan kali pertama. Agustus tahun lalu Kepolisian Sektor Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat juga menggerebek sebuah rumah di bilangan komplek Antilope Jati Cempaka Pondok Gede. Rumah itu diduga sebagai salah satu markas aktivitas angggota NII. Sepuluh orang ditangkap berikut buku dan sebuah laptop berisi daftar anggota, pemasukan dana, catatan kegiatan mereka, juga naskah teks proklamasi NII (www.metrotvnews.com, 18/08/07). Sejumlah kelompok juga getol menyelidiki sepak terjang gerakan ini. Di Jawa Barat Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) yang dibentuk Athian Ali yang juga ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) adalah salah satunya. Sementara di Jakarta ada LPPI pimpinan Amin Jamaludin yang juga anggota MUI Pusat.  

Setelah kematian Kartosuwiryo, isu NII memang seperti timbul tenggelam. Antara ada dan tiada. Pada 9 Agustus 1949 NII pertama kali diproklamirkan SM Kartosuwiryo yang melawan penguasa pusat pimpinan Soekarno. Tapi pasa 1962 dibawah komando AH. Nasution, NII berhasil dilumpuhkan.  

Tapi, sebagian kalangan percaya, gerakan ini tak surut oleh kematian sang pemimpin tertinggi. Sisa-sisa anggota ini terus melancarkan gerakan bawah tanah. Gerakan ini yang konon lebih tenar dengan gerakan NII Stuktural yang kelak terbelah dua. Sebuah tulisan di salah satu blog bertajuk “Memoar Ummat NII KW9” menyebut kelompok pertama dipimpin Tahmid Kartosoewiryo dan kelompok kedua dikenal dengan NII KW (Komandemen Wilayah) IX. Kelompok yang terakhir adalah kelompok yang sering disebut-sebut mengabsahkan tindakan kriminal seperti penculikan, perampokan, bahkan pembunuhan. Para anggotanya konon dibekali kemampuan persuasi dan psikologis untuk menggaet calon anggota.

Pimpinan kelompok NII KW IX seringkali dikaitkan dengan seorang tokoh pimpinan pondok pesantren termegah di JawaBarat sekaligus menjadi pusat menggerakan organisasi ke seluruh Indonesia. Namun, dugaan itu hingga saat ini tak begitu benderang, meski sejumlah indikasi mulai terkuak. Sejumlah poster berisi foto, kegiatan, dan struktur organisasi bertuliskan Ma’had Al-Zaytun ditemukan polisi sebagai barang bukti dalam kasus penangkapan beberapa waktu lalu itu.  

TIAS  menyebut hingga September 2001 kelompok ini beranggotkan lebih dari 160 ribu orang di seluruh Indonesia. Belakangan, mereka banyak “beroperasi” di lingkungan kampus-kampus umum dan mensasar kaum muda.

Athian menuding gerakaan ini tak hanya hanya melakukan makar, tapi juga menjadi gerakan pemurtadan secara besar-besaran dan sistematis. “Gerakan mereka itu sebenarnya sudah sangat sesat dan menyesatkan,” katanya (www.antara.co.id, 20/05/08)

Jauh sebelum kasus ini mencuat, H Abdul Fathah Wirananggapati, mantan Kuasa Usaha Daarul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), membantah jika NII-KW IX terkait dengan NII Kartosuwiryo. “NII Kartosuwiryo telah berakhir sejak tahun 1962, dan sampai tidak ada gerakan itu lagi,” kata lelaki yang pernah membaiat pimpinan DI/TII Aceh Daud Bereuh itu enam tahun silam. Gerakan NII yang sekarang oleh Herman Ibrahim, Mantan Kapendam III Siliwangi dan Kepala Biro Humas Depdagri RI, bahkaan dianggap kelompok yang sudah berkolaborasi dengan pihak intelejen demi menghancurkan NII dari dalam (Gatra.com, 19/05/2002)

Sebagian besar isi artikel di muat pada Monthly Report The Wahid Institute Edisi Mei 2008

 

 

 

 

 

 

12 thoughts on “Anggota NII Bandung Tersangka Makar

  1. KONSEP NEGARA iSLAM INDONESIA ADALAH JIHAD AKBAR SEORANG MUJAHID KARTOSUWIRYO DAN SETELAH BELIAU MENINGGAL DIBAWAH HUKUMAN REGIM SEKULER ORDE LAMA TIDAK ADA LAGI KELOMPOK YANG BERHAK MENGGUNAKAN LABEL INI KARENA AKAN MENODAI KESUCIAN PERJUANGAN SM KARTOSUWIRYO

  2. JANGAN TERLALU BANYAK BICARA YANG PENTING BERKARYA DAN JANGAN TERLALU BANYAK MENGHUJAT, APAKAH ANDA SUDAH ADA DALAM JALUR YANG BENAR??, JANGAN BANYAK BERTEORI DALAM AQIDAH APAKAH ALLAH SUKA ABDINYA BERTEORI DARI PADA SAMI’NA WA’ATONA JANGAN TERLALU BANYAK BERKONSEP DALAM BERNEGARA ALLAH SUDAH MERINCINYA DALAM KONSEP Rububyah Mulkyah Uluhiyyah
    yang anda harus pikirkan adalah apakah kalian termasuk kedalam peringatan Allah disurat Al-maidah ayat 44,45,46 dan 47 apabila ya cari jalan ke arah perbaikan karena allah menyuruh memilih seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 99 dan 100

  3. Mas alam yang dirahmati Allah S.W.T jika kita baca qur’an seperti biasa mungkin kita tidak pernah melihat secara jelas termaktub di dalam Alquran dimana Allah mengharuskan membuat suatu negara itu mungkin benar, namun bagaiamana cara merealisasikan aturan Allah dimuka bumi dimana Allah menyuruh semua umat manusia harus tunduk patuh terhadap Alqur’an kalau bukan pada tingkatan ketata negaraan ?? sebagai contoh misalnya orang berzina apakah di razam seperti yang Allah kehendaki, kemudian siapa yang menentukan bahwa si x itu telah dihukum sesuai yang dikehendaki Allah
    ? Apakah kita misalnya linkungan keluarga bisa menegakkan hukum itu, atau mungkin RT, RW, Kelurahan, itu tidak bisa, ( MALAH JANGAN -JANGAN KITA DISEBUT TELAH MENGANIAYA DAN ITU JELAS ADA SANGSI HUKUMNYA yang artinya harus berupa suatu institusi kenegaraan / HAKIM SEBAGAI PERANGKAT KETATA NEGARAAN nah mnegakan aturan itu akan menjadi batu ujian kita di mata Allah maka Allah memberi ultimatum di surat Al-maidah 44,45,46,47 yang bunyinya BARANG SIAPA YANG TIDAK MENUTUSKAN SUATU PERKARA MENURUT APA YANG DUTURUNKAN ALLAH ( ALQURAN )MAKA MEREKA ITU TERMASUK-ORANG-ORANG KAFIR, FASIK DZOLIM, ITU TITEL YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA SELURUH MANUSIA, SUKA ATAU TIDAK SUKA BUKAN ORANG NII YANG SELALU DISEBUT-SEBUT PENBERI LABEL KAFIR/MENGKAFIR-KAFIRKAN KEPADA MANUSIA TERSEBUT INI SUATU INDIKASI BAHWA HARUS ADANYA SUATU WADAH DIATAS INSTITUSI-INSTITUSI YANG ADA TIADA LAIN ADALAH NEGARA ITU CONTOH SIMPELNYA ALLAH TELAH MEMBERI KARUNIA MEMBERIKAN MATA, HATI, KUPING, AKAL MASA KITA TIDAK KITA GUNAKAN UNTUK MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLAH ??? nah untuk membuang label kafir,fasik,dan zalim YANG DIBERIKAN ALLAH kita harus gimana ?? ya pakai ALQURAN SEBAGAI HAKIM/PEMUTUS PERKARA/UUD.

  4. Mas Irwan yang baik. Agaknya kita sepakat, institusi paling representatif mengelola masyarakat di 99 persen di belahan bumi ini adalah negara. kita mungkin berbeda pada konsep dan label negaranya. Anda lebih berpandangan negara Islam harus menjadi negara yang mengatasi institusi-instusi lain –yang Anda anggap menjadi “kewajiban” muslim.

    Sebelum masuk ke soal ini, saya ingin berdiskusi beberapa konsep kunci yang sudah Anda sebut: hukum Islam, hukum tuhan, syariat Islam.

    Apakah yang Anda maksud dengan hukum Islam atau Tuhan, merujuk ayat-ayat itu, adalah Syariat Islam? Syariat Islam yang mana? Bagaimana pula cara kita (sebagai penafsir maupun orang yang mengikuti pandangan-pandangaan para mufassir) membatasi periode dan kriteria “yahkum bima anzalallah” (terjemahan bebasnya, menjalani dan menerapkan hukum-hukum Allah) dalam ayat-ayat rujukan tadi? Apakah ia bermakna ‘am (umum, universal) atau khos (khusus, partikular)? Apakah hukum-hukum yang dimaksud dimulai sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, atau periode Nabi Muhammad saja? Lantas hukum yang mana saja yang kita pakai? Apakah yang maksud syariat Islam seperti yang kita pahami sekarang ini, yang merangkum sangat detil hukum-hukum Islam (hudud, muamalah, dan lain-lain) itu?

    Perlu juga diingat, konsep syariat Islam dengan berbagai varian pemikirannya baru dibakukan secara massif di tiga abad pertama Islam: abad ke-7 M hingga ke-9 M, terutama sejak berdirinya imperium Umayyah dan Abbasiyyah. Jauh sesudah ayat tadi diturunkan. Di masa inilah kita mengenal Imam Abu hanifah (w. 150 767 M) dan murid terkemukanya, Abu Yusuf (w. 797 M) dan Syaibani (w. 805 M) mendirikan sebuah mazhab di Syiria, yang dipengaruhi oleh Mazhab Maliki (w.795 M), yang mulanya berdiri di madinah. Termasuk juga Syafi’i (w.204/819), murid dari Malik, dan Ibnu Hanbal (w.241/855), pendiri mazhab fiqh Sunni keempat . Setelah masa ini kita kemudian mengenal berbagai perkembangan “hukum Islam” termasuk soal negara Islam

    Saya sendiri sering bertanya-tanya, mengapa tafsir populer ayat ini selalu merujuk ke Syariat Islam versi komodifikasi itu? Mengapa tak banyak muncul tafsir lainnya? Sebab, jika melihat konteks ayat ini, bukankah ia begitu umum dan universal: ma anzalallah (apa-apa yang “sudah” diturunkan)?

    Pertanyaan lainnya. Jika kita setuju pandangan terakhir, pertanyaan lanjutannya lantas bagaimana cara kita memilih dan menemukan apa yang dimaksud dengan hukum tuhan. Apakah hukum ini hanya selesai di tingkat komodifikasi syariat Islam di masa kekhalifaan itu, atau dia bisa menyesuaikan dengan kebutuhan zaman? Jika kita setuju yang terakhir, artinya ada prinsip-prinsip umum yang bisa kita pakai dari apa yang sudah diturunkan itu. Hal yang parsial, secara logika sulit diterapkan dalam konteks dan kasus yang berbeda.

  5. KW IX yang mengaku termasuk kedalam NII itu adalah sebagai bahan tandingan saja bagi NII yang ada yang sudah terpecah belah menjadi dua. sehingga bisa dikatakan siapa yang benar2 membela islam dan memperjuangkan islam dan siapa yang hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya dari islam itu sendiri dan itu yang tidak benar. Islam adalah merupakan sebagai wadah untuk berjuang sehingga dengan mengorbankan jiwa dan raganya dan juga hartanya untuk Islam saja, bukan untuk yang lainnya. dan jika ada yang melenceng dari garis perjuangan yang ada itu namanya ingin menghancurkan dan merusak imeg yang sudah ada.

  6. lebih baik kalian bersatu saja antara nii putih dan nii kw9, jangan kalian permasalahkan hal yg menghancurkan cita-cita islam, yg terbaik kalian rembukan datang langsung ke al zaytun dan bersama-sama membangun pendidikan dan perekonomian islam dan bersama-sama pula membangun akidah dan moral yg islami dengan melakukan ibadah ritual secara bersama dan berdampingan, agar tercipta umatan wahidan (umat islam yg satu dalam membangun kemajuan islam).

    SEMOGA TERWUJUD, AMIIIIIIIIN……………

  7. sbelum meneliti lebih jauh mari kita tengok masalah tujuan pencitaan manusia dan syarat sah ibada yang benar seperti apa? dan ingat tempat yang di ridha’i untuk beribadah dimana? selain tempat yang di ridho’i tidak ada ibdah ya kembali ke konsep rububiyah,mulkiyah dan ilahiyah

  8. yaa ayuhanass :::::sebelum jauh membahas hukum alloh (hukum al qur’an)???? kita yakin ga terhadap al-qur’an itu sendiri??? dan dari kapan ada al-qur’an? sampai kapan al-qur’an berlaku? untuk siapa al-qur’an? mari kita renungkan dan mari kita coba pikirkan..karena al-qur’an hanyalah untuk orang-orang yang berfikir?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s