The Last Supper Made in Tempo

Sampul itu pasti penuh makna. Juga The Last Supper yang menginspirasinya. Bagi umat Kristiani, Perjamuan Terakhir ini adalah sebuah momen amat sakral dan sumber beragam rahmat Tuhan. Itu simbol penghormatan, kenangan, dan kerinduan kepada Yesus.

 

Bagi Indonesia, Soeharto adalah cerita yang mungkin tak pernah usai. Hingga prosesi penguburannya, penguasa Orde Baru ini adalah wajah berita media massa hari-hari itu, termasuk Majalah Mingguan Tempo. Majalah ini menurunkan Edisi Khusus Soeharto, 4-10 Februari 2008.

Bertajuk “Setelah Dia Pergi”, edisi khusus menurunkan sampul mirip The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Dengan warna rambut yang sepenuhnya putih, Soeharto duduk di tengah dengan kedua tangan terbuka di atas meja. Di depannya terserak secangkir gelas, piring, sendok, dan sebuah piring kecil tanpa isi. Tiga di sebelah kanan: Bambang Triatmojo tengah membisik ke telinga dua kakaknya. Tiga di kiri, Hutomo Mandala Putra membisik dua kakaknya yang lain.

 

Sampul itu pasti penuh makna. Juga The Last Supper yang menginspirasinya. Bagi umat Kristiani, Perjamuan Terakhir ini adalah sebuah momen amat sakral dan sumber beragam rahmat Tuhan. Itu simbol penghormatan, kenangan, dan kerinduan kepada Yesus. Mengilustrasikan gambar agung, apalagi dengan sosok Soeharto bagi sebagian umat Kristiani dirasa melukai perasaan. Salah satunya dirasakan sejumlah perwakilan mahasiswa dari Kalangan Kristiani.

Selasa Siang pukul 13.20 WIB, sekitar delapan orang perwakilan dari Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mendatangi kantor Tempo di Jalan Proklamasi Jakarta Pusat. Bersama mereka, ada Paskalis Pieter yang didapuk sebagai tim pembela kebebasan beragama. Siang itu mereka ingin mendapat penjelasan pihak Tempo soal sampul tersebut. “Kita tidak demo, hanya ingin berdialog,” kata Ketua Forum Komunikasi Alumni PMKRI Hermawi Taslim (detik.com 5/2/2008).

Setelah sejam berdialog, pihak Tempo dan perwakilan mahasiswa Katolik menggelar jumpa pers. “Saya atas nama seluruh wartawan dan institusi Tempo, memohon maaf. Karenanya permohonan maaf ini akan kita muat dalam Koran Tempo edisi besok, situs Tempo Interaktif Online dan Majalah Tempo edisi minggu depan,” jelas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad. Tapi majalah Tempo yang sudah beredar tak akan ditarik kembali. Sementara untuk Tempo edisi Inggris akan menggunakan cover lain.  “Ini hanya salah tafsir. Ternyata penafsiran kita berbeda. Kami hanya mengambil inspirasi dari Leonardo Da Vinci. Ternyata foto itu diagungkan oleh umat Kristiani,” tambah pria berkacamata itu seperti dilansir Detik.

Perwakilan Mahasiswa Katolik sendiri menjelaskan, pihaknya tak akan meminta ganti rugi. Bagi mereka, maaf dari pihak Tempo sudah cukup. Entah mengapa, protes mereka masih berlanjut hingga ke pihak kepolisian.

Tiga hari berikutnya (Jumat, 08/02) kelompok yang menamakan Aliansi Mahasiswa Pemuda Kristen (AMPK) ini mendatangi Polda Metro Jaya sambil membawa majalah Tempo edisi khusus Soeharto sebagai barang bukti. Aliansi itu terdiri dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI), Dewan Pemuda Gereja Indonesia (DPGRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Dalam selebaran yang dibagikan, AMPK menulis lima tuntutan: Tempo minta maaf selama tiga edisi di majalah, dan dua hari di media cetak lokal dan elektronik; menghentikan eksploitasi simbol agama untuk kepentingan komersial; meminta menteri agama proaktif menangani masalah ini; meminta Dewan Pers menjatuhkan sanksi pelanggaran kode etik pers; dan meminta majalah edisi 4-10 Februari itu ditarik dari peredaran (Koran Tempo, 08/02). Pasal yang dipakai untuk kasus ini pasal 156 KUHP tentang penistaan agama.

Lantaran dianggap tak cukup bukti, oleh Sentra Layanan Kepolisian mereka sempat ditolak. Tapi pukul 15.00 mereka kembali sambil membawa salinan lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci yang diperoleh dari warnet. Hingga berita ini ditulis, pengaduan mereka masih dalam proses.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Martinus Dogma Situmorang sebetulnya menyayangkan langkah itu “Kami sendiri tak akan melaporkannya ke polisi,” ujarnya (Koran Tempo, 09/02). KWI juga tak akan akan kasus ini ke Vatikan, otoritas Katolik tertinggi sedunia. Permintaan maaf pihak Tempo sudah cukup. “Tapi harus tulus dan jujur mengakuinya,” tambahnya.

Banyak komentar di media massa terkait kasus yang muncul bersamaan dengan momentum hari Pers Nasional ke-62 ini. Sebagian mengaitkannya lebih karena isu Soeharto yang hingga hari ini masih jadi kontroversi ketimbang isu agama. Lainnya lebih karena sentimen agama dan ketidakpekaan Tempo. Dari Surabaya Dhimam Abror Ketua PWI Jawa Timur yang juga Pemred Harian Surya Jawa Timur berharap kedua pihak bisa menemukan kesamaan kerangka berpikir demi menjaga kebebasan pers. “Jangan sampai ada menang-menangan, yang mengedepankan kebebasan berekspresi dan merasa benar. Sehingga malah akan mengorbankan kebebasan itu sendiri,” katanya seperti dikutip suarasurabaya.net (09/02).

Dimuat pada Monthly Report The Wahid Institute, Februari 2008 dengan beberapa editing

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s