Melek Agama

 

Di sebuah forum diskusi beberapa bulan lalu seorang intelektual muslim sempat bertanya dengan nada guyonannya yang khas dan disambut gemuruh hadirin. Bagaimana ceritanya, penerapan syariat Islam ujug-ujug bisa menekan harga minyak goreng, minyak tanah, atau cabe kriting di pasar domestik?

 

Itu pertanyaan simplistis, memang. “Tapi bagi sebagian masyarakat muslim, itulah pandangan yang populer,” terangnya. Sebagian masyarakat kita memang percaya, masalah akut yang membelit negeri ini akan teratasi jika syariat diterapkan tanpa bisa menjelaskan bagaimana caranya itu beroperasi. Harga minyak goreng dan sembako bisa ditekan, apalagi perkara-perkara besar serupa korupsi atau cara mendongkrak income perkapita masyarakat Indonesia.

 

 

Cara pandang ini belakangan memang jadi tren yang tak hanya terjadi di lingkungan muslim, tapi juga di kalangan pemeluk agama-agama besar lain. Yang simpel, sederhana, praktis, dan populer, selalu lebih digandrungi ketimbang yang njlimet dan butuh penalaran lebih rumit. Beragam perdebatan menjalani agama dengan kekayaan sejarah dan tradisi yang panjang misalnya, akan lebih menarik jika diringkas menjadi slogan-slogan ini: “Tiga Jurus menjadi Muslim”, “Empat T Meraih Surga”, “Anda Bertanya Agama Menjawab”. Buku-buku agama yang memberi jawaban praktis, ringkas, dan sederhana laris manis. Sedang buku-buku yang “serius” terjun bebas.

 

Saya tak sedang memvonis bahwa sesuatu yang praktis, simpel, dan sederhana itu buruk. Ini manusiawi. Di Islam misalnya, cara pandang ini seolah mendapat cantolannya lewat satu perkataan Nabi Muhammad yang cukup populer: al-Islâm dîn samîh, Islam itu agama sederhana –doktrin yang oleh kaum islamis dijadikan pijakan untuk mempopulerkan cara beragama yang simplistis dan sedernaha.  

 

Yang justru hendak saya “permasalahkan” adalah bagaimana jika pemahaman semacam ini hadir sebagai gelombang besar yang menggilas cara pandang lain yang “serius”, kontemplatif, butuh penalaran lebih panjang, dan karenanya tak praktis lagi simpel; mentradisikan kita berpikir potong kompas dan menyederhanakan masalah yang sebetulnya tak sederhana?

 

Bagi saya, setidaknya akan ada dua tantangan nyata dari gejala ini. Pertama, merebaknya kedangkalan pemahaman keagamaan. Belakangan ini sering terdengar orang-orang  yang “tertipu” menyerahkan harta, ikatan keluarga, bahkan kerelaan melakukan tindak kriminal lantaran iming-iming surga dari sekelompok orang.

 

Kedangkalan juga membiasakan sebagian pemeluk agama menjadikan simbol-simbol keagamaan sebagai satu-satunya ukuran kemajuan. Kemajuan Islam atau Kristen misalnya diukur hanya dengan semaraknya acara-acara keagamaan di stasiun-stasiun teve, dan banjirnya produk-produk berlabel agama, seperti bank syariah atau perumahan islami.

 

Fakta-fakta itu tentu saja sah diajukan sebagai bukti kemajuan. Tapi berhenti hanya di situ sering membuat kita malas berpikir lebih dalam dan bertanya lebih jauh melampaui fenomena permukaan. Sesederhanakah itukah agama, institusi yang hadir dalam proses sejarah yang panjang dan berliku. Apa sesungguhnya yang tengah berlangsung, benarkah itu terjadi semata-mata ghirah keagamaan? Apa dampaknya buat kehidupan para pemeluk selanjutnya? Kita pun asyik bicara kulit sembari melupakan isi.

 

Tantangan kedua, merebaknya anarkisme agama. Ini tantangan paling mengkhawatirkan dari kedangkalan pemahaman. Juga terorisme. Sejumlah kasus kekerasan sepanjang 2004  hingga akhir tahun ini cukuplah menjadi bukti betapa kedangkalan itu menggejala. Penyerbuan dan pengrusakan Komplek Jemaat Ahmadiyah di Parung Juni 2005 dan Padepokan Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) di Probolinggo Mei 2005; terbunuhnya salah seorang anggota Yayasan Kharisma Usada Mustika (Yaskum) di Bobojong Bogor Akhir oktober 2006 atau penutupan beberapa gereja, adalah secuil cerita dari sederet kasus kekerasan di negeri ini.

Di sinilah saya kira pentingnya gerakan “melek agama” (religious literacy), sikap cerdas memaknai, mengembangkan, sekaligus menjalankan nilai-nilai keagamaan.

 

Itu bisa ditunjukkan dengan keberanian awal untuk terus berpikir, berefleksi, dan bertanya sejauh mungkin mengenai beragam masalah keagamaan. Cara inilah yang dilakukan orang-orang besar. Kisah Nabi Musa mencari tuhan dan ritual khalwat Nabi Muhammad dalam Islam misalnya adalah cara mereka bertanya dan berefleksi. Berhenti bertanya hanya akan menjadikan kita menjadi jumud yang senang pada hasil, lalu mengabaikan proses.

 

Ada tiga gugus yang bisa menjadi obyek lebih lanjut pengembangan kesadaran “melek agama”. Pertama, gugus institusi-institusi dan kekuasaan yang berpengaruh, berperan, dan memproduksi wacana serta corak keberagamaan. Di sini kita bisa memasukan ormas-ormas agama, negara, media, tokoh-tokoh agama, atau kekuasaan-kekuasaan lainnya. Di gugus ini melek agama diarahkan untuk cerdas melihat bagaimana konflik-konflik muncul dan berlangsung ketika institusi, kelompok, atau individu berusaha mempengaruhi pembentukan modal sosial dan wewenang siapa yang berhak menilai seseorang salah atau benar.

 

Kedua, gugus modal kultural (cultural capital) –secara sederhana bisa diartikan sebagai segala hal yang memiliki nilai-nilai simbolik atau cita rasa dari nila-nilai kultural serupa prestise, status, atau otoritas. Modal sosial memang tampak untouchable, tapi jelas menjadi atribut penting secara kultural. Ia yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak, apakah sesuatu itu dianggap bernilai atau tidak.

 

Nah, “melek agama” bisa dikembangkan dengan usaha menggali terus menerus bagaimana modal kultural keagamaan yang tak hadir begitu saja, dikembangkan dalam setiap babak sejarahnya. Dengan cara ini kita akan bisa lebih bersikap arif menyikapi perbedaan.

 

Produk pemikiran yang dangkal selalu melihat sejarah sebagai hal yang tunggal dan hadir sudah dari “sononya”. Kebiasaan kita berpikir, agama sekadar urusan hukum, dugaan saya, sering disebabkan karena kita tak terbiasa mengakses kekayaan informasi lain seperti seni, sejarah, spiritual dalam khazanah keagamaan. Sekadar contoh, dalam Islam pemahaman tentang produk hukum yang dikenal sebagai fikih dengan ushul fikih, ilmu tentang dasar-dasar pembentukan hukum Islam, jelas akan berimplikasi lain dalam memandang Islam. Ushul fikih jauh lebih lentur ketimbang fikih. Dengar saja satu kaidah ini. Al-ashlu fil al-`ibâdat wa al-mu`âmalât an-nazhru ila al-ilal wa al-mashâlih, hukum pokok dalam urusan ibadah dan muamalah adalah melihat konteks dan kebaikan-kebaikannya.

 

Gugus ketiga habitus, semacam pengetahuan yang selalu dikonstruksi lewat kebiasaan-kebiasaan; cara dimana kita memahami dunia, nilai-nilai dan kepercayaan. Habituslah yang mengatur kita ke arah nilai-nilai dan sikap-sikap tertentu. Habituslah yang mendorong kita secara tak sadar terbiasa membenci orang tanpa tahu alasan kuat mengapa mengapa itu mesti dibenci; terbiasa memvonis orang sesat dan menyelesaikan perbedaan dengan cara-cara kekerasan.

 

Tapi, habitus tak hadir dengan pasif. Ia dibentuk, dihadirkan, diatur atas pengaruh yang didesakan oleh apa yang disebut “cultural trajectories” atau lintasan-lintasan budaya yang kemudian kita terima saat ini. Dalam tradisi Islam, lintasan-lintas budaya itu jelas beragam dan amat kaya.

 

Di level ini gerakan “melek agama” semestinya dipraktikan dengan upaya serius memilah, meletakan, menilai, sekaligus membangun habitus-habitus yang sejalan dengan semangat zaman dan nilai-nilai agama. Dan sekarang saatnya membangun habitus “melek agama”, cerdas memaknai dan mengembangkan nilai-nilai agama di tengah menjamurnya kedangkalan beragama []

 

Depok, Desember 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s