Keluh

Hidup ini memang penuh kekontrasan. Setiap ada sisi terang, selalu tersedia ruang gelap. Setiap ada kegemberiaan selalu ada kesedihan dan keluh kesah.

 

Atmosfir ini begitu terasa di momen lebaran kali ini, sebuah momen merayakan kegembiraan dan kemenangan.

 

Setiba di kampung halaman dua hari paskalebaran, malam harinya saya berkunjung ke rumah tetangga dan sanak-saudara. Saling bermaafan dan sedikit berbagi kisah setelah hampir setahun tak berjumpa.

 

“Lebaran sekarang nda seperti tahun-tahun sebelumnya. Sepi. Banyak orang pada susah. Banyak yang nda ngelaut,” salah seorang tetangga membuka pembicaraan. “Untung masih ada proyek padat karya pembangunan sekolah dan puskesmas,” lanjutnya lagi. Mirisnya, dari seorang teman saya tahu, upah padat karya mereka ternyata hanya sebesar lima ribu perhari. Jumlah yang jauh dari cukup. 

 

Sejak setahun lalu, lebih dari separuh kapal nelayan besar sudah tak melaut. Padahal, satu kapal bisa memperkerjakan 40-an orang. Jadi jika ada tiga kapal yang tak melaut, itu artinya sekitar 120-an orang kelihangan pekerjaan.

 

Nelayan-nelayan kecil yang bisa melaut setiap hari juga didera keluhan. Sejak kenaikan BBM, penghasilan mereka makin berkurang. “Bahkan banyak ruginya,” keluh seorang nelayan yang saya temui di bibir pantai ketika tengah melabuhkan kapal motornya. 

 

Lain waktu, seorang saudara mengeluhkan air sumurnya yang berbau karena kemarau panjang. Seorang lainnya mengeluhkan air sumurnya yang terasa makin asin.

 

Saya kira, keluh-kesah itu tak hanya milik orang-orang kampung di saya. Di mana-mana kita dengar orang berkeluh kesah, justru ketika mereka diminta bergembira di hari raya.

 

Ada orang mengeluh tak bisa mudik, karena kampung halamannya diredam lumpur. Lainnya resah karena mesti berlebaran “bertemani” kabut asap dan hutan yang makin kerontang.

 

Berkeluh kesah tentu tak selalu negatif. Di saat beban hidup terasa berat, keluh kesah sangat dibutuhkan demi keseimbangan hidup. Jangan dipendam sendiri. Kita butuh berbagi dengan yang lain. Itu makanya profesi psikiater muncul. Mungkin itu pula yang membuat ibu saya sering menyelipkan rasa keluh kesah di antara sekian hal yang ingin ia ceritakan pada anak-anaknya. Keluh kesah bisa membuat beban hidup semakin ringan.

 

Di muka bumi ini tak ada manusia yang tak pernah berkeluh kesah. Itu sifat yang manusiawi. “Manusia itu diciptakan bersifat halû`an (keluh kesah),” seperti di sitir al-Qur’an. Nabi kita tak jarang harus berkeluh kesah kepada Allah ketika merasa beban hidupnya terasa begitu berat. Itu yang ia lakukan ketika orang-orang yang dicintai, isteri dan pamannya, meninggal dunia. Atau ketika usaha dakwahnya di kota Makkah seakan terhalang tembok besar.  

 

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Nuh, ketika melihat puteranya, Kan’an mati dalam keadaan kafir. Kepada Allah ia mengeluh “Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa”. Sesuatu yang bisa membuat Nabi Nuh lebih kuat menjalani hidup dan hal yang membuatnya makin sadar bahwa ia manusia. [] 

 

Dimuat Majalah Syirah edisi 59/VI/Agustus/2006

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s