Profil

Alamsyah

Dari atas pesawat komersil dari dan menuju bandara Soekarno Hatta, Jakarta, kampungku hanyalah sebuah garis di antara ratusan garis dan titik yang tersebar antara Jawa dan Kalimantan. Pulau Tidung Kepulauan Seribu, kampungku, adalah garis dimana hidup ini dimulai dan mungkin berakhir.

19 Nopember 1979 adalah masa awal hidupku. Orang tuaku memberi nama cukup singkat: Alamsyah. Tak terang mengapa mereka memilih nama itu. Mungkin saja karena Bapak pengagum Alamsyah Ratu Prawiranegara, salah seorang tokoh nasional republik ini. Mungkin juga tidak, entahlah.

Nama M. Dja’far yang kusandang di belakang Alamsyah sekarang ini adalah nama Bapak. Kusandang tak lama setelah ia meninggal di Mekkah saat musim Haji tahun 1997, peristiwa yang menjadi garis selanjutnya dalam hidupku. Di momen itu aku sangat sadar apa artinya memiliki setelah merasakan kehilangan..

Aku bangga menggunakan nama ini, sahabat. Jauh lebih bangga ketimbang menulis gelar Sarjana Sosial Islam yang kuperoleh di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Bapak yang mengajarkanku kebersahajaan; Bapak yang memperkenalkanku khazanah keislaman yang begitu luas, begitu moderat, sekaligus konfliktual; Bapak yang menyadarkanku bahwa membaca dan mendaras ilmu hingga akhir hayat walau tinggal di pulau terpencil dan senyap dengan berbagai keterbatasan adalah sesuatu yang menyenangkan dan perlu. Bapakku Muhammad Dja’far bin Haji Fathullah, di singkat M. Dja’far HF

Sejak sekolah dasar hingga Madrasah Tsanawiyah (sekolah setingkat SLTP), masa kecil dan remaja kuhabiskan di pulau ini. Sejak pukul 07.00 hingga pukul 12.00 aku belajar di Sekolah Dasar 05 Pagi. Siangnya belajar di Madrasah Ibtidaiyah al-Islah Islamiyah dimana orang kampung terbiasa menyebutnya sekolah Arab. Selepas Magrib aku masih harus mengaji lagi di Ibu Maryam. Menghafal alif, ba, ta hingga tamat Juz Amma dan berlanjut ke al-Quran besar, sebutan untuk al-Quran dari juz awal hingga juz ke-29.

Tahukah sahabat, apa yang paling menyenangkan buat anak-anak seusia kami di masa-masa itu? Berenang di laut pulau kami yang biru dan rekreasi ke Darat, sebutan untuk pulau Jawa saat liburan sekolah tiba adalah dua hal yang membuat hati kami begitu sumringah.

Garis hidupku bertambah lagi saat masuk Pondok Pesantren Ashidiqiyyah Jakarta Barat. Tiga tahun kuhabiskan hidupku di sini bersama tumpukan kitab-kitab kuning dan buku-buku pelajaran Madrasah Aliyah. Di masa-masa antara 1995-1997 itu, pagar tembok yang memeluk pesantren bagiku seperti batas antara “kesengsaraan” dan “kesenangan”, antara dunia “kami” dan “mereka”, antara “imajinasi” dan “kenyataan”. Tapi dunia pesantren jelas memberiku banyak pengalaman dan ikatan kultural yang unik.

Horizon yang lebih luas sebetulnya kuperoleh di Ciputat, wilayah di selatan Jakarta yang berbatasan dengan Lebak Bulus dan Parung. Pendidikan formal memang kuperoleh dari UIN. Tapi Ciputat memberi lebih banyak dari itu: dunia organisasi, kajian intelektual, jurnalisme, primordialisme, komunalisme, dan tentu saja percintaan yang membawaku pada dunia baru: rumah tangga.

Di Ciputat ada masa di mana hidupku dimulai dari malam-malam yang menggairahkan. Kami menggosip tentang Hannah Arend seperti tayangan infotainment menguliti seorang selebriti yang punya affair dengan putera mantan penguasa negeri ini. Seperti orang yang paling faham tentang problematika dunia Timur Tengah, kami mengkritik gagasan kiri Islam-nya Hassan Hanafi di hadapan pemilik warung kopi yang menelan ludah lantaran daftar piutangnya makin bertambah. Ciputat mengantarkanku beraktivitas pada Lembaga Pers Mahasiswa Institute, Lingkar Studi Piramida Circle, PMII Komfakda dan PMII Cabang Ciputat.

9 Mei 2004 aku menyunting Noviyana, adik kelasku di Fakultas Dakwah. Gadis kelahiran Jakarta 15 November 1981 ini yang membuat hidupku kini makin berwarna; perempuan yang tak jemu-jemu mengingatkanku supaya tak telat makan dan jangan terlalu banyak bergadang.

Setelah hampir setahun menjadi freelancer dan kontributor beberapa media, saat ini aku bergiat di the Wahid Institute, lembaga yang berusaha memperjuangkan isu-isu toleransi dan perdamaian di Tanah Air dan dunia internasional. Organisasi ini lahir dengan cita-cita melanjutkan pemikiran dan gagasan besar Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 dan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dalam bidang pluralisme, perdamaian, dan demokratisasi. Sebelum bekerja di lembaga ini, aku menjadi salah satu kontributor wilayah Jakarta Monthly Report the Wahid Institute, media bulanan yang memonitoring isu-isu agama di Tanah Air sejak akhir tahun 2007.

Pada 2008 sempatmenggarap sebuah penelitian tentang gerakan Islam di Indonesia, dan terlibat sebagai Project Officer Asia Calling Forum Islam dan Demokrasi di Asia Selatan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Sebelumnya, bersama sejumlah teman aku mendirikan dan mengelola majalah Syirah, media yang kami rintis sejak tujuh tahun lalu. Februari 2007 majalah ini terpaksa tutup karena alasan klasik: pendanaan yang cekak.

Di sela-sela kesibukan, aku makin menyukai dunia desain dan tata letak. Dunia baru yang membuat otak kananku bekerja. Lucunya ada teman dan pihak-pihak yang mempercayakan untuk mengerjakan beberapa produk terbitan mereka. Lihat di sini….

Sahabat, inilah garis hidupku saat ini. Garis yang terbentuk dari titik-titik, tak selalu linear, penuh teka-teki….

19 Tanggapan ke “Profil”

  1. wah blognya bagus… selamat :)

  2. Terima kasih komentarnya… Tapi pasti tak sebagus blognya Pak Huda yaang ramai dikunjungi. Jadi saya perlu belajar banyak dengan Pak Huda

  3. Nice blog, Lam. Congrats. Desain sederhana tapi enak di mata. Aku link di blogku…

    Hmm, catatan-catatan pengalaman kayaknya perlu lebih banyak posting deh, Lam. Seru, narasinya menarik.

  4. Thx Ba, udah mau mampir. Saya baru aja belajar blog, beberapa bulan belakangan. Mau ikut jejak ente yang sudah lebih dulu buat blog dengan fasilitas yang terbaru. Jadi nanti jangan bosen kalau saya banya ke nanya ente deh… he..he.. Maklum, dari dulu gatek melulu.

  5. dedidudedo Berkata

    salamkenal untuk alam…..saya kagum akan tulisan anda,saya harus banyak belajar dari anda….selamat !

  6. Salam kenal juga Pak Dedi! Blog Bapak saya temukan saat saya berselancar di mesin pencari Paman Google yang baik hati dan banyak tahu dengan keyword “pulau seribu”. Membaca tulisan-tulisan Bapak tentang pulau seribu, sepertinya saya merasa tengah berada di atas sampan menyusuri gudus-gudus hingga ke Pulau Tidung Kecil. Selamat berjuang Pak Dedi!

  7. Bung, saya terharu membaca garis gidupmu. uhu-uhu-uhu-uhu….
    Cara kamu menulis, mengingatkanku pada Yasika, salah satu stasiun radio beken di Yogyakarta. Tiap Senin hingga Jumat, radio itu membacakan kisah-kisah -kebanyakan kisah cinta- dari pembaca yang saya duga usia SMA, orang sering menyabut usaia ABG. Nah, gaya tulisanmu itu seperti surat-surat mereka.

    Tapi, hebat kok. Kalau garis hidupmu ditulis 99 halaman lagi kan jadi otobiografi, seperti almarhum Kiai Saifudin Zuhir menulis (Guruku Orang-orang dari Pesantren) sejarah dirinya, orang-orang terdekatnya, komunitasnya, dan bangsanya.

    Semoga, Bung. Selamat.

    Salam

  8. Terima kasih komenternya bung. Kalau begitu jadi muda lagi dong, selevel “ABG”. he..he..

    Salam

  9. Bagus Blognya, sederhana dan enak dibaca.

    Salam kenal dari kami
    http://www.pulauseribu.net

  10. om alamsyah, untuk tulisan om yang berjudul Muroami kami tayangkan di website http://www.pulauseribu.net semoga om alam berkenan

    Salam kami
    tim http://www.pulauseribu.net

  11. Bung Roy yang baik, terima kasih sudah mau memuat salah satu tulisan saya di web pulauseribu.net. Kaget juga, konfirm saya belum keluar tulisannya kok sudah muncul di web (he..he..).

    Belakangan ini rasanya saya sering mengunjungi web pulauseribu.net. Kalau tak salah, ini satu-satunya media online yang mengupas kehidupan kepulauan seribu. Saya berharap pulauseribu menjadi media independen yang tak sekadar media informasi tapi juga penyambung aspirasi masyarakat.

    Bung Roy, tulisan itu sebetulnya tak dimaskudkan sebagai kolom. Ini tulisan lepas yang mungkin lebih mirip fiksi berisi pandangan, kisah, amatan saya mengenai kehidupan di Pulau Seribu, khususnya pulau tidung. Saya menulisnya secara bersambungan di sela-sela waktu. Ini mungkin seperti diare pribadi yang sayang kalau tak didokumentasikan.

  12. walah sahabat seperjuangan nih ya??
    salam kenal
    tukeran links blog nya ya?

  13. Wah setelah muter-muter akhirnya ketemu juga nich. Sahabat gimana punya kabar?

    Tulisannya Bagus lho. Saya bacanya sampe mau nangis nich, saking syahdunya. Mendayu-ndayu kaya lagu-lagu dangdut lho!

    salam,

    edhenk

    Oya blognya tak link ya!
    link balik ya!

  14. Aih. Mas Edhenk, apa kabar? saya juga sempat tanya ke paman google alamat blog teman-teman tapi rupanya belum jodoh. makasih sudah mampir ke blog ini. Saya link alamat blog sampeyan ya.

  15. Hallo, Bang Alam, masih inget? Gimana kabar Bang Alam dan istri?

  16. Hallo Makki, apa Kabar juga? Saya pasti masih ingat. Apa aktivitas sekarang? Apa Sudah berkeluarga?

  17. Sampe sekarang saya masih setia menjadi istri kedua bang Pacun.
    Kalau soal keluarga, masa orang semuda ini harus menjamin komitmen yang begitu serius dengan orang lain! hahahaha.

  18. la nashia Berkata

    subhanAllah, profilnya gak ngebosenin.seru!
    : )

  19. la nashia Berkata

    kak,kasitaw dong cara kak aku dpt tugas dr sekolah,.
    cara mengkritik esay gimana ya kak? disuruh bikin makalah ttg itu..
    Kritik dan esai
    · Ciri-ciri kritik dan
    esai
    · Perinsip penulisan
    kritik dan esai
    Pengembangan
    gagasan atau
    pendapat untuk
    menulis kritik dan
    esai
    · Ciri-ciri kritik dan
    esai
    · Perinsip penulisan
    kritik dan esai
    · Cara menulis kritik
    dan esai.

    kak kasitahu ya kak ke la_nashia@ymail.com

    ..pliss bgt,,..bingung nyarinya dimana..makasih kak

    tolong ya kak : )

Tinggalkan Balasan